BIMBINGAN DAN KONSELING

SMA NEGERI 20 SURABAYA

Jl. Medokan Semampir No.119 Sukolilo Kota Surabaya Kode POS 60119
No.Telp. 031 593 5720 Faxmile. 031 591 0817
E-Mail : [email protected]

Daftar Isi Post New Entry

Permendikbud No. 111 tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling

Posted by adminbk on November 5, 2014 at 6:50 PM Comments comments (0)

Setelah penantian yang cukup panjang akhirnya layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah kini telah memperoleh dasar legalitas yuridis-formal yang lebih kokoh, yakni dengan hadirnya Permendikbud No. 111 tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, yang ditandatangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan per tanggal 8 Oktober 2014.

 

Permendikbud ini menjadi rujukan penting, khususnya bagi para Guru BK/Konselor dalam menyelenggarakan dan mengadministrasikan layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah.

 

Hal yang dianggap baru dari kehadiran Peraturan Menteri ini yaitu secara resmi mulai diterapkannya pola Bimbingan dan Konseling Komprehensif, sebagaimana diisyaratkan dalam Pasal 6 ayat 1 yang menyebutkan bahwa: “Komponen layanan Bimbingan dan Konseling memiliki 4 (empat) program yang mencakup: (a) layanan dasar; (b) layanan peminatan dan perencanaan individual; (c) layanan responsif; dan (d) layanan dukungan sistem”.

 

Melihat keempat komponen layanan yang dimaksud dalam pasal tersebut, di sini tampak jelas bahwa konsep dan kerangka kerja layanan Bimbingan dan Konseling yang dikehendaki oleh peraturan ini adalah Pola Bimbingan dan Konseling Komprehensif, sebagaimana digagas oleh Gysber, dkk dan telah digunakan di berbagai negara lain.

 

Jika Anda ingin mengunduh peraturan ini beserta lampirannya, silahkan klik tautan di bawah ini:

 

Permendikbud No. 111 tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah

Lampiran Permendikbud No. 111 tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah

sumber : http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2014/11/05/permendikbud-no-111-tahun-2014-tentang-bimbingan-dan-konseling/


Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik dan Model Pembelajaran

Posted by adminbk on September 24, 2013 at 2:15 AM Comments comments (0)

Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran, (4) teknik pembelajaran, (5) taktik pembelajaran, dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan pengertian istilah – istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.

Pendekatan Pembelajaran

 

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Strategi pembelajaran.

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam Strategi Pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:

Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:

Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.

Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif. Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008).

Metode pembelajaran

Jadi, metode pembelajaran di sini dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

Teknik Pembelajaran

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan taktik pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Taktik Pembelajaran.

Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)

Model Pembelajaran

Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.

Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:


 

Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran.  Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.

Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.

==========

Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.

Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.

Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/)

 

Menyoal tentang Pedoman Layanan BK di Sekolah

Posted by adminbk on September 24, 2013 at 2:05 AM Comments comments (0)

Berkat usaha dan perjuangan dari para pemangku kepentingan Bimbingan dan Konseling, akhirnya pemerintah dapat mengakomodasi aspirasi masyarakat Profesi BK yaitu dengan diterbitkannya pedoman layanan bimbingan dan konseling yang tersisip dalam Permendikbud 81A/2013 tentang Implementasi Kurikulum,  Lampiran IV Pedoman Umum Pembelajaran.

Bagi saya,  hadirnya pedoman ini  bisa dipandang sebagai bentuk pengakuan pemerintah terhadap Bimbingan dan Konseling sebagai bagian integral dari layanan pendidikan di sekolah, yang dapat dijadikan sebagai landasan yuridis  bagi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah.

Setelah membaca isi Permendikbud dan lampirannya (khususnya yang berkaitan dengan layanan BK) dan mendikusikannya  di Forum Komunitas ABKIN,  saya memperoleh pemahaman  dan gagasan sebagai berikut:

Walaupun Pedoman Umum Layanan Bimbingan dan Konseling ini  dicantumkan (disisipkan) dalam Pedoman Umum Pembelajaran, tetapi bukan berarti Layanan Bimbingan dan Konseling diidentikkan dengan layanan pembelajaran. Layanan Bimbingan dan Konseling harus tetap diposisikan sebagai layanan khas sebagai bantuan psikologis dengan kekuatan intinya pada pendekatan interpersonal, bukan instruksional.Saya melihat, konsep dan strategi Layanan Bimbingan dan Konseling yang diterapkan pada dasarnya masih kelanjutan dan pengembangan dari Pola 17, –sebagaimana telah diterapkan dan dikembangkan sejak diberlakukannya Kurikulum 1994, bukan model komprehensif seperti yang digagas oleh Gysber dan para pendukungnya.Dalam pedoman umum ini, ada beberapa tuntutan tugas guru BK/konselor yang mungkin bisa dianggap relatif baru, diantaranya tentang: (a) arah pelayanan yang berkaitan dengan: pelayanan dasar, pelayanan arah peminatan  siswa, dan pelayanan yang diperluas;  (b) kegiatan tatap muka klasikal selama 2 (dua) jam/kelas/minggu yang dilaksanakan secara terjadwal.Sesuai dengan namanya, pedoman yang diterbitkan ini masih bersifat umum, sehingga  masih diperlukan adanya panduan teknis lebih lanjut. Agar tidak terjadi disparitas yang melebar dalam mengimplementasikan layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah, maka sebaiknya petunjuk teknis ini dapat disiapkan secara nasional. Lagi-lagi, tumpuann harapan  saya kepada Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) sebagai organisasi yang menaungi guru BK/Konselor kiranya dapat memfasilitasi dan memformulasikan panduan teknis ini, yang didalamnya melibatkan kalangan akademisi dan praktisi BK.Berkaitan ruang lingkup isi panduan teknis, saya berharap didalamnya dapat memuat tentang: (a) kompetensi siswa pada setiap jenjang pendidikan; (b) materi pokok layanan BK beserta model strategi  dan evaluasinya (terutama untuk kepentingan kegiatan pelayanan BK di dalam pembelajaran yang dilaksanakan melalui kegiatan tatap muka 2 jam/kelas/minggu); (c) model manajemen dan organisasi BK dan (d) model-model perangkat administrasi BK yang bisa dijadikan rujukan (referensi) bagi para guru BK/Konselor.Dengan adanya panduan teknis ini diharapkan dapat diperoleh gambaran yang jelas dan operasional dalam mengimplementasi dan mengembangkan pelayanan BK di sekolah, sehingga kegiatan layanan BK tidak seperti “bola liar” yang seolah-olah dapat dieksekusi sekenanya atau grambyangan (meminjam istilah yang dilontarkan salah seorang kawan  di Forum ABKIN)

Bagaimana menurut Anda?

=======

Melengkapi tulisan ini, saya lampirkan file tentang Pedoman Umum Layanan BK  yang  diambil dari Permendikbud 81A/2013 tentang Implementasi Kurikulum,  Lampiran IV Pedoman Umum Pembelajaran beserta Peta Konsep hasil corat-coret saya. Jika Anda ingin mengunduhnya silahkan klik tautan di bawah ini:

Konsep dan Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling

Peta Konsep Pedoman Umum Layanan Bimbingan dan Konseling

DAMPAK NEGATIF DAN POSITIF DARI INTERNET

Posted by adminbk on February 27, 2012 at 1:40 AM Comments comments (0)

1. Dampak Positif dan Negatif Akibat Perkembangan Teknologi Internet

 

Internet adalah jaringan komputer yang terhubung secara internasional dan tersebar di seluruh dunia. Jaringan ini meliputi jutaan pesawat komputer yang terhubung satu dengan yang lainnya dengan memanfaatkan jaringan telepon (baik kabel maupun gelombang elektromagnetik).Jaringan jutaan komputer ini memungkinkan berbagai aplikasi dilaksanakan antar komputer dalam jaringan internet dengan dukungan software dan hardware yang dibutuhkan. Untuk bergabung dalam jaringan ini, satu pihak ( dalam hal ini provider ) harus memiliki program aplikasi serta bank data yang menyediakan informasi dan data yang dapat di akses oleh pihak lain yang tergabung dalam internet.

 

Pihak yang telah tergabung dalam jaringan ini akan memiliki alamat tersendiri ( bagaikan nomor telepon ) yang dapat dihubungi melalui jaringan internet. Provider inilah yang menjadi server bagi pihak-pihak yang memiliki personal komputer ( PC ) untuk menjadi pelanggan ataupun untuk mengakses internet.

 

Sejalan dengan perkembangan zaman, kemajuan teknologi internet juga semakin maju. ‘Internet’ adalah jaringan komputer yang dapat menghubungkan suatu komputer atau jaringan komputer dengan jaringan komputer lain, sehingga dapat berkomunikasi atau berbagi data tanpa melihat jenis komputer itu sendiri.

 

Pada tahun 1999, jumlah komputer yang telah dihubungkan dengan internet di seluruh dunia mencapai lebih dari 40 juta dan jumlah ini terus bertambah setiap hari. Saat ini jumlah situs web mencapai jutaan, bahkan mungkin trilyunan, isinya memuat bermacam-macam topik. Tentu saja, situs-situs itu menjadi sumber informasi baik yang positif ataupun negatif. Informasi dikatakan positif apabila bermanfaat untuk penelitiaan. Di bawah ini akan dijelaskan dampak-dampak positif maupun negatif dari penggunaan internet.

 

Dampak Positif:1. Internet sebagai media komunikasi, merupakan fungsi internet yang paling banyak digunakan dimana setiap pengguna internet dapat berkomunikasi dengan pengguna lainnya dari seluruh dunia. 2. Media pertukaran data, dengan menggunakan email, newsgroup, ftp dan www (world wide web – jaringan situs-situs web) para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat dan murah. 3. Media untuk mencari informasi atau data, perkembangan internet yang pesat, menjadikan www sebagai salah satu sumber informasi yang penting dan akurat. 4. Kemudahan memperoleh informasi yang ada di internet sehingga manusia tahu apa saja yang terjadi. 5. Bisa digunakan sebagai lahan informasi untuk bidang pendidikan, kebudayaan, dan lain-lain 6. Kemudahan bertransaksi dan berbisnis dalam bidang perdagangan sehingga tidak perlu pergi menuju ke tempat penawaran/penjualan.Dampak Negatif

Pornografi

Anggapan yang mengatakan bahwa internet identik dengan pornografi, memang tidak salah. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela.Untuk mengantisipasi hal ini, para produsen ‘browser’ melengkapi program mereka dengan kemampuan untuk memilih jenis home-page yang dapat di-akses.Di internet terdapat gambar-gambar pornografi dan kekerasan yang bisa mengakibatkan dorongan kepada seseorang untuk bertindak kriminal.Violence and Gore

Kekejaman dan kesadisan juga banyak ditampilkan. Karena segi bisnis dan isi pada dunia internet tidak terbatas, maka para pemilik situs menggunakan segala macam cara agar dapat ‘menjual’ situs mereka. Salah satunya dengan menampilkan hal-hal yang bersifat tabu.

 

Penipuan

Hal ini memang merajalela di bidang manapun. Internet pun tidak luput dari serangan penipu. Cara yang terbaik adalah tidak mengindahkan hal ini atau mengkonfirmasi informasi yang Anda dapatkan pada penyedia informasi tersebut.

 

Carding

Karena sifatnya yang ‘real time’ (langsung), cara belanja dengan menggunakan Kartu kredit adalah carayang paling banyak digunakan dalam dunia internet. Para penjahat internet pun paling banyak melakukan kejahatan dalam bidang ini. Dengan sifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi (yang menggunakan Kartu Kredit) on-line dan mencatat kode Kartu yang digunakan. Untuk selanjutnya mereka menggunakan data yang mereka dapatkan untuk kepentingan kejahatan mereka.

 

Perjudian

Dampak lainnya adalah meluasnya perjudian. Dengan jaringan yang tersedia, para penjudi tidak perlu pergi ke tempat khusus untuk memenuhi keinginannya. Anda hanya perlu menghindari situs seperti ini, karena umumnya situs perjudian tidak agresif dan memerlukan banyak persetujuan dari pengunjungnya.1. Mengurangi sifat sosial manusia karena cenderung lebih suka berhubungan lewat internet daripada bertemu secara langsung (face to face). 2. Dari sifat sosial yang berubah dapat mengakibatkan perubahan pola masyarakat dalam berinteraksi. 3. Kejahatan seperti menipu dan mencuri dapat dilakukan di internet (kejahatan juga ikut berkembang).

 

4. Bisa membuat seseorang kecanduan, terutama yang menyangkut pornografi dan dapat menghabiskan uang karena hanya untuk melayani kecanduan tersebut

 

http://yudakuyudz.wordpress.com/2008/03/19/dampak-positif-dan-negatif-akibat-perkembangan-teknologi-internet/

 

2. Dampak Internet pada pergaulan mahasiswa, siswa SD,SMP & SMA

Internet sbg Sarana Komunikasi Mahasiswa

Sejalan dengan perkembangan zaman, kemajuan teknologi internet juga semakin maju. ‘Internet’ adalah jaringan komputer yang dapat menghubungkan suatu komputer atau jaringan komputer dengan jaringan komputer lain, sehingga dapat berkomunikasi atau berbagi data tanpa melihat jenis komputer itu sendiri. Pada tahun 1999, jumlah komputer yang telah dihubungkan dengan internet di seluruh dunia mencapai lebih dari 40 juta dan jumlah ini terus bertambah setiap hari. Saat ini jumlah situs web mencapai jutaan, bahkan mungkin trilyunan, isinya memuat bermacam-macam topik. Tentu saja, situs-situs itu menjadi sumber informasi baik yang positif ataupun negatif. Informasi dikatakan positif apabila bermanfaat untuk penelitiaan.

Quarterman dan Mitchell membagi kegunaan internet dalam empat kategori, yaitu:

Internet sebagai media komunikasi, merupakan fungsi internet yang paling banyak digunakan dimana setiap pengguna internet dapat berkomunikasi dengan pengguna lainnya dari seluruh dunia.

Media pertukaran data, dengan menggunakan email, newsgroup, ftp dan www (world wide web – jaringan situs-situs web) para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat dan murah.

Media untuk mencari informasi atau data, perkembangan internet yang pesat, menjadikan www sebagai salah satu sumber informasi yang penting dan akurat.

Fungsi komunitas, internet membentuk masyarakat baru yang beranggotakan para pengguna internet dari seluruh dunia. Dalam komunitas ini pengguna internet dapat berkomunikasi, mencari informasi, berbelanja, melakukan transaksi bisnis, dan sebagainya. Karena sifat internet yang mirip dengan dunia kita sehari-hari, maka internet sering disebut sebagai cyberspace atau virtual world (dunia maya).

Oleh karena itu, pastilah kita ingin mengetahui fungsi internet serta fasilitas apa, di mana, bagaimana, mengapa, kepada dan dari siapa mahasiswa tersebut menggunakan internet untuk berkomunikasi.

Pada umumnya, para pengguna internet menggunakan internet yang tersedia di warung-warung internet atau yang lebih dikenal dengan istilah ‘warnet’. Hal ini karena biayanya lebih murah dibandingkan dengan menggunakan internet pribadi.

Perlu diketahui bahwa mahasiswa belum bekerja, dan masih bergantung dari dana yang diberikan oleh orang tua mereka. Keadaan ini merupakan salah satu penyebab dimana mereka akan menggunakan komputer yang terhubung dengan internet. Pada umumnya, biaya menggunakan internet adalah sebesar tiga ribu lima ratus rupiah per jam. Tentu saja, biaya ini relatif mahal karena mahasiswa yang masih banyak tergantung dari dana yang diberikan orang tua perhari atau per mingu atau per bulan. Maka, komunikasi para mahasiswa lewat internet menjadi terbatas oleh biaya.

Situs Web

World Wide Web yang sering disingkat www merupakan fasilitas internet yang paling banyak digunakan saat ini di samping email. Situs web adalah informasi yang dapat diakses oleh seluruh pengguna internet dari seluruh dunia dengan menggunakan program yang disebut Web Browser misalnya Netscape Navigator dan Microsoft Internet Explorer. Informasi yang ditempatkan dalam situs web itu dapat berupa tulisan, gambar, animasi, suara, dan video klip.

Sebagai sarana komunikasi , Sistus web tersebut berguna untuk mencari data, berita, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan baru, dan lain lain. Misalnya, melalui pengamatan banyak mahasiswa mengunjungi web situs seperti friendster, detik, satuwanita, yahoo, CNN, Kompas dan sebagainya. Selain itu, mahasiswa bisa mempunyai situs web sendiri untuk menyebarluaskan ide-ide dan pendapat mereka sendiri kepada seluruh dunia.

Walaupun ada banyak manfaat situs web, juga ada banyak masalah. Masalah yang paling besar adalah bahwa informasi yang disebarkan di internet tidak selalu benar. Hal ini terjadi karena situs web tidak harus memberikan informasi yang benar dan akurat, dan tidak ada tanggung jawab atas kebenaran informasi yang disebarluaskan. Masalah yang kedua adalah pornografi yang merupakan dampak negatif. Namun, pornografi itu tidak harus dicari dengan sengaja, bisa saja mendapatkan pornografi dengan pencarian data dan file musik mp3. Dari pengamatan yang mendalam, tiga puluh tiga persen dengan sengaja mencari pornografi di www, dan bukan hanya laki-laki tetapi juga perempuan. Walaupun demikian, kebanyakan adalah mahasiswa yang dengan sengaja mencari pornografi. Sedangkan, yang tidak dengan sengaja mendapatkan pornografi sebanyak lima puluh sembilan persen.

Sering kali, orang ingin mengetahui dari mana asalnya pornografi itu. Biasanya, pornografi yang dicari mahasiswa adalah pornografi Barat, yaitu pornografi yang memuat tentang orang Amerika Serikat, Belanda, Perancis atau negara Barat lain. Namun, semakin lama semakin banyak pornografi Indonesia sudah tersedia melalui internet, dan kadang-kadang pornografi itu melibatkan mahasiswa Indonesia. Baru-baru ini, di internet, ada artikel tentang dua mahasiswa Bandung yang merekam adegan intim dengan kamera video. Tidak disangka, hasil rekaman ini beredar bak VCD porno komersial. Belakangan, file image dan klip yang heboh ini mulai bergentayangan di internet.

Jadi, sisi negatif dari www adalah pornografi yang dengan mudah dilihat dan hal ini memberikan dampak yang buruk bagi generasi muda Indonesia.

Email

Tujuan mahasiswa dalam menggunakan fasilitas internet bermacam-macam. Banyak mahasiswa menggunakan internet untuk penelitian, atau mencari berita asing, tetapi yang paling populer adalah email. Email itu adalah surat menyurat secara elektronik di mana pesan yang dikirimkan akan sampai dalam waktu singkat. Pesan email tidak hanya berupa tulisan tetapi dapat disertai dengan file gambar, suara, animasi, dan lain lain. Selain itu, email dapat dikirimkan kepada ratusan orang hanya dalam satu kali pengiriman. Makanya, email ini menjadi penting untuk komunikasi dalam zaman modern ini, dan terutama bagi para mahasiswa.

Dalam pengamatan rata-rata mahasiswa yang pernah menggunakan internet mempunyai alamat email sendiri. Alamat email mahasiswa itu semuanya bebas biaya seperti yahoomail atau hotmail yang terkenal. Mereka lebih menyukai yahoomail atau hotmail karena iklan-iklan situs web itu berhasil mempengaruhi mereka dan provider email itu sangat terkenal tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.

Tentu saja, email yang diterima tetapi tidak diharapkan bukan hanya SPAM. Virus komputer juga sering diterima lewat email, dan topiknya juga tidak jelas. Sayangnya, belum ada cara untuk menghentikan SPAM dan virus komputer tersebut. Banyak perusahaan email gratis mempunyai ‘SPAM filter’ yang menghentikan penerimaan SPAM tetapi filter ini biasanya tidak efektif. Mungkin di masa depan seseorang akan membuat fiter yang efektif tetapi saat ini SPAM dan virus tetap menjadi masalah besar. Namun demikian, manfaat email masih melebihi dampak negatifnya. Bagi mahasiswa TSM, email masih merupakan sarana komunikasi yang tercepat dan tercanggih untuk berkomunikasi dengan teman dan keluarga. Email sudah menjadi pengganti yang baik dari surat biasa (atau dalam ‘bahasa internet’, snail mail) karena email tersebut diterima pada saat dan waktu yang sama dan tidak bisa dibaca oleh orang lain.

Chatting

Internet Relay Chat atau IRC atau sering disebut dengan chat atau chatting adalah forum diskusi online para pengguna internet dengan menggunakan tulisan sebagai alat untuk berdiskusi. IRC ini menyediakan suatu cara untuk berkomunikasi secara langsung dengan orang-orang di seluruh dunia, dan tentu saja, antara mahasiswa. IRC terdiri dari bermacam-macam jaringan server IRC (mesin-mesin untuk menghubungkan pemakai dengan IRC). Para pengguna memiliki suatu program (yang disebut ‘client’) untuk menghubungkan mereka dengan suatu server dari salah satu jaringan IRC tersebut. Server-server ini yang akan mengirimkan informasi dari satu server dan ke server yang lain dalam jaringan yang sama. Saat ini terdapat ribuan grup chatting dalam berbagai bahasa dan topik.

Dari pengamatan hampir seluruhnya mahasiswa yang sering menggunakan internet juga pernah chatting. Program yang sering digunakan untuk chatting ini adalah mIRC atau Yahoo Messenger.

Didalam chatting ini tidak jarang dari mereka melanjutkan hubungannya dari sekedar ngobrol di internet menjadi sebuah pertemuan langsung atau disebut kopdar (Kopi Darat). Bahkan ada juga yang akhirnya menjalin hubungan kekasih setelah mereka sering mengobrol di internet dan kemudian saling bertemu.

brb

be right back

segera kembai

bbl

be back later

nanti akan kembali

np

no problem

tidak apa-apa

lol

laughing out loud

tertawa terbahak-bahak

asl?

age, sex, location?

Berapa umurmu? Peremupuan/laki-laki? Dari mana?

Hlo mh

hallo #mahasiswa

Join dong

Masuklah!

u kul/ker?

Kamu kuliah atau kerja?

ce

cewek

co

Cowok

Tiga atau Lima tahun yang lalu, penggunaan telepon genggam sudah semakin popular di Indonesia, terutama di antara generasi mudah pada umumnya, dan mahasiswa TSM pada khususnya. Dengan menggunakan fasilitas Short Message Service (SMS), bahasa yang digunakan berkembang sebagaimana layaknya ‘bahasa internet’. Kata-kata yang digunakan dalam ber-SMS sering kali disingkat, dan ejaannya tidak baik dan benar pada saat mengirim pesan kepada teman. Memang, mahasiswa yang sering chatting melalui internet juga mempunyai telepon genggam dan menggunakan ‘bahasa internet’ untuk SMSnya. Jadi, ‘bahasa internet’ juga biasa digunakan untuk ber-SMS. Menurut pendapat saya, penggunaan ‘bahasa internet’ atau ‘bahasa chatting’ itu semakin meluas di masyarakat. Mungkin di masa depan, kita akan mengembangkan bahasa yang baru dengan tata bahasa dan

istilah-istilah baru.

sumber :

http://yayang08.wordpress.com/2008/05/07/dampak-internet-bagi-pelajar/

Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA

Posted by adminbk on May 15, 2011 at 6:50 PM Comments comments (0)

Dalam PermendiknasNo. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yangharus dicapai peserta didik, melalui proses pembelajaran berbagai matapelajaran. Namun, sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebutsama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai pesertadidik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. Oleh karena itu,Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatifuntuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh pesertadidik, mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi, dalam bentuknaskah akademik, untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknasdalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling diIndonesia.

Dalam kontekspembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan(SKL), sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling StandarKompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK), yangdi dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP)dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). Kesebelas aspekperkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius; (2) Landasanperilaku etis; (3) Kematangan emosi; (4) Kematangan intelektual; (5)Kesadaran tanggung jawab sosial; (6) Kesadaran gender; (7) Pengembangandiri; (8) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis); (9)Wawasan dan kesiapan karier; (10) Kematangan hubungan dengan temansebaya; dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanyauntuk SLTA dan PT). Masing-masing aspek perkembangan memiliki tigadimensi tujuan, yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperolehpengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standarkompetensi] yang harus dikuasai); (2) akomodasi (memperoleh pemaknaandan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standarkompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalamkehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standarkompetensi] yang harus dikuasai).

Aspek perkembangandan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa denganmengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip, kaidah-kaidah dantugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu.

Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas

STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK

PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS

No

Aspek Perkembangan

Tataran/Internalisasi Tujuan

Pengenalan

Akomodasi

Tindakan

1

Landasan hidup religiusMempelajari hal ihwal ibadahMengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragamaMelaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi2

Landasan perilaku etisMengenal keragaman sumber norma yang berlaku di masyaraakat Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusanBerperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek etis3

Kematangan emosiMempelajari cara-cara menghindari konflik dengan orang lainBersikap toleran terhadap ragam ekspresi perasaan diri sendiri dan orang lainMengekspresikan perasaan dalam cara-cara yang bebas,terbuka dan tidak menimbulkan konflik4

Kematangan intelektualMempelajari cara-cara pengambilan keputusan dan pemecahan masalah secara objektifMenyadari akan keragaman alternatif keputusan dan konsekuensi yang dihadapinyaMengambil keputusan dan pemecahan masalah atas dasar informasi/data secara obyektif 5

Kesadaran tanggung jawab sosialMempelajari keragaman interaksi sosialMenyadari nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalam konteks keragaman interaksi sosialBerinteraksi dengan orang lain atas dasar kesamaan6

Kesadaran genderMempelajari perilaku kolaborasi antar jenis dalam ragam kehidupanMenghargai keragaman peraan laki-laki atau perempuan sebagai aset kolaborasi dan keharmonisan hidupBerkolaborasi secara harmonis dengan lain jenis dalam keragaman peran7

Pengembangan diriMempelajari keunikan diri dalam konteks kehidupan sosialMenerima keunikan diri dengan segala kelebihan dan kekurangannyaMenampilkan keunikan diri secara harmonis dalam keragaman8

Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis)Mempelajari strategi dan peluang untuk berperilaku hemat,ulet, sengguh-sungguh dan kompetitif dalam keragaman kehidupanMenerima nilai-nilai hidup hemat,ulet sungguh-sungguh dan kompetitif sebagai aset untuk mencapai hidup mandiriMenampilkan hidup hemat, ulet, sungguh-sungguh dan kompetitif atas dasar kesadaran sendiri9

Wawasan dan kesiapan karierMempelajarikemampuan diri, peluang dan ragam pekerjaan, pendidikan, dan aktifitasyang terfokus pada pengembangan alternatif karir yang lebih terarahInternalisasi nilai-niolai yang melandasi pertimbangan pemilihan alternatif karirMengembangkan alternatif perencanaan karir dengan mempertimbangkan kemampuan, peluang dan ragam karir10

Kematangan hubungan dengan teman sebayaMempelajari cara-cara membina dan kerjasama dan toleransi dalam pergaulan dengan teman sebayaMenghargai nilai-nilai kerjasama dan toleransi sebagai dasar untuk menjalin persahabatan dengan teman sebayaMempererat jalinan persahabatan yang lebih akrab dengan memperhatikan norma yang berlaku11

Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluargaMengenal norma-norma pernikahan dan berkeluargaMengharagai norma-norma pernikahan dan berkeluarga sebagai landasan bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis Mengekspresikan keinginannya untuk mempelajari lebih intensif tentang norma pernikahan dan berkeluarga

Sumber:

Depdiknas.2007.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.Jakarta.

 


Fungsi, Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling

Posted by adminbk on November 16, 2010 at 7:12 PM Comments comments (0)

 

Fungsi Bimbingan dan Konselingadalah :


  • Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya( potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama).Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensidirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secaradinamis dan konstruktif.
  • Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli.Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
  • Ada pun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, danbimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konselidalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan,diantaranya : bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, dropout, dan pergaulan bebas (free sex). 
  • Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselorsenantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasahlainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugasperkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming),home room, dan karyawisata.
  • Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuankepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi,sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling,dan remedial teaching.
  • FungsiPenyaluran, yaitu fungsi bimbingan dankonseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai denganminat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupundi luar lembaga pendidikan.
  • Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu parapelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan,minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
  • Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.

 

            Terdapat beberapa prinsip dasar yangdipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan.Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaanyang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan, baik diSekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. Prinsip-prinsip itu adalah:

             Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual).Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.     

              Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja sebagai teamwork.Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling.          

               Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat.  

               Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan.Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan.Keterlaksanaan dan keberhasilanpelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannyaasas-asas berikut.


                Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya.

                Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan.

                Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli.Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.

               Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku.

                Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai dan norma tersebut. Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.Asas Alih Tangan

                   Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain ; dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain.  


DAFTAR RUJUKAN

  • AACE.(2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor.http://aace.ncat.edu
  • AsosiasiBimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan ProfesionalKonselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi).
  • AsosiasiBimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi KonselorIndonesia. Bandung: ABKIN
  • Bandura,A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK:Cambridge University Press.
  • BSNPdan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri:Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNPdan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas.
  • Cobia,Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling.New Jersey, Merrill Prentice Hall
  • Corey,G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole.
  • DirektoratPembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi.(2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta:Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan PendidikanTinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.
  • Engels,D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional CounselorCompetencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD.
  • Browers,Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for SchoolCounseling Programs. ASCA (American School Counselor Association).
  • Comm,J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company.
  • Depdiknas.(2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang.
  • Depdiknas,(2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
  • Depdiknas,2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi,
  • Depdiknas,(2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL,
  • Ellis,T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: TheEducational Resources Information Center.
  • GibsonR.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance.New York : MacMillan Publishing Company.
  • Havighurts,R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay.
  • HerrEdwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : ShellCom.
  • Hurlock,Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill BookCompany Inc.
  • KetetapanPengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayananprofessional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimalberkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling.
  • MenteriPendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi.Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
  • MenteriPendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang StandarKompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
  • MichiganSchool Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidanceand Counseling Program.
  • Muro,James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in TheElementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark.
  • PermendiknasNomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan.
  • PeraturanPemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
  • Pikunas,Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd.
  • PusatKurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan danKonseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas.
  • SunaryoKartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis TugasPerkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan danManajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan RisetUnggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI.
  • SyamsuYusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung: CV Bani Qureys.
  • ——–.2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja RosdaKarya.
  • ——–.danJuntika N. (2005). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung : PT.Remaja Rosda Karya.
  • Stoner,James A. (1987). Management. London : Prentice-Hall International Inc.
  • Undang-undangNo 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  • Undang-UndangNomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen
  • WagnerWilliam G. (1996). “Optimal Development in Adolescence : What Is It and HowCan It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Vol 24 No. 3 July’96.
  • Woolfolk,Anita E. 1995. Educational Psychology. Boston : Allyn & Bacon.

 

 
























Fungsi, Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling

Posted by adminbk on November 16, 2010 at 7:12 PM Comments comments (0)

 

Fungsi Bimbingan dan Konselingadalah :


  • Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya( potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama).Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensidirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secaradinamis dan konstruktif.
  • Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli.Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
  • Ada pun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, danbimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konselidalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan,diantaranya : bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, dropout, dan pergaulan bebas (free sex). 
  • Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselorsenantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasahlainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugasperkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming),home room, dan karyawisata.
  • Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuankepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi,sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling,dan remedial teaching.
  • FungsiPenyaluran, yaitu fungsi bimbingan dankonseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai denganminat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupundi luar lembaga pendidikan.
  • Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu parapelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan,minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
  • Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.

 

            Terdapat beberapa prinsip dasar yangdipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan.Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaanyang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan, baik diSekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. Prinsip-prinsip itu adalah:

             Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual).Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.     

              Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja sebagai teamwork.Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling.          

               Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat.  

               Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan.Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan.Keterlaksanaan dan keberhasilanpelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannyaasas-asas berikut.


                Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya.

                Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan.

                Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli.Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.

               Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku.

                Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai dan norma tersebut. Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.Asas Alih Tangan

                   Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain ; dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain.  


DAFTAR RUJUKAN

  • AACE.(2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor.http://aace.ncat.edu
  • AsosiasiBimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan ProfesionalKonselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi).
  • AsosiasiBimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi KonselorIndonesia. Bandung: ABKIN
  • Bandura,A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK:Cambridge University Press.
  • BSNPdan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri:Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNPdan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas.
  • Cobia,Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling.New Jersey, Merrill Prentice Hall
  • Corey,G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole.
  • DirektoratPembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi.(2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta:Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan PendidikanTinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.
  • Engels,D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional CounselorCompetencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD.
  • Browers,Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for SchoolCounseling Programs. ASCA (American School Counselor Association).
  • Comm,J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company.
  • Depdiknas.(2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang.
  • Depdiknas,(2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
  • Depdiknas,2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi,
  • Depdiknas,(2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL,
  • Ellis,T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: TheEducational Resources Information Center.
  • GibsonR.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance.New York : MacMillan Publishing Company.
  • Havighurts,R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay.
  • HerrEdwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : ShellCom.
  • Hurlock,Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill BookCompany Inc.
  • KetetapanPengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayananprofessional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimalberkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling.
  • MenteriPendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi.Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
  • MenteriPendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang StandarKompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
  • MichiganSchool Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidanceand Counseling Program.
  • Muro,James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in TheElementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark.
  • PermendiknasNomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan.
  • PeraturanPemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
  • Pikunas,Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd.
  • PusatKurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan danKonseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas.
  • SunaryoKartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis TugasPerkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan danManajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan RisetUnggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI.
  • SyamsuYusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung: CV Bani Qureys.
  • ——–.2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja RosdaKarya.
  • ——–.danJuntika N. (2005). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung : PT.Remaja Rosda Karya.
  • Stoner,James A. (1987). Management. London : Prentice-Hall International Inc.
  • Undang-undangNo 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  • Undang-UndangNomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen
  • WagnerWilliam G. (1996). “Optimal Development in Adolescence : What Is It and HowCan It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Vol 24 No. 3 July’96.
  • Woolfolk,Anita E. 1995. Educational Psychology. Boston : Allyn & Bacon.