BIMBINGAN DAN KONSELING

SMA NEGERI 20 SURABAYA

Jl. Medokan Semampir No.119 Sukolilo Kota Surabaya Kode POS 60119
No.Telp. 031 593 5720 Faxmile. 031 591 0817
E-Mail : [email protected]

Daftar Isi Post New Entry

PERAN GURU KELAS DALAM PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR

Posted by adminbk on May 15, 2011 at 6:41 PM

Judul: PERAN GURU KELAS DALAM PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR

Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.

Nama & E-mail (Penulis): Rustantiningsih

Saya Guru di SDN Anjasmoro Semarang

Topik: Bimbingan Konseling

Tanggal: 8 Juli 2008 PERAN GURU KELAS DALAM PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR

Oleh: Rustantiningsih

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional no. 20 tahun 2003 pasal 3dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuandan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalamrangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnyapotensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwakepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis sertabertanggung jawab.

Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional maka dirumuskantujuan pendidikan dasar yakni memberi bekal kemampuan dasar kepadasiswa untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggotamasyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkansiswa untuk mengikuti pendidikan menengah (pasal 3 PP nomor 28 tahun1990 tentang Pendidikan Dasar).

Pendidikan dasar merupakan pondasi untuk pendidikanselanjutnya dan pendidikan nasional. Untuk itu aset suatu bangsa tidakhanya terletak pada sumber daya alam yang melimpah, tetapi terletakpada sumber daya alam yang berkualitas. Sumber daya alam yangberkualitas adalah sumber daya manusia, maka diperlukan peningkatansumber daya manusia Indonesia sebagai kekayaan negara yang kekal dansebagai investasi untuk mencapai kemajuan bangsa.

Bimbingan konseling adalah salah satu komponen yang pentingdalam proses pendidikan sebagai suatu sistem. Hal ini sesuai dengan apayang dikemukakan oleh Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang bahwa prosespendidikan adalah proses interaksi antara masukan alat dan masukanmentah. Masukan mentah adalah peserta didik, sedangkankan masukan alatadalah tujuan pendidikan, kerangka, tujuan dan materi kurikulum,fasilitas dan media pendidikan, system administrasi dan supervisipendidikan, sistem penyampaian, tenaga pengajar, sistem evaluasi sertabimbingan konseling (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990:58).

Bimbingan merupakan bantuan kepada individu dalam menghadapipersoalan-persoalan yang dapat timbul dalam hidupnya. Bantuan semacamitu sangat tepat jika diberikan di sekolah, supaya setiap siswa lebihberkembang ke arah yang semaksimal mungkin. Dengan demikian bimbinganmenjadi bidang layanan khusus dalam keseluruhan kegiatan pendidikansekolah yang ditangani oleh tenaga-tenaga ahli dalam bidang tersebut.

Di Sekolah Dasar, kegiatan Bimbingan Konseling tidak diberikanoleh Guru Pembimbing secara khusus seperti di jenjang pendidikan SMPdan SMA. Guru kelas harus menjalankan tugasnya secara menyeluruh, baiktugas menyampaikan semua materi pelajaran (kecuali Agama dan Penjaskes)dan memberikan layanan bimbingan konseling kepada semua siswa tanpaterkecuali.

Dalam konteks pemberian layanan bimbingan konseling, Prayitno(1997:35-36) mengatakan bahwa pemberian layanan bimbingan konselingmeliputi layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran,pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan konselingkelompok.

Guru Sekolah Dasar harus melaksanakan ketujuh layanan bimbingankonseling tersebut agar setiap permasalahan yang dihadapi siswa dapatdiantisipasi sedini mungkin sehingga tidak menggangu jalannya prosespembelajaran. Dengan demikian siswa dapat mencapai prestasi belajarsecara optimal tanpa mengalami hambatan dan permasalahan pembelajaranyang cukup berarti.

Realitas di lapangan, khususnya di Sekolah Dasar menunjukkanbahwa peran guru kelas dalam pelaksanaan bimbingan konseling belumdapat dilakukan secara optimal mengingat tugas dan tanggung jawab gurukelas yang sarat akan beban sehingga tugas memberikan layanan bimbingankonseling kurang membawa dampak positif bagi peningkatan prestasibelajar siswa.

Selain melaksanakan tugas pokoknya menyampaikan semua matapelajaran, guru SD juga dibebani seperangkat administrasi yang harusdikerjakan sehingga tugas memberikan layanan bimbingan konseling belumdapat dilakukan secara maksimal. Walaupun sudah memberikan layananbimbingan konseling sesuai dengan kesempatan dan kemampuan, namunagaknya data pendukung yang berupa administrasi bimbingan konselingjuga belum dikerjakan secara tertib sehingga terkesan pemberian layananbimbingan konseling di SD "asal jalan".

Dalam Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang BimbinganKonseling tersirat bahwa suatu sistem layanan bimbingan dan konselingberbasis kompetensi tidak mungkin akan tercipta dan tercapai denganbaik apabila tidak memiliki sistem pengelolaan yang bermutu. Artinya,hal itu perlu dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Untukitu diperlukan guru pembimbing yang profesional dalam mengelolakegiatan Bimbingan Konseling berbasis kompetensi di sekolah dasar.

Berdasar latar belakang tersebut di atas, penulis tergerakuntuk melakukan telaah mengenai peran guru kelas dalam pelaksanaanBimbingan Konseling di Sekolah Dasar.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka persoalan mendasar yanghendak ditelaah dalam makalah ini adalah bagaimana peran guru kelasdalam pelaksanaan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar?

B. PEMBAHASAN

1. Hakikat Bimbingan dan Konsling di SD

M. Surya (1988:12) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatuproses pemberian atau layanan bantuan yang terus menerus dan sistematisdari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai perkembangan yangoptimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan.

Bimbingan ialah penolong individu agar dapat mengenal dirinyadan supaya individu itu dapat mengenal serta dapat memecahkanmasalah-masalah yang dihadapi di dalam kehidupannya (Oemar Hamalik,2000:193).

Bimbingan adalah suatu proses yang terus-menerus untukmembantu perkembangan individu dalam rangka mengembangkan kemampuannyasecara maksimal untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya, baikbagi dirinya maupun bagi masyarakat (Tim Pengembangan MKDK IKIPSemarang, 1990:11).

Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik sebuah inti saribahwa bimbingan dalam penelitian ini merupakan suatu bentuk bantuanyang diberikan kepada individu agar dapat mengembangkan kemampuannyaseoptimal mungkin, dan membantu siswa agar memahami dirinya (selfunderstanding), menerima dirinya (self acceptance), mengarahkan dirinya(self direction), dan merealisasikan dirinya (self realization).

Konseling adalah proses pemberian yang dilakukan melaluiwawancara konseling oleh seorang ahli kepada individu yang sedangmengalami suatu masalah yang bermuara pada teratasinya masalah yangdihadapi oleh klien (Prayitno, 1997:106).

Konseling merupakan upaya bantuan yang diberikan kepadaseseorang supaya dia memperoleh konsep diri dan kepercayaan pada dirisendiri, untuk dimanfaatkan olehnya dan memperbaiki tingkah lakunyapada masa yang akan datang (Mungin Eddy Wibowo, 1986:39).

Dari pengertin tersebut, dapat penulis sampaikan ciri-ciri pokok konseling, yaitu:

(1) adanya bantuan dari seorang ahli,

(2) proses pemberian bantuan dilakukan dengan wawancara konseling,

(3)bantuan diberikan kepada individu yang mengalami masalah agarmemperoleh konsep diri dan kepercayaan diri dalam mengatasi masalahguna memperbaiki tingkah lakunya di masa yang akan datang.

2. Perlunya Bimbingan dan Konseling di SD

Jika ditinjau secara mendalam, setidaknya ada tiga hal utama yangmelatarbelangi perlunya bimbingan yakni tinjauan secara umum, sosiokultural dan aspek psikologis. Secara umum, latar belakang perlunyabimbingan berhubungan erat dengan pencapaian tujuan pendidikannasional, yaitu: meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesiayaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa,berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras,tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehatjasmani dan rohani.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut sudah barang tentu perlumengintegrasikan seluruh komponen yang ada dalam pendidikan, salahsatunya komponen bimbingan.

Bila dicermati dari sudut sosio kultural, yang melatar belakangiperlunya proses bimbingan adalah adanya perkembangan ilmu pengetahuandan teknologi yang pesat sehingga berdampak disetiap dimensi kehidupan.Hal tersebut semakin diperparah dengan laju pertumbuhan penduduk yangtinggi, sementara laju lapangan pekerjaan relatif menetap.

Menurut Tim MKDK IKIP Semarang (1990:5-9) ada lima hal yang melatarbelakangi perlunya layanan bimbingan di sekolah yakni:

(1) masalah perkembangan individu,

(2) masalah perbedaan individual,

(3) masalah kebutuhan individu,

(4) masalah penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku, dan

(5) masalah belajar

3. Fungsi Bimbingan dan Konseling di SD

Sugiyo dkk (1987:14) menyatakan bahwa ada tiga fungsi bimbingan dan konseling, yaitu:

a. Fungsi penyaluran ( distributif )

Fungsi penyaluran ialah fungsi bimbingan dalam membantumenyalurkan siswa-siswa dalam memilih program-program pendidikan yangada di sekolah, memilih jurusan sekolah, memilih jenis sekolahsambungan ataupun lapangan kerja yang sesuai dengan bakat, minat,cita-cita dan ciri- ciri kepribadiannya. Di samping itu fungsi inimeliputi pula bantuan untuk memiliki kegiatan-kegiatan di sekolahantara lain membantu menempatkan anak dalam kelompok belajar, danlain-lain.

b. Fungsi penyesuaian ( adjustif )

Fungsi penyesuaian ialah fungsi bimbingan dalam membantu siswauntuk memperoleh penyesuaian pribadi yang sehat. Dalam berbagai teknikbimbingan khususnya dalam teknik konseling, siswa dibantu menghadapidan memecahkan masalah-masalah dan kesulitan-kesulitannya. Fungsi inijuga membantu siswa dalam usaha mengembangkan dirinya secara optimal.

c. Fungsi adaptasi ( adaptif )

Fungsi adaptasi ialah fungsi bimbingan dalam rangka membantu stafsekolah khususnya guru dalam mengadaptasikan program pengajaran denganciri khusus dan kebutuhan pribadi siswa-siswa. Dalam fungsi inipembimbing menyampaikan data tentang ciri-ciri, kebutuhan minat dankemampuan serta kesulitan-kesulitan siswa kepada guru. Dengan data iniguru berusaha untuk merencanakan pengalaman belajar bagi para siswanya.Sehingga para siswa memperoleh pengalaman belajar yang sesuai denganbakat, cita-cita, kebutuhan dan minat (Sugiyo, 1987:14)

4. Prinsip-prinsip Bimbingan Konseling di SD

Prinsip merupakan paduan hasil kegiatan teoretik dan telaahlapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yangdimaksudkan (Prayitno, 1997:219). Berikut ini prinsip-prinsip bimbingankonseling yang diramu dari sejumlah sumber, sebagai berikut:

a. Sikap dan tingkah laku seseorang sebagai pencerminan darisegala kejiwaannya adakah unik dan khas. Keunikan ini memberikan ciriatau merupakan aspek kepribadian seseorang. Prinsip bimbingan adalahmemperhatikan keunikan, sikap dan tingkah laku seseorang, dalammemberikan layanan perlu menggunakan cara-cara yang sesuai atau tepat.

b. Tiap individu mempunyai perbedaan serta mempunyai berbagaikebutuhan. Oleh karenanya dalam memberikan bimbingan agar dapat efektifperlu memilih teknik-teknik yang sesuai dengan perbedaan dan berbagaikebutuhan individu.

c. Bimbingan pada prinsipnya diarahkan pada suatu bantuan yang padaakhirnya orang yang dibantu mampu menghadapi dan mengatasi kesulitannyasendiri.

d. Dalam suatu proses bimbingan orang yang dibimbing harusaktif , mempunyai bayak inisiatif. Sehingga proses bimbingan padaprinsipnya berpusat pada orang yang dibimbing.

e. Prinsip referal atau pelimpahan dalam bimbingan perludilakukan. Ini terjadi apabila ternyata masalah yang timbul tidak dapatdiselesaikan oleh sekolah (petugas bimbingan). Untuk menangani masalahtersebut perlu diserahkan kepada petugas atau lembaga lain yang lebihahli.

f. Pada tahap awal dalam bimbingan pada prinsipnya dimulaidengan kegiatan identifikasi kebutuhan dan kesulitan-kesulitan yangdialami individu yang dibimbing.

g. Proses bimbingan pada prinsipnya dilaksanakan secarafleksibel sesuai dengan kebutuhan yang dibimbing serta kondisilingkungan masyarakatnya.

h. Program bimbingan dan konseling di sekolah harus sejalandengan program pendidikan pada sekolah yang bersangkutan. Hal inimerupakan keharusan karena usaha bimbingan mempunyai peran untukmemperlancar jalannya proses pendidikan dalam mencapai tujuanpendidikan.

i. Dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolahhendaklah dipimpin oleh seorang petugas yang benar-benar memilikikeahlian dalam bidang bimbingan. Di samping itu ia mempunyaikesanggupan bekerja sama dengan petugas-petugas lain yang terlibat.

j. Program bimbingan dan konseling di sekolah hendaknyasenantiasa diadakan penilaian secara teratur. Maksud penilaian iniuntuk mengetahui tingkat keberhasilan dan manfaat yang diperoleh daripelaksanaan program bimbingan. Prinsip ini sebagai tahap evaluasi dalamlayanan bimbingan konseling nampaknya masih sering dilupakan. Padahalsebenarnya tahap evaluasi sangat penting artinya, di samping untukmenilai tingkat keberhasilan juga untuk menyempurnakan program danpelaksanaan bimbingan dan konseling (Prayitno, 1997:219).

5. Kegiatan BK dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi

Berdasakan Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidangBimbingan Konseling (2004) dinyatakan bahwakerangka kerja layanan BKdikembangkan dalam suatu program BK yang dijabarkan dalam 4 (empat)kegiatan utama, yakni:

a. Layanan dasar bimbingan

Layanan dasar bimbingan adalah bimbingan yang bertujuan untukmembantu seluruh siswa mengembangkan perilaku efektif danketrampilan-ketrampilan hidup yang mengacu pada tugas-tugasperkembangan siswa SD.

b. Layanan responsif adalah layanan bimbingan yang bertujuanuntuk membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting olehpeserta didik saat ini. Layanan ini lebih bersifat preventik ataumungkin kuratif. Strategi yang digunakan adalah konseling individual,konseling kelompok, dan konsultasi. Isi layanan responsif adalah:

(1) bidang pendidikan;

(2) bidang belajar;

(3)bidang sosial;

(4) bidang pribadi;

(5) bidang karir;

(6) bidang tata tertib SD;

(7) bidang narkotika dan perjudian;

(8) bidang perilaku sosial, dan

(9)bidang kehidupan lainnya.

c. Layanan perencanaan individual adalah layanan bimbingan yangmembantu seluruh peserta didik dan mengimplementasikan rencana-rencanapendidikan, karir,dan kehidupan sosial dan pribadinya. Tujuan utamadari layanan ini untuk membantu siswa memantau pertumbuhan dan memahamiperkembangan sendiri.

d. Dukungan sistem, adalah kegiatan-kegiatan manajemen yangbertujuan memantapkan, memelihara dan meningkatkan progam bimbingansecara menyeluruh. Hal itu dilaksanakan melalui pengembangaanprofesionalitas, hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru,staf ahli/penasihat, masyarakat yang lebih luas, manajemen program,penelitian dan pengembangan (Thomas Ellis, 1990)

Kegiatan utama layanan dasar bimbingan yang responsif danmengandung perencanaan individual serta memiliki dukungan sistem dalamimplementasinya didukung oleh beberapa jenis layanan BK, yakni:

(1) layanan pengumpulan data,

(2) layanan informasi,

(3) layanan penempatan,

(4) layanan konseling,

(5) layanan referal/melimpahkan ke pihak lain, dan

(6) layanan penilaian dan tindak lanjut (Nurihsan, 2005:21).

6. Peran Guru Kelas dalam Kegiatan BK di SD

Implementasi kegiatan BK dalam pelaksanaan Kurikulum BerbasisKompetensi sangat menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar. Olehkarena itu peranan guru kelas dalam pelaksanaan kegiatan BK sangatpenting dalam rangka mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran yangdirumuskan.

Sardiman (2001:142) menyatakan bahwa ada sembilan peran guru dalam kegiatan BK, yaitu:

a. Informator, guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajarinformatif, laboratorium, studi lapangan, dan sumber informasi kegiatanakademik maupun umum.

b. Organisator, guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran dan lain-lain.

c. Motivator, guru harus mampu merangsang dan memberikan dorongan sertareinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya(aktivitas) dan daya cipta (kreativitas) sehingga akan terjadi dinamikadi dalam proses belajar-mengajar.

d. Director, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.

e. Inisiator, guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar-mengajar.

f. Transmitter, guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan dalam pendidikan dan pengetahuan.

g. Fasilitator, guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-mengajar.

h. Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.

i. Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasianak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya,sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak.

C. PENUTUP

1. Simpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru kelasdalam pelaksanaan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar sangat pentingsekali. Sejalan diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi, gurukelas mempunyai peran yang sentral dalam kegiatan BK. Peran tersebutmencakupi peran sebagai informator, organisator, motivator, director,inisiator, transmitter, fasilitator, mediator, dan evaluator. Perantersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, namun merupakan sebuahsistem yang saling melengkapi dalam kegiatan Bimbingan dan Konseling diSekolah Dasar.

2. Saran

Mewujudkan peran guru kelas dalam pelaksanaan kegiatan BK di SDbukanlah hal yang mudah. Hal tersebut dikarenakan, di SD tidak memilikiGuru Pembimbing. Guru kelas memiliki tanggung jawab ganda, di sampingmengajar juga membimbing. Oleh karena itu, guru kelas hendaknyameningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pelaksanaan kegiatan BKsehingga memiliki wawasan yang mendalam terhadap kegiatan-kegiatan BKdi Sekolah Dasar.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2004. Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang Bimbingan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas.

M. Surya. 1988. Pengantar Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta : UT.

Mungin Eddy Wibowo. 1986. Konseling di Sekolah Jilid I. FIP IKIP Semarang.

Nurihsan, Juntika. 2005. Manajemen Bimbingan Konseling di SD Kurikulum 2004. Jakarta: Gramedia Widiasaraan Indonesia.

Oemar Hamalik. 2000. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

PP nomor 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar. Jakarta: Dedpikbud.

Prayitno Erman Amti. 1997. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Depdikbud.

Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sugiyo, dkk. 1987. Bimbingan dan Konseling Sekolah. Semarang: FIP IKIP Semarang.

Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang. 1990. Bimbingan dan Konseling Sekolah. Semarang: IKIP Semarang Press.

UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Tamita Jaya Utama

Winkel, 1991, Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta : Alfabeta, Ground


Categories: Bahan Umum

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments