BIMBINGAN DAN KONSELING

SMA NEGERI 20 SURABAYA

Jl. Medokan Semampir No.119 Sukolilo Kota Surabaya Kode POS 60119
No.Telp. 031 593 5720 Faxmile. 031 591 0817
E-Mail : [email protected]

Daftar Isi Post New Entry

SURAT PALSU BINTEK ON-LINE AKREDITASI

Posted by adminbk on December 8, 2014 at 11:50 PM Comments comments (0)

BADAN AKREDITASI NASIONAL

SEKOLAH/MADRASAH

Komplek Ditjen Mandikdasmen Kemdikbud RI, Gedung F. Lantai 2

Alamat: Jl. RS. Fatmawati - Cipete, Jakarta Selatan. Telp/Fax : (021) 46290157


Nomor      : B.577/BAN-SM/BT/XII/2014                                                    Jakarta, 05 Desember 2014

Lampiran : 1 (satu) lembar

Perihal     : Bimtek Pelaksanaan Akreditasi On-Line


Kepada Yth,

Kepala/guru Sekolah,

di,-

T e m p a t.

Mengacu pada Permendiknas No. 59/2012 sebagai perubahan Permendiknas No. 28/2005 tentang

BAN-PT, Permendiknas No 30/2005 tentang BAN-PNF,dan Permendiknas No 29/2005 tentang BAN-S/M dalam kaitannya dengan upaya peningkatan mutu pendidikan nasional secara bertahap, terencana, terukur, serta untuk mewujudkan pelaksanaan Akreditasi Sekolah/Madrasah secara obyektif, adil, professional, komprehensif, dan transparan, sebagai bentuk akun tabilitas publik yang diharapkan dapat tercapai dalam kesatuan jenjang pendidikan, khususnya terhadap Pendidikan Dasar dan Menengah berdasarkan Permendiknas No. 11/2009 tentang Akreditasi SD/MI, Permendiknas No. 12/2009 tentang Akreditasi SMP/MTs, Permendiknas No. 13/2009 tentang Akreditasi SMK/MAK dan Permendiknas No. 52/2008 tentang Akreditasi SMA/MA.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, pihak BAN-S/M mengundang para Kepala Sekolah atau Guru untuk mengikuti berbagai program sosialisasi kebijakan melalui kegiatan :

“BIMBINGAN TEKNIS PELAKSANAAN AKREDITASI SECARA ON-LINE 2015”

(Sambutan Pembukaan : Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI)

Acara akan diselenggarakan pada hari Rabu – Kamis tanggal 10 - 11 Desember 2014, pukul 09.00 Wita, s.d. 15.00 Wita, di Hotel Nusa Dua Bali, Jl Pantai Mangiat Complex BTDC Bali.

Mengingat peserta yang diundang terbatas (Maksimal 34 Peserta) maka diharapkan segera mendaftarkan diri selambat-lambatnya 1 atau 2 hari setelah surat yang bersifat Undangan ini diterima dengan menghubungi secara langsung Kabag Registrasi :Drs. HM. Indra Subekti, M.Pd melalui No.Hp. 0813 1638 9438.

Biaya penyelenggaraan kegiatan, bersumber dari Anggaran DIPA BAN-S/M Kemdikbud RI, termasuk Bantuan Laptop dan biaya Transportasi/Akomodasi Hotel yang akan ditransfer langsung ke Rekening Bank masing-masing peserta.

Demikian untuk maklum, atas perhatian dan kehadirannya diucapkan terima kasih.


A.n. Ketua BAN-S/M Kemdikbud RI

Panitia Bimtek PelaksanaanAkreditasi

 

Ir.Widodo Sulistyo,M.Pd

K e t u a


Tembusan:

1. Yth. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI.

2. Yth. Dirjen Mandikdasmen Kemdikbud RI.

3. Yth. Ketua BAN-SM Kemdikbud RI.

4. Yth. Dinas Pendidikan Provinsi.

5. A r s i p,-

 

Inilah Bunyi Surat Edaran Penghentian Kurikulum 2013

Posted by adminbk on December 7, 2014 at 9:00 PM Comments comments (0)

Nomor : 179342/MPK/KR/2014 5 Desember 2014

Hal : Pelaksanaan Kurikulum 2013

Yth. Ibu / Bapak Kepala Sekolah

di

Seluruh Indonesia

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita semua.

Semoga Ibu dan Bapak Kepala Sekolah dalam keadaan sehat walafiat, penuh semangat dan bahagia saat surat ini sampai. Puji dan syukur selalu kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat dan hidayahnya pada Ibu dan Bapak serta semua Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang telah menjadi pendorong kemajuan bangsa Indonesia lewat dunia pendidikan.

Melalui surat ini, saya ingin mengabarkan terlebih dahulu kepada Kepala Sekolah tentang Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan pelaksanaan Kurikulum 2013, sebelum keputusan ini diumumkan kepada masyarakat melalui media massa.

Sebelum tiba pada keputusan ini, saya telah memberi tugas kepada Tim Evaluasi Implementasi Kurikulum 2013 untuk membuat kajian mengenai penerapan Kurikulum 2013 yang sudah berjalan dan menyusun rekomendasi tentang penerapan kurikulum tersebut ke depannya.

Harus diakui bahwa kita menghadapi masalah yang tidak sederhana karena Kurikulum 2013 ini diproses secara amat cepat dan bahkan sudah ditetapkan untuk dilaksanakan di seluruh tanah air sebelum kurikulum tersebut pernah dievaluasi secara lengkap dan menyeluruh.

Seperti kita ketahui, Kurikulum 2013 diterapkan di 6.221 sekolah sejak Tahun Pelajaran 2013/2014 dan di semua sekolah di seluruh tanah air pada Tahun Pelajaran 2014/2015. Sementara itu, Peraturan Menteri nomor 159 Tahun 2014 tentang evaluasi Kurikulum 2013 baru dikeluarkan tanggal 14 Oktober 2014, yaitu tiga bulan sesudah Kurikulum 2013 dilaksanakan di seluruh Indonesia.

Pada Pasal 2 ayat 2 dalam Peraturan Menteri nomor 159 Tahun 2014 itu menyebutkan bahwa Evaluasi Kurikulum bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai:

1. Kesesuaian antara Ide Kurikulum dan Desain Kurikulum;

2. Kesesuaian antara Desain Kurikulum dan Dokumen Kurikulum;

3. Kesesuaian antara Dokumen Kurikulum dan Implementasi Kurikulum; dan

4. Kesesuaian antara Ide Kurikulum, Hasil Kurikulum, dan Dampak Kurikulum.

Alangkah bijaksana bila evaluasi sebagaimana dicantumkan dalam pasal 2 ayat 2 dilakukan secara lengkap dan menyeluruh sebelum kurikulum baru ini diterapkan di seluruh sekolah. Konsekuensi dari penerapan menyeluruh sebelum evaluasi lengkap adalah bermunculannya masalah-masalah yang sesungguhnya bisa dihindari jika proses perubahan dilakukan secara lebih seksama dan tak terburu-buru.

Berbagai masalah konseptual yang dihadapi antara lain mulai dari soal ketidakselarasan antara ide dengan desain kurikulum hingga soal ketidakselarasan gagasan dengan isi buku teks. Sedangkan masalah teknis penerapan seperti berbeda-bedanya kesiapan sekolah dan guru, belum meratanya dan tuntasnya pelatihan guru dan kepala sekolah, serta penyediaan buku pun belum tertangani dengan baik. Anak-anak, guru dan orang tua pula yang akhirnya harus menghadapi konsekuensi atas ketergesa-gesaan penerapan sebuah kurikulum. Segala permasalahan itu memang ikut melandasi pengambilan keputusan terkait penerapan Kurikulum 2013

kedepan, namun yang menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan ini adalah kepentingan anak-anak kita.

Maka dengan memperhatikan rekomendasi tim evaluasi implementasi kurikulum, serta diskusi dengan berbagai pemangku kepentingan, saya memutuskan untuk:

1. Menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang baru menerapkan satu semester, yaitu sejak Tahun Pelajaran 2014/2015. Sekolah-sekolah ini supaya kembali menggunakan Kurikulum 2006. Bagi Ibu/Bapak kepala sekolah yang sekolahnya termasuk kategori ini, mohon persiapkan sekolah untuk kembali menggunakan Kurikulum 2006 mulai semester genap Tahun Pelajaran 2014/2015. Harap diingat, bahwa berbagai konsep yang ditegaskan kembali di Kurikulum 2013 sebenarnya telah diakomodasi dalam Kurikulum 2006, semisal penilaian otentik, pembelajaran tematik terpadu, dll. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi guru-guru di sekolah untuk tidak mengembangkan metode pembelajaran di kelas. Kreatifitas dan keberanian guru untuk berinovasi dan keluar dari praktik-pratik lawas adalah kunci bagi pergerakan pendidikan Indonesia.

2. Tetap menerapkan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang telah tiga semester ini menerapkan, yaitu sejak Tahun Pelajaran 2013/2014 dan menjadikan sekolah-sekolah tersebut sebagai sekolah pengembangan dan percontohan penerapan Kurikulum 2013. Pada saat Kurikulum 2013 telah diperbaiki dan dimatangkan lalu sekolah-sekolah ini (dan sekolah-sekolah lain yang ditetapkan oleh Pemerintah) dimulai proses penyebaran penerapan Kurikulum 2013 ke sekolah lain di sekitarnya. Bagi Ibu dan Bapak kepala sekolah yang sekolahnya termasuk kategori ini, harap bersiap untuk menjadi sekolah pengembangan dan percontohan Kurikulum 2013. Kami akan bekerja sama dengan Ibu/Bapak untuk mematangkan Kurikulum 2013 sehingga siap diterapkan secara nasional dan disebarkan dari sekolah yang Ibu dan Bapak pimpin sekarang. Catatan tambahan untuk poin kedua ini adalah sekolah yang keberatan menjadi sekolah pengembangan dan percontohan Kurikulum 2013, dengan alasan ketidaksiapan dan demi kepentingan siswa, dapat mengajukan diri kepada Kemdikbud untuk dikecualikan.

3. Mengembalikan tugas pengembangan Kurikulum 2013 kepada Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pengembangan Kurikulum tidak ditangani oleh tim ad hoc yang bekerja jangka pendek. Kemdikbud akan melakukan perbaikan mendasar terhadap Kurikulum 2013 agar dapat dijalankan dengan baik oleh guru-guru kita di dalam kelas, serta mampu menjadikan proses belajar di sekolah sebagai proses yang menyenangkan bagi siswa-siswa kita.

Kita semua menyadari bahwa kurikulum pendidikan nasional memang harus terus menerus dikaji sesuai dengan waktu dan konteks pendidikan di Indonesia untuk mendapat hasil terbaik bagi peserta didik. Perbaikan kurikulum ini mengacu pada satu tujuan utama, yaitu untuk meningkatkan mutu ekosistem pendidikan Indonesia agar anak-anak kita sebagai manusia utama penentu masa depan negara dapat menjadi insan bangsa yang: (1) beriman dan bertakwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, mandiri, demokratis, bertanggung jawab; (2) menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan (3) cakap dan kreatif dalam bekerja. Adalah tugas kita semua untuk bergandengan tangan memastikan tujuan ini dapat tercapai, demi anak-anak kita.

Pada akhirnya kunci untuk pengembangan kualitas pendidikan adalah pada guru. Kita tidak boleh memandang bahwa pergantian kurikulum secara otomatis akan meningkatkan kualitas pendidikan. Bagaimanapun juga di tangan gurulah proses peningkatan itu bisa terjadi dan di tangan Kepala Sekolah yang baik dapat terjadi peningkatan kualitas ekosistem pendidikan di sekolah yang baik pula. Peningkatan kompetensi guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan akan makin digalakkan sembari kurikulum ini diperbaiki dan dikembangkan.

Pada kesempatan ini pula, saya juga mengucapkan apreasiasi yang setinggi-tingginya atas dedikasi yang telah Ibu dan Bapak Kepala Sekolah berikan demi majunya pendidikan di negeri kita ini. Dibawah bimbingan Ibu dan Bapak-lah masa depan pendidikan, pembelajaran, dan pembudayaan anak-anak kita akan terus tumbuh dan berkembang. Semoga berkenan menyampaikan salam hangat dan hormat dari saya kepada semua guru dan tenaga kependidikan di sekolah yang dipimpin oleh Ibu dan Bapak. Bangsa ini menitipkan tugas penting dan mulia pada ibu dan bapak sekalian untuk membuat masa depan lebih baik. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melindungi kita semua dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan kebudayaan nasional.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jakarta, 5 Desember 2014

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,

Anies Baswedan

 

Contoh Silabus dan RPP Kurikulum 2013

Posted by adminbk on September 24, 2013 at 2:10 AM Comments comments (22)

Salah satu perbedaan yang cukup signifikan antara Kurikulum 2006 (KTSP) dengan Kurikulum 2013 yaitu berkaitan dengan perencanaan pembelajaran. Dalam Kurikulum 2006, kegiatan pengembangan silabus merupakan kewenangan satuan pendidikan, namun dalam Kurikulum 2013 kegiatan pengembangan silabus beralih menjadi kewenangan pemerintah, kecuali untuk mata pelajaran tertentu yang secara khusus dikembangkan di satuan pendidikan yang bersangkutan.

Meski tidak lagi direpotkan membuat silabus sendiri (diambil alih kewenangan guru?), seorang guru tetap saja dituntut untuk dapat memahami seluruh pesan dan makna yang terkandung dalam silabus, terutama untuk kepentingan operasionalisasi pembelajaran. Oleh karena itu, upaya telaah (kajian) silabus tampak menjadi penting, baik dilakukan secara mandiri maupun kelompok (khususnya melalui kegiatan bedah silabus dalam forum MGMP), sehingga diharapkan para guru dapat memperoleh perspektif yang lebih tajam, utuh dan komprehensif dalam memahami  seluruh isi silabus yang telah disiapkan tersebut.

Sementara untuk penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Rencana Kegiatan Harian) tampaknya masih tetap menjadi kewenangan dari guru yang bersangkutan, yaitu dengan berusaha mengembangkan dari Buku Babon (termasuk silabus) yang telah disiapkan pemerintah.

Yang membuat penasaran dan mungkin sering menggoda fikiran kita, kira-kira seperti apakah RPP yang sejalan dengan semangat dan prinsip-prinsip pembelajaran yang dikehendaki oleh Kurikulum 2013?  Saya beruntung menemukan sebuah model RPP yang bisa kita jadikan referensi. Model ini saya peroleh dari komunitas FaceBook Ikatan Guru Indonesia, hasil Seminar Kurikulum 2013 yang diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) di Surabaya, 17 Maret 2013.

Memperhatikan contoh silabus dan RPP yang diajukan ini, saya melihat ada nuansa yang berbeda dengan RPP yang dikembangkan selama ini, diantaranya:

Langkah-langkah pembelajaran tidak lagi mencantumkan secara eksplisit dan detil tentang siklus eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, tetapi telah terbingkai secara utuh, dengan merujuk pada metode pembelajaran yang dipilih.Nilai-nilai dalam pendidikan karakter tidak hanya sekedar “ditempelkan” dalam rumusan tujuan atau langkah-langkah pembelajaran.Dan yang paling utama, pendekatan pembelajaran yang hendak dikembangkan telah menggambarkan sebuah proses pembelajaran yang lebih mengedepankan peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya. Sementara guru  lebih banyak menampilkan perannya sebagai pembimbing dan fasilitator belajar siswa (lihat langkah-langkah dalam kegiatan inti).=======

Anda ingin mengunduh Model Silabus dan RPP tersebut? Silahkan klik tautan di bawah ini:

Contoh Silabus dan RPP Kurikulum 2013

 

Apa Digital Citizenship itu?

Posted by adminbk on September 24, 2013 at 2:05 AM Comments comments (0)

Konsep Digital Citizenship muncul seiring dengan semakin dahsyatnya perkembangan teknologi informasi dan internet yang ditopang dengan kehadiran berbagai situs jejaring, baik dalam bentuk macroblog maupun microblog. Saat ini, ratusan juta orang dari berbagai belahan dunia telah memanfaatkan kehadiran situs jejaring sebagai ajang untuk saling interaksi antara satu individu dengan individu lainnya secara digital. Mereka bergabung dan membentuk komunitas-komunitas tertentu untuk saling berbagi informasi dan memanfaatkan berbagai konten yang didistribusikan, baik  dalam bentuk video, e-book, gambar, dan lain-lain.

Penggunaan situs jejaring di Indonesia tampak menunjukkan perkembangan yang signifikan dan telah merambah hampir semua lapisan kalangan, mulai dari presiden, politisi, selebriti, akademisi, hingga masyarakat awam, termasuk di dalamnya anak-anak kita. Hingga tahun 2012,  dilihat dari angka pertumbuhan pengguna, Indonesia tercatat sebagai negara terbesar keduang,setelah India, dan diperkirakan mencapai angka pertumbuhan sekitar 51.6% . (popsurvey.net). 

Facebook tampaknya masih menjadi pilihan favorit dan menempati urutan pertama sebagai situs jejaring yang banyak digunakan masyarakat, disusul Twitter pada urutan kedua. Berdasarkan data yang dimiliki Kementerian Komunikasi dan Informatika, total ada sekitar 43,06 juta orang yang menggunakan situs jejaring sosial Facebook (AntaraNews.com).  Mereka yang memanfaatkan dan bergabung dalam berbagai situs jejaring itulah yang kemudian membentuk hadirnya konsep Digital Citizenship.

Lantas, apa sesungguhnya Digital Citizenship itu? Teachthought.com memberikan rumusan tentang Digital Citizenship sebagai “the quality of an individual’s response to membership in a community”. Sementara, digitalcitizenship.net  memberikan pengertian Digital Citizenship sebagai “the norms of appropriate, responsible behavior with regard to technology use”. Rumusan dari  Teachthought.com lebih berkaitan dengan penggunaan jejaring sosial, sedangkan digitalcitizenship.net memberikan pengertian Digital Citizenship dalam konteks penggunaan teknologi yang lebih  luas. Dari kedua rumusan tersebut tampak bahwa Digital Citizenship menunjuk pada kualitas perilaku individu dalam berinteraksi di dunia maya, khususnya dalam jejaring sosial, dengan menunjukkan perilaku yang bertanggung jawab, sesuai dengan norma dan etika yang berlaku.

Digital Citizenship berhubungan dengan kemampuan mengelola dan memonitor perilaku dalam menggunakan teknologi, yang didalamnya terkandung keamanan, etika, norma, dan budaya.

Bagaimana seharusnya kita memanfaatkan teknologi informasi secara aman, tidak menimbulkan kerugian dan membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain.Bagaimana seharusnya kita berkomunikasi di jejaring sosial dengan tetap menjaga etika, mengacu pada norma-norma yang berlaku di lingkungan internal,  nasional maupun universal.Bagaimana seharusnya kita bertransaksi informasi di dunia maya, terutama dalam mengunggah/mengunduh konten dan bertransaksi  melaui online shop.Melihat perkembangan penggunaan internet dan situs jejaring di Indonesia yang demikian pesat, di satu sisi bisa dikatakan sebagai suatu kemajuan, –setidaknya masyarakat sudah belajar untuk mengenal teknologi, tetapi di sisi lain menimbulkan keprihatinan tersendiri, khususnya bila dikaitkan dengan Digital Citizenship ini. Budiono Darsono, Pemimpin Redaksi Detikcom, menyebutkan penggunaan situs jejaring sosial di Indonesia mengalami tantangan bahwa masih banyak yang menggunakan untuk hal-hal kurang produktif. (Kompas.com).

Situs jejaring ditengarai kerap digunakan sebagian orang atau kelompok tertentu untuk mencerca dan mencemarkan nama baik orang lain. Jika Anda sempat mengikuti komentar-komentar yang  ada di berbagai media online, khususnya yang terkoneksi ke situs jejaring sosial, Anda bisa menemukan puluhan atau ratusan komentar yang menggambarkan betapa masih perlunya peningkatan pemahaman dan kesadaran akan Digital Citizenship ini.

Untuk menjadi warga digital (Digital Citizen) yang sehat dan bermartabat tentu diperlukan edukasi tersendiri. Di sekolah, siswa perlu dibelajarkan dalam mengakses berbagai informasi melalui internet secara benar dan mampu berkomunikasi secara beradab dalam situs jejaring yang diikutinya. “Digital Citizenship must become part of our school culture—not just a class or lesson but the way we do business in education”, demikian saran dari Mike S. Ribble dan Gerald D. Bailey.  Di lain pihak, Agus Sampurno dalam blog yang dikelolanya mengingatkan kepada kita tentang pentingnya pendidik untuk  menjaga keselamatan siswa di internet.

 

Tanggung Jawab dan Peran Orang Tua dalam Pendidikan

Posted by adminbk on February 27, 2012 at 1:35 AM Comments comments (0)

Peran Orang Tua

Kisruhnya pendidikan di republik ini berkaitan dengan lemahnya peranan orang tua dan masyarakat. Pendidikan diserahkan hampir sepenuhnya kepada pemerintah.Minim perhatian terhadap apa yang terjadi di seputar pendidikan baik itu guru, kurikulum dan metode pengajaran. Tidak heran pendidikan di republik ini menghasilkan manusia-manusia yang tidak sesuai dengan harapan.

 

Peran orang tua dalam pendidikan tidak bisa dilepaskan dari tugas manusia secara umum. Dari sejarah dapat dilihat bahwa tugas pokok manusia tersimpan dalam kutipan berikut, "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.

Bila dipilah, tugas pertama manusia adalah beranak cucu dan bertambah banyak. Manusia diberi mandat untuk mempunyai keturunan yang berkualitas; baik rohani, intelek, emosi, kehendak dan phisik yang sehat. Dengan kata lain, manusia diperintahkan untuk menghasilkan manusia yang seutuhnya, yaitu manusia yang mirip dengan Penciptanya. Hati, pikiran, emosi, kehendak dan tindakannya seirama dengan hati, pikiran, emosi, kehendak dan tindakan Penciptanya. Ada kemiripan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Pikiran dan tindakan manusia merupakan derivatif dari pikiran dan tindakan Tuhan.

 

Tugas manusia yang kedua adalah memenuhi dan menaklukkan bumi dan menguasai yang ada di dalamnya. Ada hubungan yang tidak terpisahkan antara tugas yang pertama dan yang kedua. Dengan bertambahnya keturunan manusia yang "seutuhnya", diharapkan daerah-daerah yang kosong dapat dihuni, dikuasai, dan dipelihara. Ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi ada dalam kuasa mereka. Mereka harus merawat lingkungan di mana mereka hidup, memelihara tanah agar tetap baik dan subur, menjaga binatang agar tetap lestari. Dengan kata lain, manusia diberi kuasa untuk memelihara dan mengembangkan bumi dan segala isinya.

 

Dalam kedua tugas itu sudah tersimpan esensi pendidikan. Peran orang tua sangat besar dalam mendidik anaknya dan merupakan hal yang alami. Seorang ibu yang melahirkan anak menjaga dan memeliharanya dengan baik. Ibu menyusui anaknya; orang tua memperkenalkan alam kepada anaknya: bunga di halaman rumah, burung dalam sangkar dan yang lain-lain. Mereka terus mendidik anaknya dengan sabar agar dapat mengucapkan kata, berbicara, makan dan berjalan sendiri. Mereka mengenalkan alam kepada anaknya dan memberikan contoh bagaimana melakukan tugas sehari-hari di rumah: mencuci piring, memasak, membersihkan rumah dan sebagainya. Bahkan sampai menginjak dewasa, orang tua masih terus mendidik anaknya agar menjadi anak yang mandiri dan matang, dan dapat menjalani hidupnya sendiri. Selain itu, orang tua memberikan nilai-nilai etis: apa yang baik dan yang tidak baik bagi masyarakat.

 

Apa yang diberikan orang tua kepada putra-putrinya merupakan esensi dari pendidikan secara umum. Orang tua bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya. Orang tua mendidik anaknya tentang prinsip hidup; bagaimana anak seharusnya hidup; bagaimana anak berinteraksi kepada Penciptanya, sesaama manusia dan alam. Meminjam istilah para filosof, orang tua mengajarkan kebenaran kepada putra-putrinya.

Apakah peran orang tua masih dominan dalam pendidikan anak-anaknya sekarang? Tugas itu, bila tidak semuanya, hampir semua sudah diambil alih oleh pemerintah. Hak mendidik anak yang seharusnya merupakan tanggung jawab orang tua, sekarang ada di tangan pemerintah. Pemerintah menentukan kebijakan-kebijakan dalam dunia pendidikan. Pemerintah menentukan apa yang akan diajarkan kepada siswa dan menentukan siapa yang mendidik mereka.

 

Peran pemerintah yang begitu besar mengundang beberapa pertanyaan. Apakah ada garansi bahwa guru mendidik murid seperti orang tua mendidik anaknya? Apakah ada garansi bahwa materi pendidikan sesuai dengan yang diharapkan oleh orang tua? Sejauh mana seharusnya pemerintah menentukan kebijakan pendidikan? Namun, masyarakat tidak begitu perduli dengan hal ini. Kalaupun ada yang peduli, isu-isu yang mereka ajukan tidak diabaikan.

 

Dituntut sebuah kesadaran dan peran orang tua dan masyarakat untuk memperjuangkan pendidikan yang baik. Masih diperlukan banyak pemikiran bagaimana pendidikan yang menghasilkan anak didik yang taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan yang berkarakter.

 

Renungan:

 

Apakah Anda sangat memperhatikan pendidikan anak-anak Anda?

Apakah kriteria Anda untuk memilih sekolah untuk putra-putri Anda?

Hal apa yang memberatkan Anda saat ini dalam hal pendidikan putra-putri Anda?

PERAN GURU KELAS DALAM PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR

Posted by adminbk on May 15, 2011 at 6:41 PM Comments comments (0)

Judul: PERAN GURU KELAS DALAM PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR

Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.

Nama & E-mail (Penulis): Rustantiningsih

Saya Guru di SDN Anjasmoro Semarang

Topik: Bimbingan Konseling

Tanggal: 8 Juli 2008 PERAN GURU KELAS DALAM PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR

Oleh: Rustantiningsih

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional no. 20 tahun 2003 pasal 3dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuandan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalamrangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnyapotensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwakepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis sertabertanggung jawab.

Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional maka dirumuskantujuan pendidikan dasar yakni memberi bekal kemampuan dasar kepadasiswa untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggotamasyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkansiswa untuk mengikuti pendidikan menengah (pasal 3 PP nomor 28 tahun1990 tentang Pendidikan Dasar).

Pendidikan dasar merupakan pondasi untuk pendidikanselanjutnya dan pendidikan nasional. Untuk itu aset suatu bangsa tidakhanya terletak pada sumber daya alam yang melimpah, tetapi terletakpada sumber daya alam yang berkualitas. Sumber daya alam yangberkualitas adalah sumber daya manusia, maka diperlukan peningkatansumber daya manusia Indonesia sebagai kekayaan negara yang kekal dansebagai investasi untuk mencapai kemajuan bangsa.

Bimbingan konseling adalah salah satu komponen yang pentingdalam proses pendidikan sebagai suatu sistem. Hal ini sesuai dengan apayang dikemukakan oleh Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang bahwa prosespendidikan adalah proses interaksi antara masukan alat dan masukanmentah. Masukan mentah adalah peserta didik, sedangkankan masukan alatadalah tujuan pendidikan, kerangka, tujuan dan materi kurikulum,fasilitas dan media pendidikan, system administrasi dan supervisipendidikan, sistem penyampaian, tenaga pengajar, sistem evaluasi sertabimbingan konseling (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990:58).

Bimbingan merupakan bantuan kepada individu dalam menghadapipersoalan-persoalan yang dapat timbul dalam hidupnya. Bantuan semacamitu sangat tepat jika diberikan di sekolah, supaya setiap siswa lebihberkembang ke arah yang semaksimal mungkin. Dengan demikian bimbinganmenjadi bidang layanan khusus dalam keseluruhan kegiatan pendidikansekolah yang ditangani oleh tenaga-tenaga ahli dalam bidang tersebut.

Di Sekolah Dasar, kegiatan Bimbingan Konseling tidak diberikanoleh Guru Pembimbing secara khusus seperti di jenjang pendidikan SMPdan SMA. Guru kelas harus menjalankan tugasnya secara menyeluruh, baiktugas menyampaikan semua materi pelajaran (kecuali Agama dan Penjaskes)dan memberikan layanan bimbingan konseling kepada semua siswa tanpaterkecuali.

Dalam konteks pemberian layanan bimbingan konseling, Prayitno(1997:35-36) mengatakan bahwa pemberian layanan bimbingan konselingmeliputi layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran,pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan konselingkelompok.

Guru Sekolah Dasar harus melaksanakan ketujuh layanan bimbingankonseling tersebut agar setiap permasalahan yang dihadapi siswa dapatdiantisipasi sedini mungkin sehingga tidak menggangu jalannya prosespembelajaran. Dengan demikian siswa dapat mencapai prestasi belajarsecara optimal tanpa mengalami hambatan dan permasalahan pembelajaranyang cukup berarti.

Realitas di lapangan, khususnya di Sekolah Dasar menunjukkanbahwa peran guru kelas dalam pelaksanaan bimbingan konseling belumdapat dilakukan secara optimal mengingat tugas dan tanggung jawab gurukelas yang sarat akan beban sehingga tugas memberikan layanan bimbingankonseling kurang membawa dampak positif bagi peningkatan prestasibelajar siswa.

Selain melaksanakan tugas pokoknya menyampaikan semua matapelajaran, guru SD juga dibebani seperangkat administrasi yang harusdikerjakan sehingga tugas memberikan layanan bimbingan konseling belumdapat dilakukan secara maksimal. Walaupun sudah memberikan layananbimbingan konseling sesuai dengan kesempatan dan kemampuan, namunagaknya data pendukung yang berupa administrasi bimbingan konselingjuga belum dikerjakan secara tertib sehingga terkesan pemberian layananbimbingan konseling di SD "asal jalan".

Dalam Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang BimbinganKonseling tersirat bahwa suatu sistem layanan bimbingan dan konselingberbasis kompetensi tidak mungkin akan tercipta dan tercapai denganbaik apabila tidak memiliki sistem pengelolaan yang bermutu. Artinya,hal itu perlu dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Untukitu diperlukan guru pembimbing yang profesional dalam mengelolakegiatan Bimbingan Konseling berbasis kompetensi di sekolah dasar.

Berdasar latar belakang tersebut di atas, penulis tergerakuntuk melakukan telaah mengenai peran guru kelas dalam pelaksanaanBimbingan Konseling di Sekolah Dasar.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka persoalan mendasar yanghendak ditelaah dalam makalah ini adalah bagaimana peran guru kelasdalam pelaksanaan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar?

B. PEMBAHASAN

1. Hakikat Bimbingan dan Konsling di SD

M. Surya (1988:12) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatuproses pemberian atau layanan bantuan yang terus menerus dan sistematisdari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai perkembangan yangoptimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan.

Bimbingan ialah penolong individu agar dapat mengenal dirinyadan supaya individu itu dapat mengenal serta dapat memecahkanmasalah-masalah yang dihadapi di dalam kehidupannya (Oemar Hamalik,2000:193).

Bimbingan adalah suatu proses yang terus-menerus untukmembantu perkembangan individu dalam rangka mengembangkan kemampuannyasecara maksimal untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya, baikbagi dirinya maupun bagi masyarakat (Tim Pengembangan MKDK IKIPSemarang, 1990:11).

Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik sebuah inti saribahwa bimbingan dalam penelitian ini merupakan suatu bentuk bantuanyang diberikan kepada individu agar dapat mengembangkan kemampuannyaseoptimal mungkin, dan membantu siswa agar memahami dirinya (selfunderstanding), menerima dirinya (self acceptance), mengarahkan dirinya(self direction), dan merealisasikan dirinya (self realization).

Konseling adalah proses pemberian yang dilakukan melaluiwawancara konseling oleh seorang ahli kepada individu yang sedangmengalami suatu masalah yang bermuara pada teratasinya masalah yangdihadapi oleh klien (Prayitno, 1997:106).

Konseling merupakan upaya bantuan yang diberikan kepadaseseorang supaya dia memperoleh konsep diri dan kepercayaan pada dirisendiri, untuk dimanfaatkan olehnya dan memperbaiki tingkah lakunyapada masa yang akan datang (Mungin Eddy Wibowo, 1986:39).

Dari pengertin tersebut, dapat penulis sampaikan ciri-ciri pokok konseling, yaitu:

(1) adanya bantuan dari seorang ahli,

(2) proses pemberian bantuan dilakukan dengan wawancara konseling,

(3)bantuan diberikan kepada individu yang mengalami masalah agarmemperoleh konsep diri dan kepercayaan diri dalam mengatasi masalahguna memperbaiki tingkah lakunya di masa yang akan datang.

2. Perlunya Bimbingan dan Konseling di SD

Jika ditinjau secara mendalam, setidaknya ada tiga hal utama yangmelatarbelangi perlunya bimbingan yakni tinjauan secara umum, sosiokultural dan aspek psikologis. Secara umum, latar belakang perlunyabimbingan berhubungan erat dengan pencapaian tujuan pendidikannasional, yaitu: meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesiayaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa,berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras,tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehatjasmani dan rohani.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut sudah barang tentu perlumengintegrasikan seluruh komponen yang ada dalam pendidikan, salahsatunya komponen bimbingan.

Bila dicermati dari sudut sosio kultural, yang melatar belakangiperlunya proses bimbingan adalah adanya perkembangan ilmu pengetahuandan teknologi yang pesat sehingga berdampak disetiap dimensi kehidupan.Hal tersebut semakin diperparah dengan laju pertumbuhan penduduk yangtinggi, sementara laju lapangan pekerjaan relatif menetap.

Menurut Tim MKDK IKIP Semarang (1990:5-9) ada lima hal yang melatarbelakangi perlunya layanan bimbingan di sekolah yakni:

(1) masalah perkembangan individu,

(2) masalah perbedaan individual,

(3) masalah kebutuhan individu,

(4) masalah penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku, dan

(5) masalah belajar

3. Fungsi Bimbingan dan Konseling di SD

Sugiyo dkk (1987:14) menyatakan bahwa ada tiga fungsi bimbingan dan konseling, yaitu:

a. Fungsi penyaluran ( distributif )

Fungsi penyaluran ialah fungsi bimbingan dalam membantumenyalurkan siswa-siswa dalam memilih program-program pendidikan yangada di sekolah, memilih jurusan sekolah, memilih jenis sekolahsambungan ataupun lapangan kerja yang sesuai dengan bakat, minat,cita-cita dan ciri- ciri kepribadiannya. Di samping itu fungsi inimeliputi pula bantuan untuk memiliki kegiatan-kegiatan di sekolahantara lain membantu menempatkan anak dalam kelompok belajar, danlain-lain.

b. Fungsi penyesuaian ( adjustif )

Fungsi penyesuaian ialah fungsi bimbingan dalam membantu siswauntuk memperoleh penyesuaian pribadi yang sehat. Dalam berbagai teknikbimbingan khususnya dalam teknik konseling, siswa dibantu menghadapidan memecahkan masalah-masalah dan kesulitan-kesulitannya. Fungsi inijuga membantu siswa dalam usaha mengembangkan dirinya secara optimal.

c. Fungsi adaptasi ( adaptif )

Fungsi adaptasi ialah fungsi bimbingan dalam rangka membantu stafsekolah khususnya guru dalam mengadaptasikan program pengajaran denganciri khusus dan kebutuhan pribadi siswa-siswa. Dalam fungsi inipembimbing menyampaikan data tentang ciri-ciri, kebutuhan minat dankemampuan serta kesulitan-kesulitan siswa kepada guru. Dengan data iniguru berusaha untuk merencanakan pengalaman belajar bagi para siswanya.Sehingga para siswa memperoleh pengalaman belajar yang sesuai denganbakat, cita-cita, kebutuhan dan minat (Sugiyo, 1987:14)

4. Prinsip-prinsip Bimbingan Konseling di SD

Prinsip merupakan paduan hasil kegiatan teoretik dan telaahlapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yangdimaksudkan (Prayitno, 1997:219). Berikut ini prinsip-prinsip bimbingankonseling yang diramu dari sejumlah sumber, sebagai berikut:

a. Sikap dan tingkah laku seseorang sebagai pencerminan darisegala kejiwaannya adakah unik dan khas. Keunikan ini memberikan ciriatau merupakan aspek kepribadian seseorang. Prinsip bimbingan adalahmemperhatikan keunikan, sikap dan tingkah laku seseorang, dalammemberikan layanan perlu menggunakan cara-cara yang sesuai atau tepat.

b. Tiap individu mempunyai perbedaan serta mempunyai berbagaikebutuhan. Oleh karenanya dalam memberikan bimbingan agar dapat efektifperlu memilih teknik-teknik yang sesuai dengan perbedaan dan berbagaikebutuhan individu.

c. Bimbingan pada prinsipnya diarahkan pada suatu bantuan yang padaakhirnya orang yang dibantu mampu menghadapi dan mengatasi kesulitannyasendiri.

d. Dalam suatu proses bimbingan orang yang dibimbing harusaktif , mempunyai bayak inisiatif. Sehingga proses bimbingan padaprinsipnya berpusat pada orang yang dibimbing.

e. Prinsip referal atau pelimpahan dalam bimbingan perludilakukan. Ini terjadi apabila ternyata masalah yang timbul tidak dapatdiselesaikan oleh sekolah (petugas bimbingan). Untuk menangani masalahtersebut perlu diserahkan kepada petugas atau lembaga lain yang lebihahli.

f. Pada tahap awal dalam bimbingan pada prinsipnya dimulaidengan kegiatan identifikasi kebutuhan dan kesulitan-kesulitan yangdialami individu yang dibimbing.

g. Proses bimbingan pada prinsipnya dilaksanakan secarafleksibel sesuai dengan kebutuhan yang dibimbing serta kondisilingkungan masyarakatnya.

h. Program bimbingan dan konseling di sekolah harus sejalandengan program pendidikan pada sekolah yang bersangkutan. Hal inimerupakan keharusan karena usaha bimbingan mempunyai peran untukmemperlancar jalannya proses pendidikan dalam mencapai tujuanpendidikan.

i. Dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolahhendaklah dipimpin oleh seorang petugas yang benar-benar memilikikeahlian dalam bidang bimbingan. Di samping itu ia mempunyaikesanggupan bekerja sama dengan petugas-petugas lain yang terlibat.

j. Program bimbingan dan konseling di sekolah hendaknyasenantiasa diadakan penilaian secara teratur. Maksud penilaian iniuntuk mengetahui tingkat keberhasilan dan manfaat yang diperoleh daripelaksanaan program bimbingan. Prinsip ini sebagai tahap evaluasi dalamlayanan bimbingan konseling nampaknya masih sering dilupakan. Padahalsebenarnya tahap evaluasi sangat penting artinya, di samping untukmenilai tingkat keberhasilan juga untuk menyempurnakan program danpelaksanaan bimbingan dan konseling (Prayitno, 1997:219).

5. Kegiatan BK dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi

Berdasakan Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidangBimbingan Konseling (2004) dinyatakan bahwakerangka kerja layanan BKdikembangkan dalam suatu program BK yang dijabarkan dalam 4 (empat)kegiatan utama, yakni:

a. Layanan dasar bimbingan

Layanan dasar bimbingan adalah bimbingan yang bertujuan untukmembantu seluruh siswa mengembangkan perilaku efektif danketrampilan-ketrampilan hidup yang mengacu pada tugas-tugasperkembangan siswa SD.

b. Layanan responsif adalah layanan bimbingan yang bertujuanuntuk membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting olehpeserta didik saat ini. Layanan ini lebih bersifat preventik ataumungkin kuratif. Strategi yang digunakan adalah konseling individual,konseling kelompok, dan konsultasi. Isi layanan responsif adalah:

(1) bidang pendidikan;

(2) bidang belajar;

(3)bidang sosial;

(4) bidang pribadi;

(5) bidang karir;

(6) bidang tata tertib SD;

(7) bidang narkotika dan perjudian;

(8) bidang perilaku sosial, dan

(9)bidang kehidupan lainnya.

c. Layanan perencanaan individual adalah layanan bimbingan yangmembantu seluruh peserta didik dan mengimplementasikan rencana-rencanapendidikan, karir,dan kehidupan sosial dan pribadinya. Tujuan utamadari layanan ini untuk membantu siswa memantau pertumbuhan dan memahamiperkembangan sendiri.

d. Dukungan sistem, adalah kegiatan-kegiatan manajemen yangbertujuan memantapkan, memelihara dan meningkatkan progam bimbingansecara menyeluruh. Hal itu dilaksanakan melalui pengembangaanprofesionalitas, hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru,staf ahli/penasihat, masyarakat yang lebih luas, manajemen program,penelitian dan pengembangan (Thomas Ellis, 1990)

Kegiatan utama layanan dasar bimbingan yang responsif danmengandung perencanaan individual serta memiliki dukungan sistem dalamimplementasinya didukung oleh beberapa jenis layanan BK, yakni:

(1) layanan pengumpulan data,

(2) layanan informasi,

(3) layanan penempatan,

(4) layanan konseling,

(5) layanan referal/melimpahkan ke pihak lain, dan

(6) layanan penilaian dan tindak lanjut (Nurihsan, 2005:21).

6. Peran Guru Kelas dalam Kegiatan BK di SD

Implementasi kegiatan BK dalam pelaksanaan Kurikulum BerbasisKompetensi sangat menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar. Olehkarena itu peranan guru kelas dalam pelaksanaan kegiatan BK sangatpenting dalam rangka mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran yangdirumuskan.

Sardiman (2001:142) menyatakan bahwa ada sembilan peran guru dalam kegiatan BK, yaitu:

a. Informator, guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajarinformatif, laboratorium, studi lapangan, dan sumber informasi kegiatanakademik maupun umum.

b. Organisator, guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran dan lain-lain.

c. Motivator, guru harus mampu merangsang dan memberikan dorongan sertareinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya(aktivitas) dan daya cipta (kreativitas) sehingga akan terjadi dinamikadi dalam proses belajar-mengajar.

d. Director, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.

e. Inisiator, guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar-mengajar.

f. Transmitter, guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan dalam pendidikan dan pengetahuan.

g. Fasilitator, guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-mengajar.

h. Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.

i. Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasianak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya,sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak.

C. PENUTUP

1. Simpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru kelasdalam pelaksanaan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar sangat pentingsekali. Sejalan diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi, gurukelas mempunyai peran yang sentral dalam kegiatan BK. Peran tersebutmencakupi peran sebagai informator, organisator, motivator, director,inisiator, transmitter, fasilitator, mediator, dan evaluator. Perantersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, namun merupakan sebuahsistem yang saling melengkapi dalam kegiatan Bimbingan dan Konseling diSekolah Dasar.

2. Saran

Mewujudkan peran guru kelas dalam pelaksanaan kegiatan BK di SDbukanlah hal yang mudah. Hal tersebut dikarenakan, di SD tidak memilikiGuru Pembimbing. Guru kelas memiliki tanggung jawab ganda, di sampingmengajar juga membimbing. Oleh karena itu, guru kelas hendaknyameningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pelaksanaan kegiatan BKsehingga memiliki wawasan yang mendalam terhadap kegiatan-kegiatan BKdi Sekolah Dasar.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2004. Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang Bimbingan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas.

M. Surya. 1988. Pengantar Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta : UT.

Mungin Eddy Wibowo. 1986. Konseling di Sekolah Jilid I. FIP IKIP Semarang.

Nurihsan, Juntika. 2005. Manajemen Bimbingan Konseling di SD Kurikulum 2004. Jakarta: Gramedia Widiasaraan Indonesia.

Oemar Hamalik. 2000. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

PP nomor 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar. Jakarta: Dedpikbud.

Prayitno Erman Amti. 1997. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Depdikbud.

Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sugiyo, dkk. 1987. Bimbingan dan Konseling Sekolah. Semarang: FIP IKIP Semarang.

Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang. 1990. Bimbingan dan Konseling Sekolah. Semarang: IKIP Semarang Press.

UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Tamita Jaya Utama

Winkel, 1991, Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta : Alfabeta, Ground


PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Posted by adminbk on May 15, 2011 at 6:35 PM Comments comments (0)

A.     Pendahuluan Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington, 1982:10). Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.

Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.

 

B.     Mendorong Tindakan Belajar              Pada umumnya orang beranggapan bahwa pendidik adalah sosok yang memiliki sejumlah besar pengetahuan tertentu, dan berkewajiban menyebarluaskannya kepada orang lain. Demikian juga, subjek didik sering dipersepsikan sebagai sosok yang bertugas mengkonsumsi informasi-informasi dan pengetahuan yang disampaikan pendidik. Semakin banyak informasi pengetahuan yang mereka serap atau simpan semakin baik nilai yang mereka peroleh, dan akan semakin besar pula pengakuan yag mereka dapatkan sebagai individu terdidik.

Anggapan-anggapan seperti ini, meskipun sudah berusia cukup tua, tidak dapat dipertahankan lagi. Fungsi pendidik menjejalkan informasi pengetahuan sebanyak-banyakya kepada subjek didik dan fungsi subjek didik menyerap dan mengingat-ingat keseluruhan  informasi itu, semakin tidak relevan lagi mengingat bahwa pengetahuan itu sendiri adalah sesuatu yang dinamis dan tidak terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan-pengetahuan (yang dalam perasaan dan pikiran manusia dapat dihimpun) hanya bersifat sementara dan berubah-ubah, tidak mutlak (Goble, 1987 : 46). Gugus pengetahuan yang dikuasai dan disebarluaskan saat ini, secara relatif, mungkin hanya berfungsi untuk saat ini, dan tidak untuk masa lima hingga sepuluh tahun ke depan. Karena itu, tidak banyak artinya menjejalkan informasi pengetahuan kepada subjek didik, apalagi bila hal itu terlepas dari konteks pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun demikian bukan berarti fungsi traidisional pendidik untuk menyebarkan informasi pengetahuan harus dipupuskan sama sekali. Fungsi ini, dalam batas-batas tertentu, perlu dipertahankan, tetapi harus dikombinasikan dengan fungsi-fungsi sosial yang lebih luas, yakni membantu subjek didik untuk memadukan informasi-informasi yang terpecah-pecah dan tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa menjadi seorang pendidik dewasa ini berarti juga menjadi “penengah” di dalam perjumpaan antara subjek didik dengan himpunan informasi faktual yang setiap hari mengepung kehidupan mereka.

Sebagai penengah, pendidik harus mengetahui dimana letak sumber-sumber informasi pengetahuan tertentu dan mengatur mekanisme perolehannya apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh subjek didik.Dengan perolehan informasi pengetahuan tersebut, pendidik membantu subjek didik untuk mengembangkan kemampuannya mereaksi dunia sekitarnya. Pada momentum inilah tindakan belajar dalam pengertian yang sesungguhya terjadi, yakni ketika subjek didik belajar mengkaji kemampuannya secara realistis dan menerapkannya untuk mencapai kebutuhan-kebutuhannya.

Dari deskripsi di atas terlihat bahwa indikator dari satu tindakan belajar yang berhasil adalah : bila subjek didik telah mengembangkan kemampuannya sendiri. Lebih jauh lagi, bila subjek didik berhasil menemukan dirinya sendiri ; menjadi dirinya sendiri. Faure (1972) menyebutnya sebagai “learning to be”.

Adalah tugas pendidik untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya tindakan belajar secara efektif. Kondisi yang kondusif itu tentu lebih dari sekedar memberikan penjelasan tentang hal-hal yang termuat di dalam buku teks, melainkan mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan membantu subjek didik dalam upaya mereka mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan (Whiteherington, 1982:77). Inilah fungsi motivator, inspirator dan fasilitator dari seorang pendidik.

 

C.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar Agar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Faktor-faktor itu lazim dikelompokkan atas dua bahagian, masing-masing faktor fisiologis dan faktor psikologis (Depdikbud, 1985 :11).

1.   Faktor Fisiologis

Faktor-faktor fisiologis ini mencakup faktor material pembelajaran, faktor lingkungan, faktor instrumental dan faktor kondisi individual subjek didik.Material pembelajaran turut menentukan bagaimana proses dan hasil belajar yang akan dicapai subjek didik. Karena itu, penting bagi pendidik untuk mempertimbangkan kesesuaian material pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik ; juga melakukan gradasi material pembelajaran dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat lebih kompeks.

Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian pula, belajar padapagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai, juga kurang kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.

Yang tak kalah pentingnya untuk dipahami adalah faktor-faktor instrumental, baik yang tergolong perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan sebagainya sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya, pendidik harus memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental ini seoptimal mungkin demi efektifitas pencapaian tujuan-tujuan belajar.

Faktor fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan indra. Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan belajar.

2.   Faktor Psikologis

     Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar      

     jumlahnya banyak sekali, dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara

     terpisah.

Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir saling pengaruh antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif.

2.1.   Perhatian

Tentulah dapat diterima bahwa subjek didik yang memberikan perhatian intensif dalam belajar akan memetik hasil yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh besarnya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar. Perhatian intensif subjek didik ini dapat dieksloatasi sedemikian rupa melalui strategi pembelajaran tertentu, seperti menyediakan material pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik, menyajikan material pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan kreatif, seperti bermain peran (role playing), debat dan sebagainya.

Strategi pemebelajaran seperti ini juga dapat memancing perhatian yang spontan dari subjek didik. Perhatian yang spontan dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang muncul dari dorongan-dorongan instingtif untuk mengetahui sesuatu, seperti kecendrungan untuk mengetahui apa yang terjadi di sebalik keributan di samping rumah, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa perhatian spontan cendrung menghasilkan ingatan yang lebih lama dan intensif dari pada perhatian yang disengaja.

2.2.  Pengamatan

Pengamatan adalah cara pengenalan dunia oleh subjek didik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan dan pengecapan. Pengamatan merupakan gerbang bai masuknya pengaruh dari luar ke dalam individu subjek didik, dan karena itu pengamatan penting artinya bagi pembelajaran.

Untuk kepentingan pengaturan proses pembelajaran, para pendidik perlu memahami keseluruhan modalitas pengamatan tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsur-unsur modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar. Kalangan psikologi tampaknya menyepakati bahwa unsur lainnya dalam proses belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pengetahuan oleh subjek didik lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.

Jika demikian, para pendidik perlu mempertimbangkan penampilan alat-alat peraga di dalam penyajian material pembelajaran yang dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan pendengaran subjek didik. Alat peraga yang dapat digunakan, umpamanya ; bagan, chart, rekaman, slide dan sebagainya.

2.3.  Ingatan

Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni (1) menerima  kesan, (2) menyimpan kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah “ingatan” selalu didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan.

Kecakapan merima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah, subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya.

Dalam konteks pembelajaran, kecakapan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya teknik pembelajaran yang digunakan pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan penampilan bagan, ikhtisar dan sebagainya kesannya akan lebih dalam pada subjek didik. Di samping itu, pengembangan teknik pembelajaran yang mendayagunakan “titian ingatan” juga lebih mengesankan bagi subjek didik, terutama untuk material pembelajaran berupa rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh kasus yang menarik adalah mengingat nama-nama kunci nada g (gudeg), d (dan), a (ayam), b (bebek) dan sebagainya.

Hal lain dari ingatan adalah kemampuan menyimpan kesan atau mengingat. Kemampuan ini tidak sama kualitasnya pada setiap subjek didik. Namun demikian, ada hal yang umum terjadi pada siapapun juga : bahwa segera setelah seseorang selesai melakukan tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi. Hal-hal yang dilupakan pada awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian berlangsung semakin lamban, dan akhirnya sebagian hal akan tersisa dan tersimpan dalam ingatan untuk waktu yang relatif lama.

Untuk mencapai proporsi yang memadai untuk diingat, menurut kalangan psikolog pendidikan, subjek didik harus mengulang-ulang hal yang dipelajari dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Implikasi pandangan ini dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi subjek didik untuk mengulang atau mengingat kembali material pembelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini, misalnya, dapat dilakukan melalui pemberian tes setelah satu submaterial pembelajaran selesai.

Kemampuan resroduksi, yakni pengaktifan atau prosesproduksi ulang hal-hal yang telah dipelajari, tidak kalah menariknya untuk diperhatikan. Bagaimanapun, hal-hal yang telah dipelajari, suatu saat, harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tertentu subjek didik, misalnya kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam ujian ; atau untuk merespons tantangan-tangan dunia sekitar.

Pendidik dapat mempertajam kemampuan subjek didik dalam hal ini melalui pemberian tugas-tugas mengikhtisarkan material pembelajaran yang telah diberikan.

2.4.  Berfikir

Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam didi seseorang yang berupa pengertian-perngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasarnya adalah proses psikologis dengan tahapan-tahapan berikut : (1) pembentukan pengertian, (2) penjalinan pengertian-pengertian, dan (3) penarikan kesimpulan.

Kemampuan berfikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang reletif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk memberikan penjelasan yang “selengkapnya” tentang satu material pembelajaran akan cendrung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Sebaliknya, para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti ni akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri.

2.5.  Motif

Motif adalah keadaan dalam diri subjek didik yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu. Motif boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif semacam ini sering disebut motif ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.

Dalam konteks belajar, motif intrinsik tentu selalu lebih baik, dan biasanya berjangka panjang. Tetapi dalam keadaan motif intrinsik tidak cukup potensial pada subjek didik, pendidik perlu menyiasati hadirnya motif-motif ekstrinsik. Motif ini, umpamanya, bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di antara individu maupun kelompok subjek didik. Suasana ini akan mendorong subjek didik untuk berjuang atau berlomba melebihi yang lain.Namun demikian, pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengarah kepada hal-hal yang negatif.

Motif ekstrinsik bisa juga dihadirkan melalui siasat “self competition”, yakni menghadirkan grafik prestasi individual subjek didik.Melalui grafik ini, setiap subjek didik dapat melihat kemajuan-kemajuannya sendiri. Dan sekaligus membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya.Dengan melihat grafik ini, subjek didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya supaya tidak berada di bawah prestasi orang lain.

 


Penelitian Tindakan Sekolah

Posted by adminbk on December 9, 2010 at 1:47 AM Comments comments (0)

Download

Name
:
Penelitian Tindakan Sekolah
Details
:
Penelitian Tindakan Sekolah.doc%
3Fnmid=233919357
Counter
:
330
Link Download
:
Report Broken Link
:

Program BK SMP

Posted by adminbk on December 9, 2010 at 1:10 AM Comments comments (1)

Silabus IPA Terpadu 3B

Unduh file sekarang

PROGRAM KERJA.doc (354 KB) 

Unduh file sekarang

Silabus IPA Terpadu 1A.doc (136 KB) 

Unduh file sekarang

Silabus IPA Terpadu 2A.doc (164 KB) 

Unduh file sekarang

Silabus IPA Terpadu 2B.doc (168 KB)  

Unduh file sekarang

Silabus IPA Terpadu 3A.doc (236 KB)

Unduh file sekarang

RPP IPA Terpadu 1B.doc (265 KB)  

Unduh file sekarang

Pemetaan BK IX Lengkap.xls (45 KB) 

Unduh file sekarang

Pemetaan BK IX Gnp.xls (24 KB)  

Unduh file sekarang

PTK BIMBINGAN KONSELING.doc (2,155 KB)  

Unduh file sekarang

RPP IPA Terpadu 1B.doc (265 KB)  

Unduh file sekarang

Satlan Karier setelah SMP.doc (84 KB)  

Unduh file sekarang

Pemetaan BK IX Gnp.xls (24 KB)  

Unduh file sekarang

MODUL BK KELAS IX AFFAN.doc (404 KB)

Unduh file sekarang

PERSPEKTIF REMAJA

Posted by adminbk on December 9, 2010 at 12:49 AM Comments comments (0)

Download

Name
:
PERSPEKTIF REMAJA
Details
:
PERSPEKTIF REMAJA (E-Com).ppt
Counter
:
38
Link Download
:
Report Broken Link
: