BIMBINGAN DAN KONSELING

SMA NEGERI 20 SURABAYA

Jl. Medokan Semampir No.119 Sukolilo Kota Surabaya Kode POS 60119
No.Telp. 031 593 5720 Faxmile. 031 591 0817
E-Mail : [email protected]

Daftar Isi Post New Entry

Fungsi, Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling

Posted by adminbk on November 16, 2010 at 7:12 PM

 

Fungsi Bimbingan dan Konselingadalah :


  • Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya( potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama).Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensidirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secaradinamis dan konstruktif.
  • Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli.Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
  • Ada pun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, danbimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konselidalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan,diantaranya : bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, dropout, dan pergaulan bebas (free sex). 
  • Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselorsenantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasahlainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugasperkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming),home room, dan karyawisata.
  • Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuankepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi,sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling,dan remedial teaching.
  • FungsiPenyaluran, yaitu fungsi bimbingan dankonseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai denganminat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupundi luar lembaga pendidikan.
  • Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu parapelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan,minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
  • Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.

 

            Terdapat beberapa prinsip dasar yangdipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan.Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaanyang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan, baik diSekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. Prinsip-prinsip itu adalah:

             Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual).Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.     

              Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja sebagai teamwork.Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling.          

               Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat.  

               Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan.Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan.Keterlaksanaan dan keberhasilanpelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannyaasas-asas berikut.


                Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya.

                Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan.

                Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli.Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.

               Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku.

                Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai dan norma tersebut. Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.Asas Alih Tangan

                   Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain ; dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain.  


DAFTAR RUJUKAN

  • AACE.(2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor.http://aace.ncat.edu
  • AsosiasiBimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan ProfesionalKonselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi).
  • AsosiasiBimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi KonselorIndonesia. Bandung: ABKIN
  • Bandura,A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK:Cambridge University Press.
  • BSNPdan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri:Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNPdan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas.
  • Cobia,Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling.New Jersey, Merrill Prentice Hall
  • Corey,G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole.
  • DirektoratPembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi.(2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta:Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan PendidikanTinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.
  • Engels,D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional CounselorCompetencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD.
  • Browers,Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for SchoolCounseling Programs. ASCA (American School Counselor Association).
  • Comm,J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company.
  • Depdiknas.(2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang.
  • Depdiknas,(2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
  • Depdiknas,2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi,
  • Depdiknas,(2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL,
  • Ellis,T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: TheEducational Resources Information Center.
  • GibsonR.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance.New York : MacMillan Publishing Company.
  • Havighurts,R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay.
  • HerrEdwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : ShellCom.
  • Hurlock,Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill BookCompany Inc.
  • KetetapanPengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayananprofessional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimalberkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling.
  • MenteriPendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi.Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
  • MenteriPendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang StandarKompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
  • MichiganSchool Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidanceand Counseling Program.
  • Muro,James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in TheElementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark.
  • PermendiknasNomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan.
  • PeraturanPemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
  • Pikunas,Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd.
  • PusatKurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan danKonseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas.
  • SunaryoKartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis TugasPerkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan danManajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan RisetUnggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI.
  • SyamsuYusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung: CV Bani Qureys.
  • ——–.2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja RosdaKarya.
  • ——–.danJuntika N. (2005). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung : PT.Remaja Rosda Karya.
  • Stoner,James A. (1987). Management. London : Prentice-Hall International Inc.
  • Undang-undangNo 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  • Undang-UndangNomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen
  • WagnerWilliam G. (1996). “Optimal Development in Adolescence : What Is It and HowCan It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Vol 24 No. 3 July’96.
  • Woolfolk,Anita E. 1995. Educational Psychology. Boston : Allyn & Bacon.

 

 
























Categories: Tentang Bimbingan Konseling

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments