BIMBINGAN DAN KONSELING

SMA NEGERI 20 SURABAYA

Jl. Medokan Semampir No.119 Sukolilo Kota Surabaya Kode POS 60119
No.Telp. 031 593 5720 Faxmile. 031 591 0817
E-Mail : [email protected]

Daftar Isi Post New Entry

POTRET DUNIA PENDIDIKAN Menakar Sumber Daya Manusia Indonesia

Posted by adminbk on May 15, 2011 at 6:31 PM

Oleh Lidus Yardi

Bum! Dentuman bom atom yang jatuh di Nagasaki dan Hiroshima, Jepang,pada tahun 1945 itu pun menjadi catatan sejarah dunia. Jepangporakporanda. Bertepatan dengan tahun yang sama di Indonesia, tepatnya17 Agustus 1945, bangsa kita merayakan kemerdekaan sebagai tandalepasnya dari tangan penjajahan. Negara Jepang hancur, Indonesiamerdeka. Logika berbicara, negara yang cepat maju karena lebih awalberkesempatan membangun diri tentu bangsa kita, Indonesia. Api jauhdari panggang, realita menunjukkan fakta sebaliknya, saat ini Jepanglebih unggul membangun diri dan jauh meninggalkan Indonesia.

Kunci kesuksesan negara Jepang membangun diri adalah, peduliterhadap pembangunan Sumber Daya Manusia dengan cara memperhatikanpendidikan masyarakatnya. Langkah awal yang dilakukan pemerintah Jepangpascabom atom yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat (AS) pada tahun 1945itu adalah, mengirim pelajar-pelajar Jepang ke luar negeri untukbelajar dengan misi membangun Jepang kembali. Buku-buku baratditerjemahkan ke dalam bahasa Jepang agar mempermudah transfer ilmupengetahuan dan teknologi barat. Kemudian buku-buku pengetahuan itudijual dengat sangat murah sehingga mempermudah masyarakatmemperolehnya. Dari situ timbullah kegemaran membaca pada sebagianbesar masyarakat Jepang.

Jepang sadar betul ujung tombak pendidikan adalah guru. Makapemerintah dan masyarakat Jepang sangat menghargai sosok seorang guru,baik secara finansial maupun moral. Bayangkan untuk guru yang barumengajar saja Jepang berani memberi honor sebesar 200 ribu yen atausekitar Rp16 juta per bulan. Dan untuk guru honor senior di Jepanggajinya bisa mencapai 500 ribu yen atau sekitar Rp40 juta. Tidak heranbila dedikasi tercurah penuh terhadap profesi guru karena kerja merekadihargai secara pantas. Robert C. Christopher, mantan korespondenmajalah Newsweek yang tinggal di Jepang pernah berujar, “lihatlah sikappara guru Jepang, perhatian mereka sampai ke totalitas kehidupan muridmereka”.

Bagaimana di Indonesia?

Pendidikan masyarakat Indonesia jauh tertinggal. Hal ini didukungoleh kurangnya perhatian pemerintah. Kalaupun ada perhatian namun tidakdikelola secara serius dan profesional. Di tambah pula proses manajemenyang tidak transparan dan kebijakan yang tidak tepat sasaran, semakinmembuat dunia pendidikan bangsa kita dirundung persoalan. Tak heran,kalau bicara tentang pendidikan nasional terkesan selalu yangburuk-buruknya saja.

Setiap ada perubahan menteri, persoalan yang hangat diperbincangkanselalu berkutat pada masalah undang-undang, kurikulum, kebijakan ujian,insensif para guru dan keterbatasan anggaran. Namun demikian kebijakanyang diambil selalu saja mengecewakan. Padahal negara kita dianggapsalah satu negara yang memiliki sumber daya alam yang memadai sebagaimodal utama untuk membangun negara. Namun kenyataannya kemiskinan danpengangguran tetap mejadi musuh utama serta terus merasa kurang dalampendanaan. Kita mungkin sudah lupa bahwa kemajuan sebuah bangsaterletak dari baik-buruknya kualitas manusia atau indeks pembangunanmanusianya. Hal inilah yang disadari betul oleh negara Jepang sehinggamampu menjawab persoalan dan bangkit dari keterpurukannya terutamapasca perang dunia II.

Jhon Neisbitt dalam bukunya Mega trend 2000 mengingatkan kita denganmengatakan: “Suatu negara miskin pun bisa bangkit, bahkan tanpa sumberdaya alam yang melimpah ruah, asalkan negara yang bersangkutanmelakukan investasi yang cukup, yaitu dalam hal kualitas sumber dayamanusianya”.

Bagaikan lingkaran setan

Rendahnya perhatian pemerintah akan perlunya pembangunan manusiaIndonesia yang berkualitas menyebabkan terjadinya kemerosotan di duniapendidikan. Akibatnya, terjadi peningkatan kemiskinan dan pengangguranyang disusul merebaknya tindakan kejahatan di tengah masyarakat.Kebodohan menyebabkan kemiskinan. Kemiskinan menyebabkan terhalangnyamendapatkan pendidikan yang berkualitas. Karena tidak berpendidikan dantidak memiliki pengalaman apapun, menjadi pengangguran dan melakukantindakan deviant (menyimpang). Kebodohan, pendidikan, kemiskinan,pengangguran, dan tindak kejahatan, begitulah seterusnya bagaikanlingkaran setan.

Tidak heran bila persoalan kemiskinan ini pulalah yang dianggapsebagai permasalahan utama yang harus dihadapi oleh negara-negaraAsia-Afrika ke depan, sebagaimana yang disampaikan oleh sejumlahpemimpin negara yang ikut dalam peringatan ke-50 tahun KonferensiTingkat Tinggi Asia Afrika (KAA) yang belum lama ini diselenggarakan diJakarta.

“Lingkaran setan” di lembaga dunia pendidikan itu, begini ceritanya.Ada tuduhan yang menyebabkan rendahnya mutu mahasiswa Indonesiadisebabkan Perguruan Tinggi (PT) yang tak berkualitas. PT lalumenyalahkan sekolah menengah tingkat atas (SMA) yang tidak becusmemproduksi calon mahasiswa. Pihak SMA kemudian menyalahkan sekelohahmenengah tingkat pertama (SMP) yang tak berhasil mendidik muridnya.Pihak SMP pun menyalahkan sekolah tingkat dasar (SD) yang tak becusmendidik anak-anaknya. Lalu pihak SD pun menuduh pihak PT tidak becusmemproduksi calon guru yang berkualitas dalam mengajar. Begitulahseterusnya bagaikan lingkaran setan. Sebuah dilema. Memang.

Menakar SDM Indonesia

Ada beberapa faktor yang menentukan kesuksesan dan keberhasilandalam pendidikan. Faktor-faktor itu dapat diklasifikasikan menjadi tigakelompok. Pertama, faktor perangkat keras (hardware), yang meliputiruangan belajar, peralatan praktik, laboratorium, perpustakaan; kedua,faktor perangkat lunak (software) yaitu meliputi kurikulum, programpengajaran, manajemen sekolah, sistem pembelajaran; ketiga, apa yangdisebut dengan perangkat pikir (brainware) yaitu menyangkut keberadaanguru (dosen), kepala sekolah, anak didik, dan orang-orang yang terkaitdi dalam proses pendidikan itu sendiri.

Dari tiga kelompok faktor di atas, maka yang menjadi penentusuksesnya belajar dan berhasilnya suatu pendidikan sangat (dominan)ditentukan oleh faktor tenaga pendidik, dalam hal ini guru di sekolahdan para dosen di Perguruan Tinggi. Meskipun di suatu sekolah danperguruan tinggi fasilitasnya memadai, bangunannya bertingkat; meskipunkurikulumnya lengkap, program pengajarannya hebat, manajemennya ketat,sistem pembelajarannya oke, tapi para tenaga pengajarnya (guru/dosen)sebagai aplikator di lapangan tidak memiliki kemampuan (kualitas) dalampenyampaian materi, cakap menggunakan alat-alat tekhnologi yangmendukung pembelajaran, maka tujuan pendidikan akan sulit dicapaisebagaimana semestinya. Mantan Mendikbud, Fuad Hassan, pernahmengingatkan, bahwa tanpa guru yang menguasai materinya mustahil suatusistem pendidikan berikut kurikulum serta muatan kurikulernya dapatmencapai hasil sebagaimana yang diidealkan.

Tingkat kenerja dan kualitas para tenaga pendidik (guru atau dosen)di Indonesia pernah menjadi sorotan. Seperti studi yang dilakukan AsiaWeek dalam Asia’s Best Universities 2000. Studi tersebut membuktikanbahwa kualitas dosen di Indonesia masih sangat rendah dan belummemadai. Dari 77 perguruan tinggi terbaik di kawasan Asia danAustralia, ternyata kualitas dosen Universitas Indonesia (UI) Jakartahanya menempati urutan ke-62. Selanjutnya Universitas Diponegoro(Undip) Semarang di peringkat ke-76, dan paling ‘kincik’ adalah UGMYogyakarta dengan peringkat ke-77. Rendahnya mutu kualitas guru dandosen kita, menurut Prof. Dr. Ki Supriyoko (Kompas, 2002) disebabkanoleh belum tumbuhnya kebiasaan membaca dikalangan guru dan dosen itusendiri.

Sikap guru

Di samping faktor penyebab rendahnya kualitas tenaga pendidik diatas, apa yang disebut dengan “On going Formation” terhadap gurupenerapannya juga dinilai salah kaprah selama ini. Menurut ahlipendidikan, J Drost (2002), on going formation bermakna “kegiatanmembentuk atau mewujudkan”. Maksudnya, membentuk atau mewujudkan mutuguru secara terus menerus sebagai guru. Kegiatan on going formationselama ini oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dilaksanakanlewat penataran. Namun apa yang diberikan dalam penataran itu biasanyabukan yang dibutuhkan guru. Di tambah lagi penatarnya yang tidak lebihbermutu pengetahuannya dan juga tidak lebih lama pengalamannya daripara petatar. Kesan yang timbul, penataran yang sering dilakukan buatguru hanya sekedar menutupi kekurangan karena studi yang tidak beres.

Oleh sebab itu kata J Drost, on going formation yang amat bergunaialah pengalaman, bukan rutin mati di depan kelas; bukan sibuk denganbuku pegangan. Pengalaman adalah hasil sikap tanggap atas setiapkejadian yang terjadi disekitar lingkungannya selama 24 jam sehari, danmengelolanya menjadi milik mental. Yaitu dengan cara mencari kesempatanuntuk memperoleh pengetahuan yang baru. Hal itu bisa ditempuh olehseorang guru melalui surat-surat kabar, majalah-majalah, buku-buku, danbahan bacaan lainnya, menghadiri seminar-seminar atau loka karya yangberguna baginya sebagai pengajar dan pendidik.

Yang lucunya, banyak guru dan dosen yang menyuruh anak didiknyamembaca dan rajin ke pustaka, tetapi guru dan dosennya sendiri jarangmembaca ke pustaka. Seakan-akan pustaka hanya milik siswa danmahasiswa. Ironisnya, kata Prof. Dr. Ki Supriyoko, ada dosen yang maluke pustaka karena takut dikatakan bodoh oleh mahasiswanya. Biladiteliti, jarang ada bacaan yang bermutu di ruang kerja para guru dandosen, di rumah terlebih lagi di sekolah.

Ada satu pengalaman dari hasil pengamatan penulis ketikamelaksananakan Praktek Pengajaran Lapangan (PPL) beberapa tahun yanglalu (2002) di Pekanbaru. Di mana, guru di sekolah lebih banyak membawabekal makan siang ketimbang mengisi tas dengan buku bacaan ataumajalah. Begitu juga di ruang kerja para dosen di kampus-kampus, yangsering ditemukan cuma televisi, onggokan skripsi, beberapa tropi, sertasecangkir teh dan kopi.

Sehingga untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pengajaran disekolah-sekolah atau di PT-PT saja, acapkali kita mendatangkan tenagakependidikan dari luar negeri. Kasus Riau misalnya, pernah diberitakanbahwa daerah Bengkalis mengontrak para guru Malaysia untuk mengajar dibidang eksakta dan Bahasa Inggris. Padahal dahulunya, negaraMalaysialah yang meminta para guru kita untuk mengajar disekolah-sekolah mereka. Ironis! Inilah kenyataannya, bahwa kualitastenaga pendidik kita, suka tak suka kita akui memang jauh tertinggal.

Rendahnya kualitas atau ke-profesionalan tenaga pendidik dapatmemberi dampak kepada sikap dan cara mereka selama proses pengajarandan pendidikan berlangsung. Para guru demikian pula dosen sering ingin“menjadi dirinya sendiri”. Maksud penulis, yaitu guru dan dosen yangtidak mau memahami realitas yang ada diluar dirinya. Guru dan dosenseperti ini sering menggunakan senjata “nilai” ketika menghadapi anakdidik dan menunjukan sikap wibawa yang terlalu dipaksa. Guru dan dosenseperti ini tidak mampu memahami realitas secara objektif, danacapkalai memaksakan kehendaknya. Sehingga antara mereka dan anak didiktidak terjalin suatu dealetika yang harmonis. Tanpa disadari semua itutelah menjauhkan diri mereka dari hati nurani para anak didik.

Hal ini yang diistilahkan oleh Paulo Freire (1999) dengan pendidikan“gaya bank”. Secara sederhana Freire menyusun daftar antagonisme antaraguru dan murid, yaitu: Guru mengajar, murid belajar; Guru tahusegalanya, murid tak tahu apa-apa; Guru berpikir, murid dipikirkan;Guru bicara, murid mendengarkan; Guru mengatur, murid diatur; Guruadalah subyek proses belajar, murid obyeknya; dan sebagainya. Haldemikian sering terjadi di dunia pendidikan kita. Guru dan dosenmenjelma menjadi manusia “asing” bukan lagi sebagai fartner murid-muriddalam proses belajar mengajar yang demokratis dan membebaskan.

Belum lama ini beberapa kepala sekolah dan beberapa pihak anggotadinas pendidikan di salah satu Kabupaten di Riau mengadakan studibanding tentang KBS dan KBK di tiga negara yaitu Malaysia, Thailand,dan Singapura. Yang lucu ketika pulang dari tiga negara yang dikunjungiitu ternyata sebagian guru cuma membawa mainan kunci, salak pondo, danmangga yang diawetkan ke sekolahnya. Kan mendingan sebuah buku ataucerita kiat sukses pendidikan di negara-negara itu sambil membuatlaporannya dalam bentuk tulisan di media massa ketimbang membawa mainankunci?

Sederet kisah perilaku tenaga pendidik kita ternyata belum usai. Diperguruan tinggi terutama dalam proses pembuatan skripsi, ada sebagiandosen pembimbing yang acuh, bahkan ada yang berkata kepada mahasiswabimbingannya: “Saya butuh kamu atau kamu butuh saya!”. Sehingga dosenyang jarang tampak di kampus itu harus ditunggu dan dicari kesana-sini. Bukankah seharusnya, sebagai dosen pembimbing sebaiknyamempermudah urusan skripsi yang dibuat sebagai rasa tanggung jawabterhadap amanah.

Persoalan ini pernah disinggung (atau diakui) oleh Ali Khomsan (gurubesar IPB) dalam tulisannya Strategi Percepatan Pendidikan Pascasarjana(Republika, 13 Februari 2002). Ali mengatakan, salah satu kelemahandalam proses pembimbingan mahasiswa selama ini, adalah kurangnyamonitoring dosen pembimbing terhadap mahasiswanya. Seolah-olahmahasiswa sendiri yang harus bertanggung jawab apakah ingin lulus tepatwaktu atau mau berlama-lama di kampus. Kalau mahasiswa tidak datangkepadanya, dosen merasa tidak rugi karena justru waktunya bisadigunakan untuk kegiatan yang lain. Padahal, kemampuan meluluskanmahasiswa secara tepat waktu adalah komitmen yang harus dipegang olehsemua dosen pembimbing.

Ali menceritakan pengalamannya ketika studi S3 di Amerika. Bahwapembimbingnya rela mengendarai mobil sejauh 100 km untukmengantarkannya ke suatu tempat untuk mencari data sekunder yangdibutuhkannya. Selanjutnya jadwal konsultasi selalu tepat waktu dandiberikan secara luas. Lalu bagaimana di Indonesia? Jangankan tepatwaktu, jadwal untuk konsultasi saja terkadang tidak diberikan. Sehinggaacapkali mahasiswa menunggu pembimbingnya berjam-jam di kampus.

Meningkatkan kualitas guru atau dosen dan memperhatikankesejahteraan hidup para “Umar Bakri”, adalah kunci lain untuk mencapaidunia pendidikan yang bermutu. Tesis ini diyakini oleh banyak negara,seperti Australia. Ketika para menteri pendidikan negara-negara bagianAustralia berkumpul di Adelaide, mereka sepakat untuk konteks miliniumke-3 akan membangun bangsa dengan cara peningkatan kualitas pendidikanyang dimulai dengan meningkatkan keprofesionalan guru. Oleh sebab itudi Australia guru sangat dihargai, dan gajinya sangat memadai. Sehinggabanyak master dan doktor tidak malu-malu menjadi guru (bukan dosen)untuk mengajar di tingkat sekolah menengah atau sekolah dasar (SD)sekalipun. Begitu juga di Jepang, masyarakat dan pemerintahan Jepangsangat menghargai dan menghormati keberadaan guru di negaranya.

Musuh kita

Kebodohan, kemiskinan, pengangguran dan tindak kejahatan adalahmusuh utama kita dan persoalan besar. Oleh sebab itu harus ditanganisecara ‘besar’, transparan, profesional, serta tepat sasaran. Terutamapada sektor pendidikan. Bila tidak peningkatan kualitas manusia ini danusaha mencapai ke arah itu akan tetap berjalan ditempat. Kemudianteknologi dan informasi, atau penyediaan infrastruktur sepertikelancaran jalan dan komunikasi, adalah persoalan besar pula. Sebabitu, aspek ini sesekali jangan pula diabaikan. Bila diabaikan kita akankembali berada dalam sebuah “lingkaran setan” yang menyesatkan. Semogatidak. Wallahua’lam.

 


Categories: Ulasan

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments