BIMBINGAN DAN KONSELING

SMA NEGERI 20 SURABAYA

Jl. Medokan Semampir No.119 Sukolilo Kota Surabaya Kode POS 60119
No.Telp. 031 593 5720 Faxmile. 031 591 0817
E-Mail : [email protected]

Daftar Isi Post New Entry

Baru

view:  full / summary

DAMPAK NEGATIF DAN POSITIF DARI INTERNET

Posted by adminbk on February 27, 2012 at 1:40 AM Comments comments (0)

1. Dampak Positif dan Negatif Akibat Perkembangan Teknologi Internet

 

Internet adalah jaringan komputer yang terhubung secara internasional dan tersebar di seluruh dunia. Jaringan ini meliputi jutaan pesawat komputer yang terhubung satu dengan yang lainnya dengan memanfaatkan jaringan telepon (baik kabel maupun gelombang elektromagnetik).Jaringan jutaan komputer ini memungkinkan berbagai aplikasi dilaksanakan antar komputer dalam jaringan internet dengan dukungan software dan hardware yang dibutuhkan. Untuk bergabung dalam jaringan ini, satu pihak ( dalam hal ini provider ) harus memiliki program aplikasi serta bank data yang menyediakan informasi dan data yang dapat di akses oleh pihak lain yang tergabung dalam internet.

 

Pihak yang telah tergabung dalam jaringan ini akan memiliki alamat tersendiri ( bagaikan nomor telepon ) yang dapat dihubungi melalui jaringan internet. Provider inilah yang menjadi server bagi pihak-pihak yang memiliki personal komputer ( PC ) untuk menjadi pelanggan ataupun untuk mengakses internet.

 

Sejalan dengan perkembangan zaman, kemajuan teknologi internet juga semakin maju. ‘Internet’ adalah jaringan komputer yang dapat menghubungkan suatu komputer atau jaringan komputer dengan jaringan komputer lain, sehingga dapat berkomunikasi atau berbagi data tanpa melihat jenis komputer itu sendiri.

 

Pada tahun 1999, jumlah komputer yang telah dihubungkan dengan internet di seluruh dunia mencapai lebih dari 40 juta dan jumlah ini terus bertambah setiap hari. Saat ini jumlah situs web mencapai jutaan, bahkan mungkin trilyunan, isinya memuat bermacam-macam topik. Tentu saja, situs-situs itu menjadi sumber informasi baik yang positif ataupun negatif. Informasi dikatakan positif apabila bermanfaat untuk penelitiaan. Di bawah ini akan dijelaskan dampak-dampak positif maupun negatif dari penggunaan internet.

 

Dampak Positif:1. Internet sebagai media komunikasi, merupakan fungsi internet yang paling banyak digunakan dimana setiap pengguna internet dapat berkomunikasi dengan pengguna lainnya dari seluruh dunia. 2. Media pertukaran data, dengan menggunakan email, newsgroup, ftp dan www (world wide web – jaringan situs-situs web) para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat dan murah. 3. Media untuk mencari informasi atau data, perkembangan internet yang pesat, menjadikan www sebagai salah satu sumber informasi yang penting dan akurat. 4. Kemudahan memperoleh informasi yang ada di internet sehingga manusia tahu apa saja yang terjadi. 5. Bisa digunakan sebagai lahan informasi untuk bidang pendidikan, kebudayaan, dan lain-lain 6. Kemudahan bertransaksi dan berbisnis dalam bidang perdagangan sehingga tidak perlu pergi menuju ke tempat penawaran/penjualan.Dampak Negatif

Pornografi

Anggapan yang mengatakan bahwa internet identik dengan pornografi, memang tidak salah. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela.Untuk mengantisipasi hal ini, para produsen ‘browser’ melengkapi program mereka dengan kemampuan untuk memilih jenis home-page yang dapat di-akses.Di internet terdapat gambar-gambar pornografi dan kekerasan yang bisa mengakibatkan dorongan kepada seseorang untuk bertindak kriminal.Violence and Gore

Kekejaman dan kesadisan juga banyak ditampilkan. Karena segi bisnis dan isi pada dunia internet tidak terbatas, maka para pemilik situs menggunakan segala macam cara agar dapat ‘menjual’ situs mereka. Salah satunya dengan menampilkan hal-hal yang bersifat tabu.

 

Penipuan

Hal ini memang merajalela di bidang manapun. Internet pun tidak luput dari serangan penipu. Cara yang terbaik adalah tidak mengindahkan hal ini atau mengkonfirmasi informasi yang Anda dapatkan pada penyedia informasi tersebut.

 

Carding

Karena sifatnya yang ‘real time’ (langsung), cara belanja dengan menggunakan Kartu kredit adalah carayang paling banyak digunakan dalam dunia internet. Para penjahat internet pun paling banyak melakukan kejahatan dalam bidang ini. Dengan sifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi (yang menggunakan Kartu Kredit) on-line dan mencatat kode Kartu yang digunakan. Untuk selanjutnya mereka menggunakan data yang mereka dapatkan untuk kepentingan kejahatan mereka.

 

Perjudian

Dampak lainnya adalah meluasnya perjudian. Dengan jaringan yang tersedia, para penjudi tidak perlu pergi ke tempat khusus untuk memenuhi keinginannya. Anda hanya perlu menghindari situs seperti ini, karena umumnya situs perjudian tidak agresif dan memerlukan banyak persetujuan dari pengunjungnya.1. Mengurangi sifat sosial manusia karena cenderung lebih suka berhubungan lewat internet daripada bertemu secara langsung (face to face). 2. Dari sifat sosial yang berubah dapat mengakibatkan perubahan pola masyarakat dalam berinteraksi. 3. Kejahatan seperti menipu dan mencuri dapat dilakukan di internet (kejahatan juga ikut berkembang).

 

4. Bisa membuat seseorang kecanduan, terutama yang menyangkut pornografi dan dapat menghabiskan uang karena hanya untuk melayani kecanduan tersebut

 

http://yudakuyudz.wordpress.com/2008/03/19/dampak-positif-dan-negatif-akibat-perkembangan-teknologi-internet/

 

2. Dampak Internet pada pergaulan mahasiswa, siswa SD,SMP & SMA

Internet sbg Sarana Komunikasi Mahasiswa

Sejalan dengan perkembangan zaman, kemajuan teknologi internet juga semakin maju. ‘Internet’ adalah jaringan komputer yang dapat menghubungkan suatu komputer atau jaringan komputer dengan jaringan komputer lain, sehingga dapat berkomunikasi atau berbagi data tanpa melihat jenis komputer itu sendiri. Pada tahun 1999, jumlah komputer yang telah dihubungkan dengan internet di seluruh dunia mencapai lebih dari 40 juta dan jumlah ini terus bertambah setiap hari. Saat ini jumlah situs web mencapai jutaan, bahkan mungkin trilyunan, isinya memuat bermacam-macam topik. Tentu saja, situs-situs itu menjadi sumber informasi baik yang positif ataupun negatif. Informasi dikatakan positif apabila bermanfaat untuk penelitiaan.

Quarterman dan Mitchell membagi kegunaan internet dalam empat kategori, yaitu:

Internet sebagai media komunikasi, merupakan fungsi internet yang paling banyak digunakan dimana setiap pengguna internet dapat berkomunikasi dengan pengguna lainnya dari seluruh dunia.

Media pertukaran data, dengan menggunakan email, newsgroup, ftp dan www (world wide web – jaringan situs-situs web) para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat dan murah.

Media untuk mencari informasi atau data, perkembangan internet yang pesat, menjadikan www sebagai salah satu sumber informasi yang penting dan akurat.

Fungsi komunitas, internet membentuk masyarakat baru yang beranggotakan para pengguna internet dari seluruh dunia. Dalam komunitas ini pengguna internet dapat berkomunikasi, mencari informasi, berbelanja, melakukan transaksi bisnis, dan sebagainya. Karena sifat internet yang mirip dengan dunia kita sehari-hari, maka internet sering disebut sebagai cyberspace atau virtual world (dunia maya).

Oleh karena itu, pastilah kita ingin mengetahui fungsi internet serta fasilitas apa, di mana, bagaimana, mengapa, kepada dan dari siapa mahasiswa tersebut menggunakan internet untuk berkomunikasi.

Pada umumnya, para pengguna internet menggunakan internet yang tersedia di warung-warung internet atau yang lebih dikenal dengan istilah ‘warnet’. Hal ini karena biayanya lebih murah dibandingkan dengan menggunakan internet pribadi.

Perlu diketahui bahwa mahasiswa belum bekerja, dan masih bergantung dari dana yang diberikan oleh orang tua mereka. Keadaan ini merupakan salah satu penyebab dimana mereka akan menggunakan komputer yang terhubung dengan internet. Pada umumnya, biaya menggunakan internet adalah sebesar tiga ribu lima ratus rupiah per jam. Tentu saja, biaya ini relatif mahal karena mahasiswa yang masih banyak tergantung dari dana yang diberikan orang tua perhari atau per mingu atau per bulan. Maka, komunikasi para mahasiswa lewat internet menjadi terbatas oleh biaya.

Situs Web

World Wide Web yang sering disingkat www merupakan fasilitas internet yang paling banyak digunakan saat ini di samping email. Situs web adalah informasi yang dapat diakses oleh seluruh pengguna internet dari seluruh dunia dengan menggunakan program yang disebut Web Browser misalnya Netscape Navigator dan Microsoft Internet Explorer. Informasi yang ditempatkan dalam situs web itu dapat berupa tulisan, gambar, animasi, suara, dan video klip.

Sebagai sarana komunikasi , Sistus web tersebut berguna untuk mencari data, berita, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan baru, dan lain lain. Misalnya, melalui pengamatan banyak mahasiswa mengunjungi web situs seperti friendster, detik, satuwanita, yahoo, CNN, Kompas dan sebagainya. Selain itu, mahasiswa bisa mempunyai situs web sendiri untuk menyebarluaskan ide-ide dan pendapat mereka sendiri kepada seluruh dunia.

Walaupun ada banyak manfaat situs web, juga ada banyak masalah. Masalah yang paling besar adalah bahwa informasi yang disebarkan di internet tidak selalu benar. Hal ini terjadi karena situs web tidak harus memberikan informasi yang benar dan akurat, dan tidak ada tanggung jawab atas kebenaran informasi yang disebarluaskan. Masalah yang kedua adalah pornografi yang merupakan dampak negatif. Namun, pornografi itu tidak harus dicari dengan sengaja, bisa saja mendapatkan pornografi dengan pencarian data dan file musik mp3. Dari pengamatan yang mendalam, tiga puluh tiga persen dengan sengaja mencari pornografi di www, dan bukan hanya laki-laki tetapi juga perempuan. Walaupun demikian, kebanyakan adalah mahasiswa yang dengan sengaja mencari pornografi. Sedangkan, yang tidak dengan sengaja mendapatkan pornografi sebanyak lima puluh sembilan persen.

Sering kali, orang ingin mengetahui dari mana asalnya pornografi itu. Biasanya, pornografi yang dicari mahasiswa adalah pornografi Barat, yaitu pornografi yang memuat tentang orang Amerika Serikat, Belanda, Perancis atau negara Barat lain. Namun, semakin lama semakin banyak pornografi Indonesia sudah tersedia melalui internet, dan kadang-kadang pornografi itu melibatkan mahasiswa Indonesia. Baru-baru ini, di internet, ada artikel tentang dua mahasiswa Bandung yang merekam adegan intim dengan kamera video. Tidak disangka, hasil rekaman ini beredar bak VCD porno komersial. Belakangan, file image dan klip yang heboh ini mulai bergentayangan di internet.

Jadi, sisi negatif dari www adalah pornografi yang dengan mudah dilihat dan hal ini memberikan dampak yang buruk bagi generasi muda Indonesia.

Email

Tujuan mahasiswa dalam menggunakan fasilitas internet bermacam-macam. Banyak mahasiswa menggunakan internet untuk penelitian, atau mencari berita asing, tetapi yang paling populer adalah email. Email itu adalah surat menyurat secara elektronik di mana pesan yang dikirimkan akan sampai dalam waktu singkat. Pesan email tidak hanya berupa tulisan tetapi dapat disertai dengan file gambar, suara, animasi, dan lain lain. Selain itu, email dapat dikirimkan kepada ratusan orang hanya dalam satu kali pengiriman. Makanya, email ini menjadi penting untuk komunikasi dalam zaman modern ini, dan terutama bagi para mahasiswa.

Dalam pengamatan rata-rata mahasiswa yang pernah menggunakan internet mempunyai alamat email sendiri. Alamat email mahasiswa itu semuanya bebas biaya seperti yahoomail atau hotmail yang terkenal. Mereka lebih menyukai yahoomail atau hotmail karena iklan-iklan situs web itu berhasil mempengaruhi mereka dan provider email itu sangat terkenal tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.

Tentu saja, email yang diterima tetapi tidak diharapkan bukan hanya SPAM. Virus komputer juga sering diterima lewat email, dan topiknya juga tidak jelas. Sayangnya, belum ada cara untuk menghentikan SPAM dan virus komputer tersebut. Banyak perusahaan email gratis mempunyai ‘SPAM filter’ yang menghentikan penerimaan SPAM tetapi filter ini biasanya tidak efektif. Mungkin di masa depan seseorang akan membuat fiter yang efektif tetapi saat ini SPAM dan virus tetap menjadi masalah besar. Namun demikian, manfaat email masih melebihi dampak negatifnya. Bagi mahasiswa TSM, email masih merupakan sarana komunikasi yang tercepat dan tercanggih untuk berkomunikasi dengan teman dan keluarga. Email sudah menjadi pengganti yang baik dari surat biasa (atau dalam ‘bahasa internet’, snail mail) karena email tersebut diterima pada saat dan waktu yang sama dan tidak bisa dibaca oleh orang lain.

Chatting

Internet Relay Chat atau IRC atau sering disebut dengan chat atau chatting adalah forum diskusi online para pengguna internet dengan menggunakan tulisan sebagai alat untuk berdiskusi. IRC ini menyediakan suatu cara untuk berkomunikasi secara langsung dengan orang-orang di seluruh dunia, dan tentu saja, antara mahasiswa. IRC terdiri dari bermacam-macam jaringan server IRC (mesin-mesin untuk menghubungkan pemakai dengan IRC). Para pengguna memiliki suatu program (yang disebut ‘client’) untuk menghubungkan mereka dengan suatu server dari salah satu jaringan IRC tersebut. Server-server ini yang akan mengirimkan informasi dari satu server dan ke server yang lain dalam jaringan yang sama. Saat ini terdapat ribuan grup chatting dalam berbagai bahasa dan topik.

Dari pengamatan hampir seluruhnya mahasiswa yang sering menggunakan internet juga pernah chatting. Program yang sering digunakan untuk chatting ini adalah mIRC atau Yahoo Messenger.

Didalam chatting ini tidak jarang dari mereka melanjutkan hubungannya dari sekedar ngobrol di internet menjadi sebuah pertemuan langsung atau disebut kopdar (Kopi Darat). Bahkan ada juga yang akhirnya menjalin hubungan kekasih setelah mereka sering mengobrol di internet dan kemudian saling bertemu.

brb

be right back

segera kembai

bbl

be back later

nanti akan kembali

np

no problem

tidak apa-apa

lol

laughing out loud

tertawa terbahak-bahak

asl?

age, sex, location?

Berapa umurmu? Peremupuan/laki-laki? Dari mana?

Hlo mh

hallo #mahasiswa

Join dong

Masuklah!

u kul/ker?

Kamu kuliah atau kerja?

ce

cewek

co

Cowok

Tiga atau Lima tahun yang lalu, penggunaan telepon genggam sudah semakin popular di Indonesia, terutama di antara generasi mudah pada umumnya, dan mahasiswa TSM pada khususnya. Dengan menggunakan fasilitas Short Message Service (SMS), bahasa yang digunakan berkembang sebagaimana layaknya ‘bahasa internet’. Kata-kata yang digunakan dalam ber-SMS sering kali disingkat, dan ejaannya tidak baik dan benar pada saat mengirim pesan kepada teman. Memang, mahasiswa yang sering chatting melalui internet juga mempunyai telepon genggam dan menggunakan ‘bahasa internet’ untuk SMSnya. Jadi, ‘bahasa internet’ juga biasa digunakan untuk ber-SMS. Menurut pendapat saya, penggunaan ‘bahasa internet’ atau ‘bahasa chatting’ itu semakin meluas di masyarakat. Mungkin di masa depan, kita akan mengembangkan bahasa yang baru dengan tata bahasa dan

istilah-istilah baru.

sumber :

http://yayang08.wordpress.com/2008/05/07/dampak-internet-bagi-pelajar/

Tanggung Jawab dan Peran Orang Tua dalam Pendidikan

Posted by adminbk on February 27, 2012 at 1:35 AM Comments comments (0)

Peran Orang Tua

Kisruhnya pendidikan di republik ini berkaitan dengan lemahnya peranan orang tua dan masyarakat. Pendidikan diserahkan hampir sepenuhnya kepada pemerintah.Minim perhatian terhadap apa yang terjadi di seputar pendidikan baik itu guru, kurikulum dan metode pengajaran. Tidak heran pendidikan di republik ini menghasilkan manusia-manusia yang tidak sesuai dengan harapan.

 

Peran orang tua dalam pendidikan tidak bisa dilepaskan dari tugas manusia secara umum. Dari sejarah dapat dilihat bahwa tugas pokok manusia tersimpan dalam kutipan berikut, "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.

Bila dipilah, tugas pertama manusia adalah beranak cucu dan bertambah banyak. Manusia diberi mandat untuk mempunyai keturunan yang berkualitas; baik rohani, intelek, emosi, kehendak dan phisik yang sehat. Dengan kata lain, manusia diperintahkan untuk menghasilkan manusia yang seutuhnya, yaitu manusia yang mirip dengan Penciptanya. Hati, pikiran, emosi, kehendak dan tindakannya seirama dengan hati, pikiran, emosi, kehendak dan tindakan Penciptanya. Ada kemiripan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Pikiran dan tindakan manusia merupakan derivatif dari pikiran dan tindakan Tuhan.

 

Tugas manusia yang kedua adalah memenuhi dan menaklukkan bumi dan menguasai yang ada di dalamnya. Ada hubungan yang tidak terpisahkan antara tugas yang pertama dan yang kedua. Dengan bertambahnya keturunan manusia yang "seutuhnya", diharapkan daerah-daerah yang kosong dapat dihuni, dikuasai, dan dipelihara. Ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi ada dalam kuasa mereka. Mereka harus merawat lingkungan di mana mereka hidup, memelihara tanah agar tetap baik dan subur, menjaga binatang agar tetap lestari. Dengan kata lain, manusia diberi kuasa untuk memelihara dan mengembangkan bumi dan segala isinya.

 

Dalam kedua tugas itu sudah tersimpan esensi pendidikan. Peran orang tua sangat besar dalam mendidik anaknya dan merupakan hal yang alami. Seorang ibu yang melahirkan anak menjaga dan memeliharanya dengan baik. Ibu menyusui anaknya; orang tua memperkenalkan alam kepada anaknya: bunga di halaman rumah, burung dalam sangkar dan yang lain-lain. Mereka terus mendidik anaknya dengan sabar agar dapat mengucapkan kata, berbicara, makan dan berjalan sendiri. Mereka mengenalkan alam kepada anaknya dan memberikan contoh bagaimana melakukan tugas sehari-hari di rumah: mencuci piring, memasak, membersihkan rumah dan sebagainya. Bahkan sampai menginjak dewasa, orang tua masih terus mendidik anaknya agar menjadi anak yang mandiri dan matang, dan dapat menjalani hidupnya sendiri. Selain itu, orang tua memberikan nilai-nilai etis: apa yang baik dan yang tidak baik bagi masyarakat.

 

Apa yang diberikan orang tua kepada putra-putrinya merupakan esensi dari pendidikan secara umum. Orang tua bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya. Orang tua mendidik anaknya tentang prinsip hidup; bagaimana anak seharusnya hidup; bagaimana anak berinteraksi kepada Penciptanya, sesaama manusia dan alam. Meminjam istilah para filosof, orang tua mengajarkan kebenaran kepada putra-putrinya.

Apakah peran orang tua masih dominan dalam pendidikan anak-anaknya sekarang? Tugas itu, bila tidak semuanya, hampir semua sudah diambil alih oleh pemerintah. Hak mendidik anak yang seharusnya merupakan tanggung jawab orang tua, sekarang ada di tangan pemerintah. Pemerintah menentukan kebijakan-kebijakan dalam dunia pendidikan. Pemerintah menentukan apa yang akan diajarkan kepada siswa dan menentukan siapa yang mendidik mereka.

 

Peran pemerintah yang begitu besar mengundang beberapa pertanyaan. Apakah ada garansi bahwa guru mendidik murid seperti orang tua mendidik anaknya? Apakah ada garansi bahwa materi pendidikan sesuai dengan yang diharapkan oleh orang tua? Sejauh mana seharusnya pemerintah menentukan kebijakan pendidikan? Namun, masyarakat tidak begitu perduli dengan hal ini. Kalaupun ada yang peduli, isu-isu yang mereka ajukan tidak diabaikan.

 

Dituntut sebuah kesadaran dan peran orang tua dan masyarakat untuk memperjuangkan pendidikan yang baik. Masih diperlukan banyak pemikiran bagaimana pendidikan yang menghasilkan anak didik yang taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan yang berkarakter.

 

Renungan:

 

Apakah Anda sangat memperhatikan pendidikan anak-anak Anda?

Apakah kriteria Anda untuk memilih sekolah untuk putra-putri Anda?

Hal apa yang memberatkan Anda saat ini dalam hal pendidikan putra-putri Anda?

Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling

Posted by media on July 3, 2011 at 12:16 AM Comments comments (0)

PROGRAM PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

 

Nama Sekolah                         :SMA Negeri 20 Surabaya

Mata Pelajaran                        :Bimbingan dan Konseling

Bidang Bimbingan                  :Bimbingan Pribadi

Tugas Perkembangan              :Mengembangkan pemahaman siswatentang konsep diri dan unsur-unsur konsep diri

Kelas / semester                      :X / Gasal

Waktu                                                 :1 x 45 menit

 

 

1.     Rumusan  Kompetensi

Memiliki pemahaman konsep diri

 

2.     Kompetensi dasar/ materi pengembangan kompetensi

Mampu mengembangkan unsur-unsur konsep diri

 

3.     Pengalaman belajar /Indikator

Menjelaskan bagaimana konsep diri dan unsur-unsur konsepdiri

 

4.     Materi Pokok

-         Konsep diri adalah “gambaran yangdimiliki orang tentang dirinya. Konsep diri ini merupakan gabungan darikeyakinan yang dimiliki orang tentang diri mereka sendiri, karakteristik fisik,psikologis, sosial, dan emosional” (Hurlock, 1993:58) . 

-         Macam-macam konsep diri

Menurut Hurlock (1993:58), secara garis besar konsepdiri dapat dibagi menjadi dua macam yaitu:

Konsep diri primer dan konsep diri sekunder

Konsep diri primer adalah konsep diri yang pertamadiperoleh seorang anak dari lingkungan keluarganya. Misalnya dari ayah, ibu,dan saudara-saudaranya. Konsep diri sekunder adalah konsep diri yang diperolehseorang anak dari luar lingkungan rumah, misalanya dari lingkungan masyarakatdimana ia tinggal, maupun dari lingkungan sekolah

-         Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri

Menurut Loevingan (Arastasi, 1976:117) pembentukankonsep diri dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu:(

1.     Usia

2.     Inteligensi

3.     Pendidikan

4.     Status sosial ekonomi

5.     Reaksi dari orang lain

6.     Peranan seseorang

7.     Indentifikasi terhadap oranglain

8.     Perbandingan dengan orang lain        

         - Kondisi-kondisi yang memperngaruhi konsep diri remaja

            Hurlock (1991:235), mengemukakan beberapa factor yangmempengaruhi konsep diri remaja, 

            yaitu:

            1.     Usia kematangan

            2.     Penampilan diri

            3.     Kepatutan seks

            4.     Nama dan julukan

            5.     Hubungan keluarga

            6.     Teman-teman sebaya

            7.     Kreaktivitas

            8.     Cita-cita

 

5.     Alat dan media pembelajaran

        Spidol papan tulis dan buku catatan

 

6.     Metode layanan

        Ceramah dan Tanya jawab

 

7.     Strategi Layanan

a.      kegiatan awal ± 10 menit

-         Guru menyampaikan salam

-         Guru menanyakan kehadiran siswa

-         Guru menginformasikan materilayanan yang akan dipelajari dan kompetensi dasar yang harus dicapai

 

b.      kegiatan inti ± 25 menit

-         Murid memperhatikan informasiyang disampaikan oleh guru pembimbing

-         Dengan bimbingan guru, muridberupaya mengenal/memahami konsep diri

 

c.       Kegitan Akhir ± 10 menit

-         Siswa diberi kesempatanbertanya

-         Siswa mengumpulkan tugas

 

8.     Penilaian

Pemberian tugas

1.     Seperti apakah saya?

2.     Selama ini, menurut orang lain,seperti apakah saya?

3.     Seperti apakah saya pada waktuyang akan datang?

 

9.     Bahan dan Sumber

1.     Modul pelayanan Bimbingan danKonseling sanggar Bimbingan danKonseling DKI Djakarta.

2.     Hurlock, Elisabeth (1993). Perkembangan Anak Djakarta:Penerbit Airlangga

3.     Pudjijogyanti. Clara R. (1998).Konsep Diri Dalam Pendidikan  Djakarta: penerbit arcan

 

 

 

Mengetahui,                                                                      GuruBK

Kepala SMA Negeri 20 Surabaya                                                

 

 

 

 

Drs. R. Achmad Djunaidi, M.Pd                                   SriWiludjeng, S.Pd   

Pembina Tk. I                                                                    NIP.19700906 200801 2 014

NIP. 19641211 198903 1 014

 

 

Kompetensi Pedagogik

Posted by media on July 3, 2011 at 12:10 AM Comments comments (0)

1.     KOMPETENSI PEDAGOGIK

a.       Memahami karakteristik peserta didik dan aspek fisik,social, moral, kultural, emosional, dan intelektual

Contoh ;

1.        Mengkajikarakteristik perilaku anak yang berbakat

2.        Berlatihmengembangkan kegiatan pengayaan bagi peserta didik berbakat.

3.        Berlatihmerancang kegiatan untuk peserta didik dengan kebutuhan khusus.

b.      Memahami latar belakang keluarga dan masyarakat pesertadidik dan kebutuhan belajar dalam konteks kebhinekaan budaya.

Contoh :

1.      Berlatih menganalisis situasi dan kondisi keluargadalam kaitannya dengan proses pembelajaran.

2.      Berlatih melakukan lingkungan dan masyarakat.

c.       Memahami gaya belajar dan kesulitan belajar pesertadidik.

Contoh :

1.      Mengkaji berbagai gaya belajar peserta didik.

2.      Berlatih mengidentifikasi gaya belajar peserta didik.

3.      Berlatih mengidentifikasi gejala-gejala kesulitanbelajar.

d.      Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik.

Contoh :

1.      Mengkaji dan mengidentifikasi potensi peserta didik.

2.      Mengoptimalkan pemberdayaan sumber belajar untukpengembangan potensi peserta didik.

 

 

e.       Menguasai teori dan prinsip belajar serta pembelajaranyang mendidik

Contoh :

1.      Mengkaji landasan filosofis pembelajaran

2.      Mengkaji teori dan prinsip belajar serta pembelajaran

f.       Mengembangkan kurikulum yang mendorong keterlibatanpeserta didik dalam pembelajaran

1.      Berlatih menganalisis kurikulum

2.      Berlatih mengembangkan berbagai media pembelajarankontekstual

g.      Merancang pembelajaran yang mendidik

Contoh :

1.      Mengkaji teori, prinsip, dan model rancanganpembelajaran

2.      Berlatih menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasiberbagai  model rancangan pembelajaran.

h.      Melaksanakan pembelajaran yang mendidik

1.      Berlatih menerpakan keterampilan dan mengajar.

2.      Berlatih menciptakan lingkungan belajar yang kondusif,

i.       Mengevaluasiproses dan hasil pembelajaran

Contoh :

a.       Berlatih melaksanakan evaluasi proses dan hasilbelajar

b.      Berlatih menganalisis hasil evaluasi proses dan hasilpembelajaran

 

 

 

 

 

2.     KOMPETENSI KEPRIBADIAN

a.       Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil,dewasa, arif, dan berwibawa.

Contoh :

1.      Berlatih membiasakan diri untuk menerima dan memberkritik dan saran.

2.      Berlatih menbiasakan diri mentaati peraturan.

b.      Menampilkan diri sebagai pribadi yang berakhlak muliada sebagai teladan bagi peserta didik dan masyarakat.

Contoh :

1.      Berlatih membiasakan diri berperilaku santun

2.      Berlatih membiasakan diri berperilaku yangmencerminkan keimanan dan ketakwaan.

c.       Mengevaluasi kinerja sendiri.

Contoh :

1.      Berlatih mengevaluasi kinerja sendiri

2.      Berlatih menerima kritik dan saran dan peserta didik

d.      Mengmbangkan diri secara berkelanjutan.

Contoh :

1.      Mengikuti berbagai kegiatan yang menunjangpengembangkan profesi guru

2.      Berlatih mengembangkan dan menyelenggarakan kegiatanyang menunjang profesi guru.

 

 

 

 

 

3.     KOMPETENSI SOSIAL

a.       Berkomunikasi secara efektif dan empatik denganpeserta didik, orang tua peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan,dan masyrakat.

Contoh :

1.      Mengkaji hakikat dan prinsip-prinsip komunikasi yangefektif dan empatik

2.      Berlatih berkomunikasi secara efektif dan empatik

3.      Berlatih mengevaluasi komunikasi yang efektif danempati

b.      Berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan disekolah dan masyarakat

Contoh :

1.      Berlatih merancang berbagai program untukmengembangkan pendidikan di sekolah dan lingkungan sekitar.

2.      Berlatih berperan serta dalam penyelenggaraan berbagaiprogram di sekolah dan lingkungannya,

c.       Berkontribusi terhadap pengembnagan pendidikan ditingkat lokal, regional, nasional, dan global.

Contoh :

1.      Berlatih mengembangkan alternatif pemecahanmasalah-masalah pendidikan pada tataran lokal, regional, dan nasional.

2.      Berlatih merancang program pendidikan pada tataranlokal, regional, dan nasional.

d.      Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT)untuk berkomunikasi dan nengembangkan diri.

Contoh :

1.      Mengkaji perangkat ICT

2.      Berlatih mengoperasikan berbagai peralatan ICT untukkomunikasi.

 

4.     KOMPETENSI PROFESIONAL

a.       Menguasi substansi bidang studi dan metodologikeilmuannya

Contoh :

1.      Mengkaji substansi bidang studi.

2.      Mengkaji metologi keilmuan bidang stusi.

b.      Menguasai struktur dan materi kurikulum bidang studi

Contoh :

1.      Mengkaji bahan ajar bidang studi

2.      Berlatih mengembangkan bahan ajar bidang studi

c.       Menguasi dan memanfatkan teknologi informasi dankomunikasi dalam pembelajaran

Contoh :

1.      Mengkaji berbagai jenis teknologi informasi dankomunikasi dalam pembelajaran.

2.      Memilih berbagai jenis teknologi informasi dankomunikasi dalam pembelajaran secara kontekstual.

d.      Mengorganisasikan materi kurikulum bidang studi

Contoh ;

1.      Berlatih memilih substansi, cakupan, dan tata urutmateri pembelajaran secara kontekstual.

2.      Berlatih mengidentifikasi substansi materi bidangstudi yang sesuai dengan perkembangan dan potensi peserta didik.

e.       Meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penelitiantindakan kelas

Contoh :

1.      Mengkaji hakekat penelitian tindakan kelas

2.      Berlatih mengidentifikasi dan menganalisispermasalahan pembelajaran.

 

 


Manajemen Pendidikan Dalam Menghadapi Kreativitas Anak

Posted by adminbk on May 15, 2011 at 6:55 PM Comments comments (7)

Banyak kalangan yang belum puas dengan kualitas pendidikan di negarakita. Tentunya kita tidak jarang mendengarkan ungkapan-ungkapanseperti: “pendidikan negara kita belum berkualitas”, “pendidikan diIndonesia telah tertinggal jauh dari negara-negara lain”, “kapan kitaakan maju kalau pendidikan kita berjalan di tempat”, dan lainsebagainya.Para ahli pendidikan telah sepakat bahwa suatu sistem pendidikandapat dikatakan berkualitas, apabila proses kegiatan belajar-mengajarberjalan secara menarik dan menantang sehingga peserta didik dapatbelajar sebanyak dan sebaik mungkin melalu proses belajar yangberkelanjutan. Proses pendidikan yang bermutu akan menghasilkan hasliyang bermutu serta relevan dengan perkembangan zaman. Agar terwujudsebuah pendidikan yang bermutu dan efisien, maka perlu disusun dandilaksanakan program-program pendidiakn yang mampu membelajarkanpeserta didik secara berkelanjutan, karena dengan mutu pedidikan yangoptimal, diharapkan akan menghasilkan keungugulan smber daya manusiayang dapat menguasai pengetahuan, keterampilan dan keahlian sesuaidengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang secarapesat.

Untuk dapat mencapai sebuah pendidikan yang berkualitas diperlukanmanajemen pedidikan yang mampu memobilisasi segala sumber dayapendidikan. Di antaranya adalah manajemen peserta didik yang isinyamerupakan pengelolaan dan juga pelaksanaannya. Masih banyak kitatemukan fakta-fakta di lapangan sistem pengelolaan anak didik yangmasih mengunakan cara-cara konvensional dan lebih menekankanpengembangan kecerdasan dalam arti yang sempit dan tentunya kurangmmberi perhatian kepada pengembangan bakat kreatif peserta didik.Padahal Kreativitas disamping bermanfaat untuk pengembangan diri anakdidik juga merupakan kebutuhan akan perwujudan diri sebagai salah satukebutuhan paling tinggi bagi manusia. Kreativitas adalah prosesmerasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentangkekurangan, menilai dan meguji dugaan atau hipotesis, kemudianmengubahnya dan mengujinya lagi sampai pada akhirnya menyampaikanhasilnya. Dengan adanya kreativitas yang diimplementasiakan dalamsistem pembelajaran, peserta didik nantinya diharapkan dapat menemukanide-ide yang berbeda dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehinggaide-ide kaya yang progresif dan divergen pada nantinya dapat bersaingdalam kompetisi global yang selalu berubah.

Perubahan kualitas yang seimbang baik fisik maupun mental merupakanidikasi dari perkambangan anak didik yang baik. Tidak ada satu aspekperkambangan dalam diri anak didik yang dinilai lebih penting dari yanglainnya. Oleh itu tidaklah salah bila teori kecerdasan majmuk yangdiutarakan oleh Gardner dinilai dapat memenuhi kecenderunganperkambangan anak didik yang bervariasi.

Maka penyelenggaraan pendidikan saat ini harus diupayakan untukmemberikan pelayanan khusus kepada peserta didik yang mempunyaikreativitas dan juga keberbakatan yang berbeda agar tujuan pendidikandapat diarahkan menjadi lebih baik.

Muhibbin Syah menjelaskan bahwa akar kata dari pendidikan adalah“didik” atau “mendidik” yang secara harfiah diartikan memelihara danmemberi latihan. Sedangkan “pendidikan”, merupakan tahapan-tahapankegiatan mengubah sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orangmelalui upaya pelatihan dan pengajaran. Hal ini mengindikasikan bahwapendidikan tidak dapat lepas dari pengajaran. Kegiatan dari pengajaranini melibatkan peserta didik sebagai penerima bahan ajar dengan maksudakhir dari semua hal ini sesuai yang diamanatkan dalam undang-undangno. 20 tentang sisdiknas tahun 2003; agar peserta didik secara aktifmengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritualkeagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, sertaketerampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam pdidikan, peserta didik merupakan titik fokus yang strategiskarena kepadanyalah bahan ajar melalu sebuah proses pengajarandiberikan. Dan sudah mafhum bahwa peserta didik memiliki kekurangan dankelebihannya masing-masing, mereka unik dengan seluruh potensi dankapasitas yang ada pada diri mereka dan keunikan ini tidak dapatdiseragamkan dengan satu aturan yang sama antara pesrta didik yang satudengan peserta didik yang lain. Para pendidik dan lembaga pendidikanharus menghargai perbedaan yang ada pada mereka. Keunikan yang terjadipada peserta didik memang menimbulkan satu permasalahan tersendiri yangharus diketahui dan dipecahkan sehingga pengelolaan murid (pesertadidik) dalam satu kerangka kerja yang terpadu mutlak diperhatikan,terutama pertimbangan pada pengembangan kreativitas, hal ini harusmenjadi titik perhatian karena sistem pendidikan memang masih diakuilebih menekankan pengembangan kecerdasan dalam arti yang sempit dankurang memberikan perhatian kepada pengembangan kreatif peserta didik.Hal ini terjadi dari konsep kreativitas yang masih kurang dipahamisecara holistic, juga filsafat pendidikan yang sejak zaman penjajahanbermazhabkan azas tunggal seragam dan berorientasi padakepentingan-kepentingan, sehingga pada akhirnya berdampak pada caramengasuh, mendidik dan mengelola pembelajaran peserta didik.

Kebutuhan akan kreativitas tampak dan dirasakan pada semua kegiatanmanusia. Perkembangan akhir dari kreativitas akan terkait dengan empataspek, yaitu: aspek pribadi, pendorong, proses dan produk. Kreativitasakan muncul dari interaksi yang unik dengan lingkungannya.Kreativitasadalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaantentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan mengujinya. Proseskreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan (motivasiintristik) maupun dorongan eksternal. Motivasi intrinstik ini adalahintelegensi, memang secara historis kretivitas dan keberbakatandiartikan sebagai mempunyai intelegensi yang tinggi, dan tesintellejensi tradisional merupakan ciri utama untuk mengidentifikasikananak berbakat intelektual tetapi pada akhirnya hal inipun menjadimasalah karena apabila kreativitas dan keberbakatan dilihat dariperspektif intelejensi berbagai talenta khusus yang ada pada pesertadidik kurang diperhatikan yang akhirnya melestarikan dan mengembangbiakkan Pendidikan Tradisional Konvensional yang berorientasi dansangat menghargai kecerdasan linguistik dan logika matematik. Padahal,Teori psikologi pendidikan terbaru yang menghasilkan revolusi paradigmapemikiran tentang konsep kecerdasan diajukan oleh Prof. Gardner yangmengidentifikasikan bahwa dalam diri setiap anak apabila dirinyaterlahir dengan otak yang normal dalam arti tidak ada kerusakan padasusunan syarafnya, maka setidaknya terdapat delapan macam kecerdasanyang dimiliki oleh mereka.

Undang-undang No.20 tentang sistem pendidikan nasional 2003,perundangan itu berbunyi ” warga negara yang memiliki kelainan fisik,emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperolehpendidikan khusus”. Baik secara tersurat ataupun tersirat UU No.20tersebut telah mengamanatkan untuk adanya pengelolaan pelayanan khusubagi anak-anak yang memiliki bakat dan kreativitas yang tinggi.

Pengertian dari pendidikan khusus disini merupakan penyelenggaraanpendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yangmemiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusifatau berupa satuan pendidikan-pendidikan khusus pada tingkat pendidikandasar dan menengah. Pada akhirnya memang diperlukan adanya suatu usaharasional dalam mengatur persoalan-persoalan yang timbul dari pesertadidik karena itu adanya suatu manajemen peserta didik merupakan halyang sangat penting untuk diperhatikan.

Siswa berbakat di dalam kelas mungkin sudah menguasai materi pokokbahasan sebelum diberikan. Mereka memiliki kemampuan untuk belajarketerampilan dan konsep pembelajaran yang lebih maju. Untuk menunjangkemajuan peserta didik diperlukan modifikasi kurikulum. Kurikulumsecara umum mencakup semua pengalaman yang diperoleh peserta didik disekolah, di rumah, dan di dalam masyarakat dan yang membantunyamewujudkan potensi-potensi dirinya. Jika kurikulum umum bertujuan untukdapat memenuhi kebutuhan pendidikan pada umumnya, maka saat iniharuslah diupayakan penyelenggaraan kurikulum yang berdiferensi untukmemberikan pelayanan terhadap perbedaan dalam minat dan kemampuanpeserta didik. Dalam melakukan kurikulum yang berbeda terhadap pesertadidik yang mempunyai potensi keberbakatan yang tinggi, guru dapatmerencanakan dan menyiapkan materi yang lebih kompleks, menyiapkanbahan ajar yang berbeda, atau mencari penempatan alternatif bagi siswa.Sehingga setiap peserta didik dapat belajar menurut kecepatannyasendiri.

Dalam paradigma berpikir masyarakat Indonesia tentang kreativitas,cukup banyak orangtua dan guru yang mempunyai pandangan bahwakreativitas itu memerlukan iklim keterbukaan dan kebebasan, sehinggamenimbulkan konflik dalam pembelajaran atau pengelolaan pendidikan,karena bertentangan dengan disiplin. Cara pandang ini sangatlah tidaktepat. Kreativitas justru menuntut disiplin agar dapat diwujudkanmenjadi produk yang nyata dan bermakna. Displin disini terdiri daridisiplin dalam suatu bidang ilmu tertentu karena bagaimanapunkreativitas seseorang selalu terkait dengan bidang atau domaintertentu, dan kreativitas juga menuntut sikap disiplin internal untuktidak hanya mempunyai gagasan tetapi juga dapat sampai pada tahapmengembangkan dan memperinci suatu gagasan atau tanggungjawab sampaituntas.

Suatu yang tidak terbantahkan jika masa depan membutuhkan generasiyang memiliki kemampuan menghadapi tantangan dan perubahan yang terjadidalam era yang semakin mengglobal. Tetapi penyelenggaraan pendidikan diIndonesia saat ini belum mempersiapkan para peserta didik dengankemampuan berpikir dan sikap kreatif yang sangat menentukankeberhasilan mereka dalam memecahkan masalah.

Kebutuhan akan kreativitas dalam penyelenggaraan pendidikan dewasaini dirasakan merupakan kebutuhan setiap peserta didik. Dalam masapembangunan dan era yang semakin mengglobal dan penuh persaingan inisetiap individu dituntut untuk mempersiapkan mentalnya agar mampumenghadapi tantangan-tantangan masa depan. Oleh karena itu,pengembangan potensi kreatif yang pada dasarnya ada pada setiap manusiaterlebih pada mereka yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasaperlu dimulai sejak usia dini, Baik itu untuk perwujudan diri secarapribadi maupun untuk kelangsungan kemajuan bangsa.

Dalam pengembangan bakat dan kreativitas haruslah bertolak darikarakteristik keberbakatan dan juga kreativitas yang perlu dioptimalkanpada peserta didik yang meliputi ranah kognitif, afektif, danpsikomotor. Motivasi internal ditumbuhkan dengan memperhatikan bakatdan kreativitas individu serta menciptakan iklim yang menjaminkebebasan psikologis untuk ungkapan kreatif peserta didik di lingkunganrumah, sekolah, dan masyarakat.

Merupakan suatu tantangan bagi penyelenggaraan pendidikan diIndonesia untuk dapat membina serta mengembangkan secara optimal bakat,minat, dan kemampuan setiap peserta didik sehingga dapat mewujudkanpotensi diri sepenuhnya agar nantinya dapat memberikan sumbangan yangbermakna bagi pembangunan masyarakat dan negara. Teknik kreatif ataupuntaksonomi belajar pada saat ini haruslah berfokus pada pengembanganbakat dan kreativitas yang diterapkan secara terpadu danberkesinambungan pada semua mata pelajaran sesuai dengan konsepkurikulum berdiferensi untuk siswa berbakat. Dengan demikian diharapkannantinya akan dihasilkan produk-produk dari kreativitas itu sendiridalam bidang sains, teknologi, olahraga, seni dan budaya. Amin

Daftar Pustaka

_________ Depdikanas, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun2003 Tentang Pendidikan Nasional, Jakarta: Depdiknas, 2003.

Tilaar, Manajemen Pendidikan nasional ; Kajian Pendidikan Masa Depan, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1992.

Munandar, Utami, Kreativitas dan Keberbakatan; Strategi MewujudkanPotensi Kreatif dan Bakat, Jakarta : PT. Gramedia Pusataka Utama, 1999.

Husen dan Torsten, The Learning Society : Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada 1995.

Syah,Muhibbin, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Terbaru, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 1999.

Gordon Dryden dan Jeannette Voss, Revolusi Cara Belajar bag.1, Bandung : Kaifa 2000

 


Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA

Posted by adminbk on May 15, 2011 at 6:50 PM Comments comments (0)

Dalam PermendiknasNo. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yangharus dicapai peserta didik, melalui proses pembelajaran berbagai matapelajaran. Namun, sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebutsama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai pesertadidik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. Oleh karena itu,Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatifuntuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh pesertadidik, mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi, dalam bentuknaskah akademik, untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknasdalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling diIndonesia.

Dalam kontekspembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan(SKL), sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling StandarKompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK), yangdi dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP)dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). Kesebelas aspekperkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius; (2) Landasanperilaku etis; (3) Kematangan emosi; (4) Kematangan intelektual; (5)Kesadaran tanggung jawab sosial; (6) Kesadaran gender; (7) Pengembangandiri; (8) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis); (9)Wawasan dan kesiapan karier; (10) Kematangan hubungan dengan temansebaya; dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanyauntuk SLTA dan PT). Masing-masing aspek perkembangan memiliki tigadimensi tujuan, yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperolehpengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standarkompetensi] yang harus dikuasai); (2) akomodasi (memperoleh pemaknaandan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standarkompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalamkehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standarkompetensi] yang harus dikuasai).

Aspek perkembangandan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa denganmengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip, kaidah-kaidah dantugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu.

Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas

STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK

PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS

No

Aspek Perkembangan

Tataran/Internalisasi Tujuan

Pengenalan

Akomodasi

Tindakan

1

Landasan hidup religiusMempelajari hal ihwal ibadahMengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragamaMelaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi2

Landasan perilaku etisMengenal keragaman sumber norma yang berlaku di masyaraakat Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusanBerperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek etis3

Kematangan emosiMempelajari cara-cara menghindari konflik dengan orang lainBersikap toleran terhadap ragam ekspresi perasaan diri sendiri dan orang lainMengekspresikan perasaan dalam cara-cara yang bebas,terbuka dan tidak menimbulkan konflik4

Kematangan intelektualMempelajari cara-cara pengambilan keputusan dan pemecahan masalah secara objektifMenyadari akan keragaman alternatif keputusan dan konsekuensi yang dihadapinyaMengambil keputusan dan pemecahan masalah atas dasar informasi/data secara obyektif 5

Kesadaran tanggung jawab sosialMempelajari keragaman interaksi sosialMenyadari nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalam konteks keragaman interaksi sosialBerinteraksi dengan orang lain atas dasar kesamaan6

Kesadaran genderMempelajari perilaku kolaborasi antar jenis dalam ragam kehidupanMenghargai keragaman peraan laki-laki atau perempuan sebagai aset kolaborasi dan keharmonisan hidupBerkolaborasi secara harmonis dengan lain jenis dalam keragaman peran7

Pengembangan diriMempelajari keunikan diri dalam konteks kehidupan sosialMenerima keunikan diri dengan segala kelebihan dan kekurangannyaMenampilkan keunikan diri secara harmonis dalam keragaman8

Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis)Mempelajari strategi dan peluang untuk berperilaku hemat,ulet, sengguh-sungguh dan kompetitif dalam keragaman kehidupanMenerima nilai-nilai hidup hemat,ulet sungguh-sungguh dan kompetitif sebagai aset untuk mencapai hidup mandiriMenampilkan hidup hemat, ulet, sungguh-sungguh dan kompetitif atas dasar kesadaran sendiri9

Wawasan dan kesiapan karierMempelajarikemampuan diri, peluang dan ragam pekerjaan, pendidikan, dan aktifitasyang terfokus pada pengembangan alternatif karir yang lebih terarahInternalisasi nilai-niolai yang melandasi pertimbangan pemilihan alternatif karirMengembangkan alternatif perencanaan karir dengan mempertimbangkan kemampuan, peluang dan ragam karir10

Kematangan hubungan dengan teman sebayaMempelajari cara-cara membina dan kerjasama dan toleransi dalam pergaulan dengan teman sebayaMenghargai nilai-nilai kerjasama dan toleransi sebagai dasar untuk menjalin persahabatan dengan teman sebayaMempererat jalinan persahabatan yang lebih akrab dengan memperhatikan norma yang berlaku11

Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluargaMengenal norma-norma pernikahan dan berkeluargaMengharagai norma-norma pernikahan dan berkeluarga sebagai landasan bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis Mengekspresikan keinginannya untuk mempelajari lebih intensif tentang norma pernikahan dan berkeluarga

Sumber:

Depdiknas.2007.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.Jakarta.

 


PERAN GURU KELAS DALAM PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR

Posted by adminbk on May 15, 2011 at 6:41 PM Comments comments (0)

Judul: PERAN GURU KELAS DALAM PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR

Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.

Nama & E-mail (Penulis): Rustantiningsih

Saya Guru di SDN Anjasmoro Semarang

Topik: Bimbingan Konseling

Tanggal: 8 Juli 2008 PERAN GURU KELAS DALAM PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR

Oleh: Rustantiningsih

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional no. 20 tahun 2003 pasal 3dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuandan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalamrangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnyapotensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwakepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis sertabertanggung jawab.

Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional maka dirumuskantujuan pendidikan dasar yakni memberi bekal kemampuan dasar kepadasiswa untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggotamasyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkansiswa untuk mengikuti pendidikan menengah (pasal 3 PP nomor 28 tahun1990 tentang Pendidikan Dasar).

Pendidikan dasar merupakan pondasi untuk pendidikanselanjutnya dan pendidikan nasional. Untuk itu aset suatu bangsa tidakhanya terletak pada sumber daya alam yang melimpah, tetapi terletakpada sumber daya alam yang berkualitas. Sumber daya alam yangberkualitas adalah sumber daya manusia, maka diperlukan peningkatansumber daya manusia Indonesia sebagai kekayaan negara yang kekal dansebagai investasi untuk mencapai kemajuan bangsa.

Bimbingan konseling adalah salah satu komponen yang pentingdalam proses pendidikan sebagai suatu sistem. Hal ini sesuai dengan apayang dikemukakan oleh Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang bahwa prosespendidikan adalah proses interaksi antara masukan alat dan masukanmentah. Masukan mentah adalah peserta didik, sedangkankan masukan alatadalah tujuan pendidikan, kerangka, tujuan dan materi kurikulum,fasilitas dan media pendidikan, system administrasi dan supervisipendidikan, sistem penyampaian, tenaga pengajar, sistem evaluasi sertabimbingan konseling (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990:58).

Bimbingan merupakan bantuan kepada individu dalam menghadapipersoalan-persoalan yang dapat timbul dalam hidupnya. Bantuan semacamitu sangat tepat jika diberikan di sekolah, supaya setiap siswa lebihberkembang ke arah yang semaksimal mungkin. Dengan demikian bimbinganmenjadi bidang layanan khusus dalam keseluruhan kegiatan pendidikansekolah yang ditangani oleh tenaga-tenaga ahli dalam bidang tersebut.

Di Sekolah Dasar, kegiatan Bimbingan Konseling tidak diberikanoleh Guru Pembimbing secara khusus seperti di jenjang pendidikan SMPdan SMA. Guru kelas harus menjalankan tugasnya secara menyeluruh, baiktugas menyampaikan semua materi pelajaran (kecuali Agama dan Penjaskes)dan memberikan layanan bimbingan konseling kepada semua siswa tanpaterkecuali.

Dalam konteks pemberian layanan bimbingan konseling, Prayitno(1997:35-36) mengatakan bahwa pemberian layanan bimbingan konselingmeliputi layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran,pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan konselingkelompok.

Guru Sekolah Dasar harus melaksanakan ketujuh layanan bimbingankonseling tersebut agar setiap permasalahan yang dihadapi siswa dapatdiantisipasi sedini mungkin sehingga tidak menggangu jalannya prosespembelajaran. Dengan demikian siswa dapat mencapai prestasi belajarsecara optimal tanpa mengalami hambatan dan permasalahan pembelajaranyang cukup berarti.

Realitas di lapangan, khususnya di Sekolah Dasar menunjukkanbahwa peran guru kelas dalam pelaksanaan bimbingan konseling belumdapat dilakukan secara optimal mengingat tugas dan tanggung jawab gurukelas yang sarat akan beban sehingga tugas memberikan layanan bimbingankonseling kurang membawa dampak positif bagi peningkatan prestasibelajar siswa.

Selain melaksanakan tugas pokoknya menyampaikan semua matapelajaran, guru SD juga dibebani seperangkat administrasi yang harusdikerjakan sehingga tugas memberikan layanan bimbingan konseling belumdapat dilakukan secara maksimal. Walaupun sudah memberikan layananbimbingan konseling sesuai dengan kesempatan dan kemampuan, namunagaknya data pendukung yang berupa administrasi bimbingan konselingjuga belum dikerjakan secara tertib sehingga terkesan pemberian layananbimbingan konseling di SD "asal jalan".

Dalam Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang BimbinganKonseling tersirat bahwa suatu sistem layanan bimbingan dan konselingberbasis kompetensi tidak mungkin akan tercipta dan tercapai denganbaik apabila tidak memiliki sistem pengelolaan yang bermutu. Artinya,hal itu perlu dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Untukitu diperlukan guru pembimbing yang profesional dalam mengelolakegiatan Bimbingan Konseling berbasis kompetensi di sekolah dasar.

Berdasar latar belakang tersebut di atas, penulis tergerakuntuk melakukan telaah mengenai peran guru kelas dalam pelaksanaanBimbingan Konseling di Sekolah Dasar.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka persoalan mendasar yanghendak ditelaah dalam makalah ini adalah bagaimana peran guru kelasdalam pelaksanaan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar?

B. PEMBAHASAN

1. Hakikat Bimbingan dan Konsling di SD

M. Surya (1988:12) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatuproses pemberian atau layanan bantuan yang terus menerus dan sistematisdari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai perkembangan yangoptimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan.

Bimbingan ialah penolong individu agar dapat mengenal dirinyadan supaya individu itu dapat mengenal serta dapat memecahkanmasalah-masalah yang dihadapi di dalam kehidupannya (Oemar Hamalik,2000:193).

Bimbingan adalah suatu proses yang terus-menerus untukmembantu perkembangan individu dalam rangka mengembangkan kemampuannyasecara maksimal untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya, baikbagi dirinya maupun bagi masyarakat (Tim Pengembangan MKDK IKIPSemarang, 1990:11).

Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik sebuah inti saribahwa bimbingan dalam penelitian ini merupakan suatu bentuk bantuanyang diberikan kepada individu agar dapat mengembangkan kemampuannyaseoptimal mungkin, dan membantu siswa agar memahami dirinya (selfunderstanding), menerima dirinya (self acceptance), mengarahkan dirinya(self direction), dan merealisasikan dirinya (self realization).

Konseling adalah proses pemberian yang dilakukan melaluiwawancara konseling oleh seorang ahli kepada individu yang sedangmengalami suatu masalah yang bermuara pada teratasinya masalah yangdihadapi oleh klien (Prayitno, 1997:106).

Konseling merupakan upaya bantuan yang diberikan kepadaseseorang supaya dia memperoleh konsep diri dan kepercayaan pada dirisendiri, untuk dimanfaatkan olehnya dan memperbaiki tingkah lakunyapada masa yang akan datang (Mungin Eddy Wibowo, 1986:39).

Dari pengertin tersebut, dapat penulis sampaikan ciri-ciri pokok konseling, yaitu:

(1) adanya bantuan dari seorang ahli,

(2) proses pemberian bantuan dilakukan dengan wawancara konseling,

(3)bantuan diberikan kepada individu yang mengalami masalah agarmemperoleh konsep diri dan kepercayaan diri dalam mengatasi masalahguna memperbaiki tingkah lakunya di masa yang akan datang.

2. Perlunya Bimbingan dan Konseling di SD

Jika ditinjau secara mendalam, setidaknya ada tiga hal utama yangmelatarbelangi perlunya bimbingan yakni tinjauan secara umum, sosiokultural dan aspek psikologis. Secara umum, latar belakang perlunyabimbingan berhubungan erat dengan pencapaian tujuan pendidikannasional, yaitu: meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesiayaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa,berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras,tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehatjasmani dan rohani.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut sudah barang tentu perlumengintegrasikan seluruh komponen yang ada dalam pendidikan, salahsatunya komponen bimbingan.

Bila dicermati dari sudut sosio kultural, yang melatar belakangiperlunya proses bimbingan adalah adanya perkembangan ilmu pengetahuandan teknologi yang pesat sehingga berdampak disetiap dimensi kehidupan.Hal tersebut semakin diperparah dengan laju pertumbuhan penduduk yangtinggi, sementara laju lapangan pekerjaan relatif menetap.

Menurut Tim MKDK IKIP Semarang (1990:5-9) ada lima hal yang melatarbelakangi perlunya layanan bimbingan di sekolah yakni:

(1) masalah perkembangan individu,

(2) masalah perbedaan individual,

(3) masalah kebutuhan individu,

(4) masalah penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku, dan

(5) masalah belajar

3. Fungsi Bimbingan dan Konseling di SD

Sugiyo dkk (1987:14) menyatakan bahwa ada tiga fungsi bimbingan dan konseling, yaitu:

a. Fungsi penyaluran ( distributif )

Fungsi penyaluran ialah fungsi bimbingan dalam membantumenyalurkan siswa-siswa dalam memilih program-program pendidikan yangada di sekolah, memilih jurusan sekolah, memilih jenis sekolahsambungan ataupun lapangan kerja yang sesuai dengan bakat, minat,cita-cita dan ciri- ciri kepribadiannya. Di samping itu fungsi inimeliputi pula bantuan untuk memiliki kegiatan-kegiatan di sekolahantara lain membantu menempatkan anak dalam kelompok belajar, danlain-lain.

b. Fungsi penyesuaian ( adjustif )

Fungsi penyesuaian ialah fungsi bimbingan dalam membantu siswauntuk memperoleh penyesuaian pribadi yang sehat. Dalam berbagai teknikbimbingan khususnya dalam teknik konseling, siswa dibantu menghadapidan memecahkan masalah-masalah dan kesulitan-kesulitannya. Fungsi inijuga membantu siswa dalam usaha mengembangkan dirinya secara optimal.

c. Fungsi adaptasi ( adaptif )

Fungsi adaptasi ialah fungsi bimbingan dalam rangka membantu stafsekolah khususnya guru dalam mengadaptasikan program pengajaran denganciri khusus dan kebutuhan pribadi siswa-siswa. Dalam fungsi inipembimbing menyampaikan data tentang ciri-ciri, kebutuhan minat dankemampuan serta kesulitan-kesulitan siswa kepada guru. Dengan data iniguru berusaha untuk merencanakan pengalaman belajar bagi para siswanya.Sehingga para siswa memperoleh pengalaman belajar yang sesuai denganbakat, cita-cita, kebutuhan dan minat (Sugiyo, 1987:14)

4. Prinsip-prinsip Bimbingan Konseling di SD

Prinsip merupakan paduan hasil kegiatan teoretik dan telaahlapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yangdimaksudkan (Prayitno, 1997:219). Berikut ini prinsip-prinsip bimbingankonseling yang diramu dari sejumlah sumber, sebagai berikut:

a. Sikap dan tingkah laku seseorang sebagai pencerminan darisegala kejiwaannya adakah unik dan khas. Keunikan ini memberikan ciriatau merupakan aspek kepribadian seseorang. Prinsip bimbingan adalahmemperhatikan keunikan, sikap dan tingkah laku seseorang, dalammemberikan layanan perlu menggunakan cara-cara yang sesuai atau tepat.

b. Tiap individu mempunyai perbedaan serta mempunyai berbagaikebutuhan. Oleh karenanya dalam memberikan bimbingan agar dapat efektifperlu memilih teknik-teknik yang sesuai dengan perbedaan dan berbagaikebutuhan individu.

c. Bimbingan pada prinsipnya diarahkan pada suatu bantuan yang padaakhirnya orang yang dibantu mampu menghadapi dan mengatasi kesulitannyasendiri.

d. Dalam suatu proses bimbingan orang yang dibimbing harusaktif , mempunyai bayak inisiatif. Sehingga proses bimbingan padaprinsipnya berpusat pada orang yang dibimbing.

e. Prinsip referal atau pelimpahan dalam bimbingan perludilakukan. Ini terjadi apabila ternyata masalah yang timbul tidak dapatdiselesaikan oleh sekolah (petugas bimbingan). Untuk menangani masalahtersebut perlu diserahkan kepada petugas atau lembaga lain yang lebihahli.

f. Pada tahap awal dalam bimbingan pada prinsipnya dimulaidengan kegiatan identifikasi kebutuhan dan kesulitan-kesulitan yangdialami individu yang dibimbing.

g. Proses bimbingan pada prinsipnya dilaksanakan secarafleksibel sesuai dengan kebutuhan yang dibimbing serta kondisilingkungan masyarakatnya.

h. Program bimbingan dan konseling di sekolah harus sejalandengan program pendidikan pada sekolah yang bersangkutan. Hal inimerupakan keharusan karena usaha bimbingan mempunyai peran untukmemperlancar jalannya proses pendidikan dalam mencapai tujuanpendidikan.

i. Dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolahhendaklah dipimpin oleh seorang petugas yang benar-benar memilikikeahlian dalam bidang bimbingan. Di samping itu ia mempunyaikesanggupan bekerja sama dengan petugas-petugas lain yang terlibat.

j. Program bimbingan dan konseling di sekolah hendaknyasenantiasa diadakan penilaian secara teratur. Maksud penilaian iniuntuk mengetahui tingkat keberhasilan dan manfaat yang diperoleh daripelaksanaan program bimbingan. Prinsip ini sebagai tahap evaluasi dalamlayanan bimbingan konseling nampaknya masih sering dilupakan. Padahalsebenarnya tahap evaluasi sangat penting artinya, di samping untukmenilai tingkat keberhasilan juga untuk menyempurnakan program danpelaksanaan bimbingan dan konseling (Prayitno, 1997:219).

5. Kegiatan BK dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi

Berdasakan Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidangBimbingan Konseling (2004) dinyatakan bahwakerangka kerja layanan BKdikembangkan dalam suatu program BK yang dijabarkan dalam 4 (empat)kegiatan utama, yakni:

a. Layanan dasar bimbingan

Layanan dasar bimbingan adalah bimbingan yang bertujuan untukmembantu seluruh siswa mengembangkan perilaku efektif danketrampilan-ketrampilan hidup yang mengacu pada tugas-tugasperkembangan siswa SD.

b. Layanan responsif adalah layanan bimbingan yang bertujuanuntuk membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting olehpeserta didik saat ini. Layanan ini lebih bersifat preventik ataumungkin kuratif. Strategi yang digunakan adalah konseling individual,konseling kelompok, dan konsultasi. Isi layanan responsif adalah:

(1) bidang pendidikan;

(2) bidang belajar;

(3)bidang sosial;

(4) bidang pribadi;

(5) bidang karir;

(6) bidang tata tertib SD;

(7) bidang narkotika dan perjudian;

(8) bidang perilaku sosial, dan

(9)bidang kehidupan lainnya.

c. Layanan perencanaan individual adalah layanan bimbingan yangmembantu seluruh peserta didik dan mengimplementasikan rencana-rencanapendidikan, karir,dan kehidupan sosial dan pribadinya. Tujuan utamadari layanan ini untuk membantu siswa memantau pertumbuhan dan memahamiperkembangan sendiri.

d. Dukungan sistem, adalah kegiatan-kegiatan manajemen yangbertujuan memantapkan, memelihara dan meningkatkan progam bimbingansecara menyeluruh. Hal itu dilaksanakan melalui pengembangaanprofesionalitas, hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru,staf ahli/penasihat, masyarakat yang lebih luas, manajemen program,penelitian dan pengembangan (Thomas Ellis, 1990)

Kegiatan utama layanan dasar bimbingan yang responsif danmengandung perencanaan individual serta memiliki dukungan sistem dalamimplementasinya didukung oleh beberapa jenis layanan BK, yakni:

(1) layanan pengumpulan data,

(2) layanan informasi,

(3) layanan penempatan,

(4) layanan konseling,

(5) layanan referal/melimpahkan ke pihak lain, dan

(6) layanan penilaian dan tindak lanjut (Nurihsan, 2005:21).

6. Peran Guru Kelas dalam Kegiatan BK di SD

Implementasi kegiatan BK dalam pelaksanaan Kurikulum BerbasisKompetensi sangat menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar. Olehkarena itu peranan guru kelas dalam pelaksanaan kegiatan BK sangatpenting dalam rangka mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran yangdirumuskan.

Sardiman (2001:142) menyatakan bahwa ada sembilan peran guru dalam kegiatan BK, yaitu:

a. Informator, guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajarinformatif, laboratorium, studi lapangan, dan sumber informasi kegiatanakademik maupun umum.

b. Organisator, guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran dan lain-lain.

c. Motivator, guru harus mampu merangsang dan memberikan dorongan sertareinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya(aktivitas) dan daya cipta (kreativitas) sehingga akan terjadi dinamikadi dalam proses belajar-mengajar.

d. Director, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.

e. Inisiator, guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar-mengajar.

f. Transmitter, guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan dalam pendidikan dan pengetahuan.

g. Fasilitator, guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-mengajar.

h. Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.

i. Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasianak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya,sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak.

C. PENUTUP

1. Simpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru kelasdalam pelaksanaan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar sangat pentingsekali. Sejalan diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi, gurukelas mempunyai peran yang sentral dalam kegiatan BK. Peran tersebutmencakupi peran sebagai informator, organisator, motivator, director,inisiator, transmitter, fasilitator, mediator, dan evaluator. Perantersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, namun merupakan sebuahsistem yang saling melengkapi dalam kegiatan Bimbingan dan Konseling diSekolah Dasar.

2. Saran

Mewujudkan peran guru kelas dalam pelaksanaan kegiatan BK di SDbukanlah hal yang mudah. Hal tersebut dikarenakan, di SD tidak memilikiGuru Pembimbing. Guru kelas memiliki tanggung jawab ganda, di sampingmengajar juga membimbing. Oleh karena itu, guru kelas hendaknyameningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pelaksanaan kegiatan BKsehingga memiliki wawasan yang mendalam terhadap kegiatan-kegiatan BKdi Sekolah Dasar.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2004. Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang Bimbingan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas.

M. Surya. 1988. Pengantar Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta : UT.

Mungin Eddy Wibowo. 1986. Konseling di Sekolah Jilid I. FIP IKIP Semarang.

Nurihsan, Juntika. 2005. Manajemen Bimbingan Konseling di SD Kurikulum 2004. Jakarta: Gramedia Widiasaraan Indonesia.

Oemar Hamalik. 2000. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

PP nomor 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar. Jakarta: Dedpikbud.

Prayitno Erman Amti. 1997. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Depdikbud.

Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sugiyo, dkk. 1987. Bimbingan dan Konseling Sekolah. Semarang: FIP IKIP Semarang.

Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang. 1990. Bimbingan dan Konseling Sekolah. Semarang: IKIP Semarang Press.

UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Tamita Jaya Utama

Winkel, 1991, Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta : Alfabeta, Ground


PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Posted by adminbk on May 15, 2011 at 6:35 PM Comments comments (0)

A.     Pendahuluan Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington, 1982:10). Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.

Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.

 

B.     Mendorong Tindakan Belajar              Pada umumnya orang beranggapan bahwa pendidik adalah sosok yang memiliki sejumlah besar pengetahuan tertentu, dan berkewajiban menyebarluaskannya kepada orang lain. Demikian juga, subjek didik sering dipersepsikan sebagai sosok yang bertugas mengkonsumsi informasi-informasi dan pengetahuan yang disampaikan pendidik. Semakin banyak informasi pengetahuan yang mereka serap atau simpan semakin baik nilai yang mereka peroleh, dan akan semakin besar pula pengakuan yag mereka dapatkan sebagai individu terdidik.

Anggapan-anggapan seperti ini, meskipun sudah berusia cukup tua, tidak dapat dipertahankan lagi. Fungsi pendidik menjejalkan informasi pengetahuan sebanyak-banyakya kepada subjek didik dan fungsi subjek didik menyerap dan mengingat-ingat keseluruhan  informasi itu, semakin tidak relevan lagi mengingat bahwa pengetahuan itu sendiri adalah sesuatu yang dinamis dan tidak terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan-pengetahuan (yang dalam perasaan dan pikiran manusia dapat dihimpun) hanya bersifat sementara dan berubah-ubah, tidak mutlak (Goble, 1987 : 46). Gugus pengetahuan yang dikuasai dan disebarluaskan saat ini, secara relatif, mungkin hanya berfungsi untuk saat ini, dan tidak untuk masa lima hingga sepuluh tahun ke depan. Karena itu, tidak banyak artinya menjejalkan informasi pengetahuan kepada subjek didik, apalagi bila hal itu terlepas dari konteks pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun demikian bukan berarti fungsi traidisional pendidik untuk menyebarkan informasi pengetahuan harus dipupuskan sama sekali. Fungsi ini, dalam batas-batas tertentu, perlu dipertahankan, tetapi harus dikombinasikan dengan fungsi-fungsi sosial yang lebih luas, yakni membantu subjek didik untuk memadukan informasi-informasi yang terpecah-pecah dan tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa menjadi seorang pendidik dewasa ini berarti juga menjadi “penengah” di dalam perjumpaan antara subjek didik dengan himpunan informasi faktual yang setiap hari mengepung kehidupan mereka.

Sebagai penengah, pendidik harus mengetahui dimana letak sumber-sumber informasi pengetahuan tertentu dan mengatur mekanisme perolehannya apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh subjek didik.Dengan perolehan informasi pengetahuan tersebut, pendidik membantu subjek didik untuk mengembangkan kemampuannya mereaksi dunia sekitarnya. Pada momentum inilah tindakan belajar dalam pengertian yang sesungguhya terjadi, yakni ketika subjek didik belajar mengkaji kemampuannya secara realistis dan menerapkannya untuk mencapai kebutuhan-kebutuhannya.

Dari deskripsi di atas terlihat bahwa indikator dari satu tindakan belajar yang berhasil adalah : bila subjek didik telah mengembangkan kemampuannya sendiri. Lebih jauh lagi, bila subjek didik berhasil menemukan dirinya sendiri ; menjadi dirinya sendiri. Faure (1972) menyebutnya sebagai “learning to be”.

Adalah tugas pendidik untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya tindakan belajar secara efektif. Kondisi yang kondusif itu tentu lebih dari sekedar memberikan penjelasan tentang hal-hal yang termuat di dalam buku teks, melainkan mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan membantu subjek didik dalam upaya mereka mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan (Whiteherington, 1982:77). Inilah fungsi motivator, inspirator dan fasilitator dari seorang pendidik.

 

C.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar Agar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Faktor-faktor itu lazim dikelompokkan atas dua bahagian, masing-masing faktor fisiologis dan faktor psikologis (Depdikbud, 1985 :11).

1.   Faktor Fisiologis

Faktor-faktor fisiologis ini mencakup faktor material pembelajaran, faktor lingkungan, faktor instrumental dan faktor kondisi individual subjek didik.Material pembelajaran turut menentukan bagaimana proses dan hasil belajar yang akan dicapai subjek didik. Karena itu, penting bagi pendidik untuk mempertimbangkan kesesuaian material pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik ; juga melakukan gradasi material pembelajaran dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat lebih kompeks.

Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian pula, belajar padapagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai, juga kurang kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.

Yang tak kalah pentingnya untuk dipahami adalah faktor-faktor instrumental, baik yang tergolong perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan sebagainya sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya, pendidik harus memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental ini seoptimal mungkin demi efektifitas pencapaian tujuan-tujuan belajar.

Faktor fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan indra. Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan belajar.

2.   Faktor Psikologis

     Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar      

     jumlahnya banyak sekali, dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara

     terpisah.

Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir saling pengaruh antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif.

2.1.   Perhatian

Tentulah dapat diterima bahwa subjek didik yang memberikan perhatian intensif dalam belajar akan memetik hasil yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh besarnya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar. Perhatian intensif subjek didik ini dapat dieksloatasi sedemikian rupa melalui strategi pembelajaran tertentu, seperti menyediakan material pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik, menyajikan material pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan kreatif, seperti bermain peran (role playing), debat dan sebagainya.

Strategi pemebelajaran seperti ini juga dapat memancing perhatian yang spontan dari subjek didik. Perhatian yang spontan dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang muncul dari dorongan-dorongan instingtif untuk mengetahui sesuatu, seperti kecendrungan untuk mengetahui apa yang terjadi di sebalik keributan di samping rumah, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa perhatian spontan cendrung menghasilkan ingatan yang lebih lama dan intensif dari pada perhatian yang disengaja.

2.2.  Pengamatan

Pengamatan adalah cara pengenalan dunia oleh subjek didik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan dan pengecapan. Pengamatan merupakan gerbang bai masuknya pengaruh dari luar ke dalam individu subjek didik, dan karena itu pengamatan penting artinya bagi pembelajaran.

Untuk kepentingan pengaturan proses pembelajaran, para pendidik perlu memahami keseluruhan modalitas pengamatan tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsur-unsur modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar. Kalangan psikologi tampaknya menyepakati bahwa unsur lainnya dalam proses belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pengetahuan oleh subjek didik lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.

Jika demikian, para pendidik perlu mempertimbangkan penampilan alat-alat peraga di dalam penyajian material pembelajaran yang dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan pendengaran subjek didik. Alat peraga yang dapat digunakan, umpamanya ; bagan, chart, rekaman, slide dan sebagainya.

2.3.  Ingatan

Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni (1) menerima  kesan, (2) menyimpan kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah “ingatan” selalu didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan.

Kecakapan merima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah, subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya.

Dalam konteks pembelajaran, kecakapan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya teknik pembelajaran yang digunakan pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan penampilan bagan, ikhtisar dan sebagainya kesannya akan lebih dalam pada subjek didik. Di samping itu, pengembangan teknik pembelajaran yang mendayagunakan “titian ingatan” juga lebih mengesankan bagi subjek didik, terutama untuk material pembelajaran berupa rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh kasus yang menarik adalah mengingat nama-nama kunci nada g (gudeg), d (dan), a (ayam), b (bebek) dan sebagainya.

Hal lain dari ingatan adalah kemampuan menyimpan kesan atau mengingat. Kemampuan ini tidak sama kualitasnya pada setiap subjek didik. Namun demikian, ada hal yang umum terjadi pada siapapun juga : bahwa segera setelah seseorang selesai melakukan tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi. Hal-hal yang dilupakan pada awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian berlangsung semakin lamban, dan akhirnya sebagian hal akan tersisa dan tersimpan dalam ingatan untuk waktu yang relatif lama.

Untuk mencapai proporsi yang memadai untuk diingat, menurut kalangan psikolog pendidikan, subjek didik harus mengulang-ulang hal yang dipelajari dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Implikasi pandangan ini dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi subjek didik untuk mengulang atau mengingat kembali material pembelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini, misalnya, dapat dilakukan melalui pemberian tes setelah satu submaterial pembelajaran selesai.

Kemampuan resroduksi, yakni pengaktifan atau prosesproduksi ulang hal-hal yang telah dipelajari, tidak kalah menariknya untuk diperhatikan. Bagaimanapun, hal-hal yang telah dipelajari, suatu saat, harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tertentu subjek didik, misalnya kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam ujian ; atau untuk merespons tantangan-tangan dunia sekitar.

Pendidik dapat mempertajam kemampuan subjek didik dalam hal ini melalui pemberian tugas-tugas mengikhtisarkan material pembelajaran yang telah diberikan.

2.4.  Berfikir

Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam didi seseorang yang berupa pengertian-perngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasarnya adalah proses psikologis dengan tahapan-tahapan berikut : (1) pembentukan pengertian, (2) penjalinan pengertian-pengertian, dan (3) penarikan kesimpulan.

Kemampuan berfikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang reletif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk memberikan penjelasan yang “selengkapnya” tentang satu material pembelajaran akan cendrung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Sebaliknya, para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti ni akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri.

2.5.  Motif

Motif adalah keadaan dalam diri subjek didik yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu. Motif boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif semacam ini sering disebut motif ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.

Dalam konteks belajar, motif intrinsik tentu selalu lebih baik, dan biasanya berjangka panjang. Tetapi dalam keadaan motif intrinsik tidak cukup potensial pada subjek didik, pendidik perlu menyiasati hadirnya motif-motif ekstrinsik. Motif ini, umpamanya, bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di antara individu maupun kelompok subjek didik. Suasana ini akan mendorong subjek didik untuk berjuang atau berlomba melebihi yang lain.Namun demikian, pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengarah kepada hal-hal yang negatif.

Motif ekstrinsik bisa juga dihadirkan melalui siasat “self competition”, yakni menghadirkan grafik prestasi individual subjek didik.Melalui grafik ini, setiap subjek didik dapat melihat kemajuan-kemajuannya sendiri. Dan sekaligus membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya.Dengan melihat grafik ini, subjek didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya supaya tidak berada di bawah prestasi orang lain.

 


POTRET DUNIA PENDIDIKAN Menakar Sumber Daya Manusia Indonesia

Posted by adminbk on May 15, 2011 at 6:31 PM Comments comments (0)

Oleh Lidus Yardi

Bum! Dentuman bom atom yang jatuh di Nagasaki dan Hiroshima, Jepang,pada tahun 1945 itu pun menjadi catatan sejarah dunia. Jepangporakporanda. Bertepatan dengan tahun yang sama di Indonesia, tepatnya17 Agustus 1945, bangsa kita merayakan kemerdekaan sebagai tandalepasnya dari tangan penjajahan. Negara Jepang hancur, Indonesiamerdeka. Logika berbicara, negara yang cepat maju karena lebih awalberkesempatan membangun diri tentu bangsa kita, Indonesia. Api jauhdari panggang, realita menunjukkan fakta sebaliknya, saat ini Jepanglebih unggul membangun diri dan jauh meninggalkan Indonesia.

Kunci kesuksesan negara Jepang membangun diri adalah, peduliterhadap pembangunan Sumber Daya Manusia dengan cara memperhatikanpendidikan masyarakatnya. Langkah awal yang dilakukan pemerintah Jepangpascabom atom yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat (AS) pada tahun 1945itu adalah, mengirim pelajar-pelajar Jepang ke luar negeri untukbelajar dengan misi membangun Jepang kembali. Buku-buku baratditerjemahkan ke dalam bahasa Jepang agar mempermudah transfer ilmupengetahuan dan teknologi barat. Kemudian buku-buku pengetahuan itudijual dengat sangat murah sehingga mempermudah masyarakatmemperolehnya. Dari situ timbullah kegemaran membaca pada sebagianbesar masyarakat Jepang.

Jepang sadar betul ujung tombak pendidikan adalah guru. Makapemerintah dan masyarakat Jepang sangat menghargai sosok seorang guru,baik secara finansial maupun moral. Bayangkan untuk guru yang barumengajar saja Jepang berani memberi honor sebesar 200 ribu yen atausekitar Rp16 juta per bulan. Dan untuk guru honor senior di Jepanggajinya bisa mencapai 500 ribu yen atau sekitar Rp40 juta. Tidak heranbila dedikasi tercurah penuh terhadap profesi guru karena kerja merekadihargai secara pantas. Robert C. Christopher, mantan korespondenmajalah Newsweek yang tinggal di Jepang pernah berujar, “lihatlah sikappara guru Jepang, perhatian mereka sampai ke totalitas kehidupan muridmereka”.

Bagaimana di Indonesia?

Pendidikan masyarakat Indonesia jauh tertinggal. Hal ini didukungoleh kurangnya perhatian pemerintah. Kalaupun ada perhatian namun tidakdikelola secara serius dan profesional. Di tambah pula proses manajemenyang tidak transparan dan kebijakan yang tidak tepat sasaran, semakinmembuat dunia pendidikan bangsa kita dirundung persoalan. Tak heran,kalau bicara tentang pendidikan nasional terkesan selalu yangburuk-buruknya saja.

Setiap ada perubahan menteri, persoalan yang hangat diperbincangkanselalu berkutat pada masalah undang-undang, kurikulum, kebijakan ujian,insensif para guru dan keterbatasan anggaran. Namun demikian kebijakanyang diambil selalu saja mengecewakan. Padahal negara kita dianggapsalah satu negara yang memiliki sumber daya alam yang memadai sebagaimodal utama untuk membangun negara. Namun kenyataannya kemiskinan danpengangguran tetap mejadi musuh utama serta terus merasa kurang dalampendanaan. Kita mungkin sudah lupa bahwa kemajuan sebuah bangsaterletak dari baik-buruknya kualitas manusia atau indeks pembangunanmanusianya. Hal inilah yang disadari betul oleh negara Jepang sehinggamampu menjawab persoalan dan bangkit dari keterpurukannya terutamapasca perang dunia II.

Jhon Neisbitt dalam bukunya Mega trend 2000 mengingatkan kita denganmengatakan: “Suatu negara miskin pun bisa bangkit, bahkan tanpa sumberdaya alam yang melimpah ruah, asalkan negara yang bersangkutanmelakukan investasi yang cukup, yaitu dalam hal kualitas sumber dayamanusianya”.

Bagaikan lingkaran setan

Rendahnya perhatian pemerintah akan perlunya pembangunan manusiaIndonesia yang berkualitas menyebabkan terjadinya kemerosotan di duniapendidikan. Akibatnya, terjadi peningkatan kemiskinan dan pengangguranyang disusul merebaknya tindakan kejahatan di tengah masyarakat.Kebodohan menyebabkan kemiskinan. Kemiskinan menyebabkan terhalangnyamendapatkan pendidikan yang berkualitas. Karena tidak berpendidikan dantidak memiliki pengalaman apapun, menjadi pengangguran dan melakukantindakan deviant (menyimpang). Kebodohan, pendidikan, kemiskinan,pengangguran, dan tindak kejahatan, begitulah seterusnya bagaikanlingkaran setan.

Tidak heran bila persoalan kemiskinan ini pulalah yang dianggapsebagai permasalahan utama yang harus dihadapi oleh negara-negaraAsia-Afrika ke depan, sebagaimana yang disampaikan oleh sejumlahpemimpin negara yang ikut dalam peringatan ke-50 tahun KonferensiTingkat Tinggi Asia Afrika (KAA) yang belum lama ini diselenggarakan diJakarta.

“Lingkaran setan” di lembaga dunia pendidikan itu, begini ceritanya.Ada tuduhan yang menyebabkan rendahnya mutu mahasiswa Indonesiadisebabkan Perguruan Tinggi (PT) yang tak berkualitas. PT lalumenyalahkan sekolah menengah tingkat atas (SMA) yang tidak becusmemproduksi calon mahasiswa. Pihak SMA kemudian menyalahkan sekelohahmenengah tingkat pertama (SMP) yang tak berhasil mendidik muridnya.Pihak SMP pun menyalahkan sekolah tingkat dasar (SD) yang tak becusmendidik anak-anaknya. Lalu pihak SD pun menuduh pihak PT tidak becusmemproduksi calon guru yang berkualitas dalam mengajar. Begitulahseterusnya bagaikan lingkaran setan. Sebuah dilema. Memang.

Menakar SDM Indonesia

Ada beberapa faktor yang menentukan kesuksesan dan keberhasilandalam pendidikan. Faktor-faktor itu dapat diklasifikasikan menjadi tigakelompok. Pertama, faktor perangkat keras (hardware), yang meliputiruangan belajar, peralatan praktik, laboratorium, perpustakaan; kedua,faktor perangkat lunak (software) yaitu meliputi kurikulum, programpengajaran, manajemen sekolah, sistem pembelajaran; ketiga, apa yangdisebut dengan perangkat pikir (brainware) yaitu menyangkut keberadaanguru (dosen), kepala sekolah, anak didik, dan orang-orang yang terkaitdi dalam proses pendidikan itu sendiri.

Dari tiga kelompok faktor di atas, maka yang menjadi penentusuksesnya belajar dan berhasilnya suatu pendidikan sangat (dominan)ditentukan oleh faktor tenaga pendidik, dalam hal ini guru di sekolahdan para dosen di Perguruan Tinggi. Meskipun di suatu sekolah danperguruan tinggi fasilitasnya memadai, bangunannya bertingkat; meskipunkurikulumnya lengkap, program pengajarannya hebat, manajemennya ketat,sistem pembelajarannya oke, tapi para tenaga pengajarnya (guru/dosen)sebagai aplikator di lapangan tidak memiliki kemampuan (kualitas) dalampenyampaian materi, cakap menggunakan alat-alat tekhnologi yangmendukung pembelajaran, maka tujuan pendidikan akan sulit dicapaisebagaimana semestinya. Mantan Mendikbud, Fuad Hassan, pernahmengingatkan, bahwa tanpa guru yang menguasai materinya mustahil suatusistem pendidikan berikut kurikulum serta muatan kurikulernya dapatmencapai hasil sebagaimana yang diidealkan.

Tingkat kenerja dan kualitas para tenaga pendidik (guru atau dosen)di Indonesia pernah menjadi sorotan. Seperti studi yang dilakukan AsiaWeek dalam Asia’s Best Universities 2000. Studi tersebut membuktikanbahwa kualitas dosen di Indonesia masih sangat rendah dan belummemadai. Dari 77 perguruan tinggi terbaik di kawasan Asia danAustralia, ternyata kualitas dosen Universitas Indonesia (UI) Jakartahanya menempati urutan ke-62. Selanjutnya Universitas Diponegoro(Undip) Semarang di peringkat ke-76, dan paling ‘kincik’ adalah UGMYogyakarta dengan peringkat ke-77. Rendahnya mutu kualitas guru dandosen kita, menurut Prof. Dr. Ki Supriyoko (Kompas, 2002) disebabkanoleh belum tumbuhnya kebiasaan membaca dikalangan guru dan dosen itusendiri.

Sikap guru

Di samping faktor penyebab rendahnya kualitas tenaga pendidik diatas, apa yang disebut dengan “On going Formation” terhadap gurupenerapannya juga dinilai salah kaprah selama ini. Menurut ahlipendidikan, J Drost (2002), on going formation bermakna “kegiatanmembentuk atau mewujudkan”. Maksudnya, membentuk atau mewujudkan mutuguru secara terus menerus sebagai guru. Kegiatan on going formationselama ini oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dilaksanakanlewat penataran. Namun apa yang diberikan dalam penataran itu biasanyabukan yang dibutuhkan guru. Di tambah lagi penatarnya yang tidak lebihbermutu pengetahuannya dan juga tidak lebih lama pengalamannya daripara petatar. Kesan yang timbul, penataran yang sering dilakukan buatguru hanya sekedar menutupi kekurangan karena studi yang tidak beres.

Oleh sebab itu kata J Drost, on going formation yang amat bergunaialah pengalaman, bukan rutin mati di depan kelas; bukan sibuk denganbuku pegangan. Pengalaman adalah hasil sikap tanggap atas setiapkejadian yang terjadi disekitar lingkungannya selama 24 jam sehari, danmengelolanya menjadi milik mental. Yaitu dengan cara mencari kesempatanuntuk memperoleh pengetahuan yang baru. Hal itu bisa ditempuh olehseorang guru melalui surat-surat kabar, majalah-majalah, buku-buku, danbahan bacaan lainnya, menghadiri seminar-seminar atau loka karya yangberguna baginya sebagai pengajar dan pendidik.

Yang lucunya, banyak guru dan dosen yang menyuruh anak didiknyamembaca dan rajin ke pustaka, tetapi guru dan dosennya sendiri jarangmembaca ke pustaka. Seakan-akan pustaka hanya milik siswa danmahasiswa. Ironisnya, kata Prof. Dr. Ki Supriyoko, ada dosen yang maluke pustaka karena takut dikatakan bodoh oleh mahasiswanya. Biladiteliti, jarang ada bacaan yang bermutu di ruang kerja para guru dandosen, di rumah terlebih lagi di sekolah.

Ada satu pengalaman dari hasil pengamatan penulis ketikamelaksananakan Praktek Pengajaran Lapangan (PPL) beberapa tahun yanglalu (2002) di Pekanbaru. Di mana, guru di sekolah lebih banyak membawabekal makan siang ketimbang mengisi tas dengan buku bacaan ataumajalah. Begitu juga di ruang kerja para dosen di kampus-kampus, yangsering ditemukan cuma televisi, onggokan skripsi, beberapa tropi, sertasecangkir teh dan kopi.

Sehingga untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pengajaran disekolah-sekolah atau di PT-PT saja, acapkali kita mendatangkan tenagakependidikan dari luar negeri. Kasus Riau misalnya, pernah diberitakanbahwa daerah Bengkalis mengontrak para guru Malaysia untuk mengajar dibidang eksakta dan Bahasa Inggris. Padahal dahulunya, negaraMalaysialah yang meminta para guru kita untuk mengajar disekolah-sekolah mereka. Ironis! Inilah kenyataannya, bahwa kualitastenaga pendidik kita, suka tak suka kita akui memang jauh tertinggal.

Rendahnya kualitas atau ke-profesionalan tenaga pendidik dapatmemberi dampak kepada sikap dan cara mereka selama proses pengajarandan pendidikan berlangsung. Para guru demikian pula dosen sering ingin“menjadi dirinya sendiri”. Maksud penulis, yaitu guru dan dosen yangtidak mau memahami realitas yang ada diluar dirinya. Guru dan dosenseperti ini sering menggunakan senjata “nilai” ketika menghadapi anakdidik dan menunjukan sikap wibawa yang terlalu dipaksa. Guru dan dosenseperti ini tidak mampu memahami realitas secara objektif, danacapkalai memaksakan kehendaknya. Sehingga antara mereka dan anak didiktidak terjalin suatu dealetika yang harmonis. Tanpa disadari semua itutelah menjauhkan diri mereka dari hati nurani para anak didik.

Hal ini yang diistilahkan oleh Paulo Freire (1999) dengan pendidikan“gaya bank”. Secara sederhana Freire menyusun daftar antagonisme antaraguru dan murid, yaitu: Guru mengajar, murid belajar; Guru tahusegalanya, murid tak tahu apa-apa; Guru berpikir, murid dipikirkan;Guru bicara, murid mendengarkan; Guru mengatur, murid diatur; Guruadalah subyek proses belajar, murid obyeknya; dan sebagainya. Haldemikian sering terjadi di dunia pendidikan kita. Guru dan dosenmenjelma menjadi manusia “asing” bukan lagi sebagai fartner murid-muriddalam proses belajar mengajar yang demokratis dan membebaskan.

Belum lama ini beberapa kepala sekolah dan beberapa pihak anggotadinas pendidikan di salah satu Kabupaten di Riau mengadakan studibanding tentang KBS dan KBK di tiga negara yaitu Malaysia, Thailand,dan Singapura. Yang lucu ketika pulang dari tiga negara yang dikunjungiitu ternyata sebagian guru cuma membawa mainan kunci, salak pondo, danmangga yang diawetkan ke sekolahnya. Kan mendingan sebuah buku ataucerita kiat sukses pendidikan di negara-negara itu sambil membuatlaporannya dalam bentuk tulisan di media massa ketimbang membawa mainankunci?

Sederet kisah perilaku tenaga pendidik kita ternyata belum usai. Diperguruan tinggi terutama dalam proses pembuatan skripsi, ada sebagiandosen pembimbing yang acuh, bahkan ada yang berkata kepada mahasiswabimbingannya: “Saya butuh kamu atau kamu butuh saya!”. Sehingga dosenyang jarang tampak di kampus itu harus ditunggu dan dicari kesana-sini. Bukankah seharusnya, sebagai dosen pembimbing sebaiknyamempermudah urusan skripsi yang dibuat sebagai rasa tanggung jawabterhadap amanah.

Persoalan ini pernah disinggung (atau diakui) oleh Ali Khomsan (gurubesar IPB) dalam tulisannya Strategi Percepatan Pendidikan Pascasarjana(Republika, 13 Februari 2002). Ali mengatakan, salah satu kelemahandalam proses pembimbingan mahasiswa selama ini, adalah kurangnyamonitoring dosen pembimbing terhadap mahasiswanya. Seolah-olahmahasiswa sendiri yang harus bertanggung jawab apakah ingin lulus tepatwaktu atau mau berlama-lama di kampus. Kalau mahasiswa tidak datangkepadanya, dosen merasa tidak rugi karena justru waktunya bisadigunakan untuk kegiatan yang lain. Padahal, kemampuan meluluskanmahasiswa secara tepat waktu adalah komitmen yang harus dipegang olehsemua dosen pembimbing.

Ali menceritakan pengalamannya ketika studi S3 di Amerika. Bahwapembimbingnya rela mengendarai mobil sejauh 100 km untukmengantarkannya ke suatu tempat untuk mencari data sekunder yangdibutuhkannya. Selanjutnya jadwal konsultasi selalu tepat waktu dandiberikan secara luas. Lalu bagaimana di Indonesia? Jangankan tepatwaktu, jadwal untuk konsultasi saja terkadang tidak diberikan. Sehinggaacapkali mahasiswa menunggu pembimbingnya berjam-jam di kampus.

Meningkatkan kualitas guru atau dosen dan memperhatikankesejahteraan hidup para “Umar Bakri”, adalah kunci lain untuk mencapaidunia pendidikan yang bermutu. Tesis ini diyakini oleh banyak negara,seperti Australia. Ketika para menteri pendidikan negara-negara bagianAustralia berkumpul di Adelaide, mereka sepakat untuk konteks miliniumke-3 akan membangun bangsa dengan cara peningkatan kualitas pendidikanyang dimulai dengan meningkatkan keprofesionalan guru. Oleh sebab itudi Australia guru sangat dihargai, dan gajinya sangat memadai. Sehinggabanyak master dan doktor tidak malu-malu menjadi guru (bukan dosen)untuk mengajar di tingkat sekolah menengah atau sekolah dasar (SD)sekalipun. Begitu juga di Jepang, masyarakat dan pemerintahan Jepangsangat menghargai dan menghormati keberadaan guru di negaranya.

Musuh kita

Kebodohan, kemiskinan, pengangguran dan tindak kejahatan adalahmusuh utama kita dan persoalan besar. Oleh sebab itu harus ditanganisecara ‘besar’, transparan, profesional, serta tepat sasaran. Terutamapada sektor pendidikan. Bila tidak peningkatan kualitas manusia ini danusaha mencapai ke arah itu akan tetap berjalan ditempat. Kemudianteknologi dan informasi, atau penyediaan infrastruktur sepertikelancaran jalan dan komunikasi, adalah persoalan besar pula. Sebabitu, aspek ini sesekali jangan pula diabaikan. Bila diabaikan kita akankembali berada dalam sebuah “lingkaran setan” yang menyesatkan. Semogatidak. Wallahua’lam.

 


Hakiki Pembelajaran Kontekstual

Posted by adminbk on December 9, 2010 at 2:05 AM Comments comments (0)

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment).

Secara hakiki model pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning adalah : (1) Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya, (2) Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pebelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Perlu kita ketengahkan pula bagaimana perbedaan model pembelajaran kontekstual dengan model pembelajaran tradisional. Kalau model pembelajaran kontekstual penekanan pembelajarannya lebih kepada: (1) Menyandarkan pada pemahaman makna, (2) Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa, (3) Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, (4) Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan, (5) Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa, (6) Cenderung mengintegrasikan beberapa bi-dang, (7) Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok), (8) Perilaku dibangun atas kesadaran diri, (9) Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman, (10) Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri. yang bersifat subyektif, (11) Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tersebut merugikan, (12) Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik, (13) Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting, (14) Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik.

Demikian pula kalau kita me-ngetengahkan model pembelajaran tradisional, maka ada beberapa penekanan, diantaranya (1) Menyandarkan pada hapalan, (2) Pemilihan informasi lebih banyak ditentukan oleh guru, (3) Siswa secara pasif menerima informasi, khususnya dari guru, (4) Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis, tidak bersandar pada realitas kehidupan, (5) Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan, (6) Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu, (7) Waktu belajar siswa sebagian besar dipergunakan untuk mengerjakan buku tugas, mendengar ceramah, dan mengisi latihan (kerja individual), (8) Perilaku dibangun atas kebiasaan, (9) Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan, (10) Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai rapor, (11) Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman, (12) Perilaku baik berdasarkan motivasi entrinsik, (13) Pembelajaran terjadi hanya terjadi di dalam ruangan kelas, dan (14) Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan.

Perbedaan dari model pembelajaran kontelstual dengan model pembelajaran tradisional sama banyaknya, akan tetapi kalau kita kaitkan dengan pembelajaran yang berorientasi kepada aktivitas, kreativitas, suasana menyenangkan, dan pembelajaran siswa aktif, maka tentunya model pembelajaran kontekstuallah yang paling tepat digunakan.

Pembelajaran model tradisional tidak mungkin kita hilangkan dari suatu proses pembelajaran, karena untuk menyatukan persepsi dan penjelasan masalah yang akan dikerjakan oleh siswa, tentulah model tradisional misalnya model ceramah awal dahulu dilakukan. Dengan model ini siswa dapat memahami dan mengetahui konsep dan masalah  yang akan dilakukan, dan tentunya waktu yang digunakan tidak lebih dari 20 menit. Kemudian barulah model pembelajaran kontekstual dilakukan oleh siswa di lapangan, karena hakikinya pembelajaran kontekstual lebih banyak dilakukan di luar kelas. Semoga***


Rss_feed