BIMBINGAN DAN KONSELING

SMA NEGERI 20 SURABAYA

Jl. Medokan Semampir No.119 Sukolilo Kota Surabaya Kode POS 60119
No.Telp. 031 593 5720 Faxmile. 031 591 0817
E-Mail : [email protected]

Daftar Isi Post New Entry

Manajemen Pendidikan Dalam Menghadapi Kreativitas Anak

Posted by adminbk on May 15, 2011 at 6:55 PM

Banyak kalangan yang belum puas dengan kualitas pendidikan di negarakita. Tentunya kita tidak jarang mendengarkan ungkapan-ungkapanseperti: “pendidikan negara kita belum berkualitas”, “pendidikan diIndonesia telah tertinggal jauh dari negara-negara lain”, “kapan kitaakan maju kalau pendidikan kita berjalan di tempat”, dan lainsebagainya.Para ahli pendidikan telah sepakat bahwa suatu sistem pendidikandapat dikatakan berkualitas, apabila proses kegiatan belajar-mengajarberjalan secara menarik dan menantang sehingga peserta didik dapatbelajar sebanyak dan sebaik mungkin melalu proses belajar yangberkelanjutan. Proses pendidikan yang bermutu akan menghasilkan hasliyang bermutu serta relevan dengan perkembangan zaman. Agar terwujudsebuah pendidikan yang bermutu dan efisien, maka perlu disusun dandilaksanakan program-program pendidiakn yang mampu membelajarkanpeserta didik secara berkelanjutan, karena dengan mutu pedidikan yangoptimal, diharapkan akan menghasilkan keungugulan smber daya manusiayang dapat menguasai pengetahuan, keterampilan dan keahlian sesuaidengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang secarapesat.

Untuk dapat mencapai sebuah pendidikan yang berkualitas diperlukanmanajemen pedidikan yang mampu memobilisasi segala sumber dayapendidikan. Di antaranya adalah manajemen peserta didik yang isinyamerupakan pengelolaan dan juga pelaksanaannya. Masih banyak kitatemukan fakta-fakta di lapangan sistem pengelolaan anak didik yangmasih mengunakan cara-cara konvensional dan lebih menekankanpengembangan kecerdasan dalam arti yang sempit dan tentunya kurangmmberi perhatian kepada pengembangan bakat kreatif peserta didik.Padahal Kreativitas disamping bermanfaat untuk pengembangan diri anakdidik juga merupakan kebutuhan akan perwujudan diri sebagai salah satukebutuhan paling tinggi bagi manusia. Kreativitas adalah prosesmerasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentangkekurangan, menilai dan meguji dugaan atau hipotesis, kemudianmengubahnya dan mengujinya lagi sampai pada akhirnya menyampaikanhasilnya. Dengan adanya kreativitas yang diimplementasiakan dalamsistem pembelajaran, peserta didik nantinya diharapkan dapat menemukanide-ide yang berbeda dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehinggaide-ide kaya yang progresif dan divergen pada nantinya dapat bersaingdalam kompetisi global yang selalu berubah.

Perubahan kualitas yang seimbang baik fisik maupun mental merupakanidikasi dari perkambangan anak didik yang baik. Tidak ada satu aspekperkambangan dalam diri anak didik yang dinilai lebih penting dari yanglainnya. Oleh itu tidaklah salah bila teori kecerdasan majmuk yangdiutarakan oleh Gardner dinilai dapat memenuhi kecenderunganperkambangan anak didik yang bervariasi.

Maka penyelenggaraan pendidikan saat ini harus diupayakan untukmemberikan pelayanan khusus kepada peserta didik yang mempunyaikreativitas dan juga keberbakatan yang berbeda agar tujuan pendidikandapat diarahkan menjadi lebih baik.

Muhibbin Syah menjelaskan bahwa akar kata dari pendidikan adalah“didik” atau “mendidik” yang secara harfiah diartikan memelihara danmemberi latihan. Sedangkan “pendidikan”, merupakan tahapan-tahapankegiatan mengubah sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orangmelalui upaya pelatihan dan pengajaran. Hal ini mengindikasikan bahwapendidikan tidak dapat lepas dari pengajaran. Kegiatan dari pengajaranini melibatkan peserta didik sebagai penerima bahan ajar dengan maksudakhir dari semua hal ini sesuai yang diamanatkan dalam undang-undangno. 20 tentang sisdiknas tahun 2003; agar peserta didik secara aktifmengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritualkeagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, sertaketerampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam pdidikan, peserta didik merupakan titik fokus yang strategiskarena kepadanyalah bahan ajar melalu sebuah proses pengajarandiberikan. Dan sudah mafhum bahwa peserta didik memiliki kekurangan dankelebihannya masing-masing, mereka unik dengan seluruh potensi dankapasitas yang ada pada diri mereka dan keunikan ini tidak dapatdiseragamkan dengan satu aturan yang sama antara pesrta didik yang satudengan peserta didik yang lain. Para pendidik dan lembaga pendidikanharus menghargai perbedaan yang ada pada mereka. Keunikan yang terjadipada peserta didik memang menimbulkan satu permasalahan tersendiri yangharus diketahui dan dipecahkan sehingga pengelolaan murid (pesertadidik) dalam satu kerangka kerja yang terpadu mutlak diperhatikan,terutama pertimbangan pada pengembangan kreativitas, hal ini harusmenjadi titik perhatian karena sistem pendidikan memang masih diakuilebih menekankan pengembangan kecerdasan dalam arti yang sempit dankurang memberikan perhatian kepada pengembangan kreatif peserta didik.Hal ini terjadi dari konsep kreativitas yang masih kurang dipahamisecara holistic, juga filsafat pendidikan yang sejak zaman penjajahanbermazhabkan azas tunggal seragam dan berorientasi padakepentingan-kepentingan, sehingga pada akhirnya berdampak pada caramengasuh, mendidik dan mengelola pembelajaran peserta didik.

Kebutuhan akan kreativitas tampak dan dirasakan pada semua kegiatanmanusia. Perkembangan akhir dari kreativitas akan terkait dengan empataspek, yaitu: aspek pribadi, pendorong, proses dan produk. Kreativitasakan muncul dari interaksi yang unik dengan lingkungannya.Kreativitasadalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaantentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan mengujinya. Proseskreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan (motivasiintristik) maupun dorongan eksternal. Motivasi intrinstik ini adalahintelegensi, memang secara historis kretivitas dan keberbakatandiartikan sebagai mempunyai intelegensi yang tinggi, dan tesintellejensi tradisional merupakan ciri utama untuk mengidentifikasikananak berbakat intelektual tetapi pada akhirnya hal inipun menjadimasalah karena apabila kreativitas dan keberbakatan dilihat dariperspektif intelejensi berbagai talenta khusus yang ada pada pesertadidik kurang diperhatikan yang akhirnya melestarikan dan mengembangbiakkan Pendidikan Tradisional Konvensional yang berorientasi dansangat menghargai kecerdasan linguistik dan logika matematik. Padahal,Teori psikologi pendidikan terbaru yang menghasilkan revolusi paradigmapemikiran tentang konsep kecerdasan diajukan oleh Prof. Gardner yangmengidentifikasikan bahwa dalam diri setiap anak apabila dirinyaterlahir dengan otak yang normal dalam arti tidak ada kerusakan padasusunan syarafnya, maka setidaknya terdapat delapan macam kecerdasanyang dimiliki oleh mereka.

Undang-undang No.20 tentang sistem pendidikan nasional 2003,perundangan itu berbunyi ” warga negara yang memiliki kelainan fisik,emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperolehpendidikan khusus”. Baik secara tersurat ataupun tersirat UU No.20tersebut telah mengamanatkan untuk adanya pengelolaan pelayanan khusubagi anak-anak yang memiliki bakat dan kreativitas yang tinggi.

Pengertian dari pendidikan khusus disini merupakan penyelenggaraanpendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yangmemiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusifatau berupa satuan pendidikan-pendidikan khusus pada tingkat pendidikandasar dan menengah. Pada akhirnya memang diperlukan adanya suatu usaharasional dalam mengatur persoalan-persoalan yang timbul dari pesertadidik karena itu adanya suatu manajemen peserta didik merupakan halyang sangat penting untuk diperhatikan.

Siswa berbakat di dalam kelas mungkin sudah menguasai materi pokokbahasan sebelum diberikan. Mereka memiliki kemampuan untuk belajarketerampilan dan konsep pembelajaran yang lebih maju. Untuk menunjangkemajuan peserta didik diperlukan modifikasi kurikulum. Kurikulumsecara umum mencakup semua pengalaman yang diperoleh peserta didik disekolah, di rumah, dan di dalam masyarakat dan yang membantunyamewujudkan potensi-potensi dirinya. Jika kurikulum umum bertujuan untukdapat memenuhi kebutuhan pendidikan pada umumnya, maka saat iniharuslah diupayakan penyelenggaraan kurikulum yang berdiferensi untukmemberikan pelayanan terhadap perbedaan dalam minat dan kemampuanpeserta didik. Dalam melakukan kurikulum yang berbeda terhadap pesertadidik yang mempunyai potensi keberbakatan yang tinggi, guru dapatmerencanakan dan menyiapkan materi yang lebih kompleks, menyiapkanbahan ajar yang berbeda, atau mencari penempatan alternatif bagi siswa.Sehingga setiap peserta didik dapat belajar menurut kecepatannyasendiri.

Dalam paradigma berpikir masyarakat Indonesia tentang kreativitas,cukup banyak orangtua dan guru yang mempunyai pandangan bahwakreativitas itu memerlukan iklim keterbukaan dan kebebasan, sehinggamenimbulkan konflik dalam pembelajaran atau pengelolaan pendidikan,karena bertentangan dengan disiplin. Cara pandang ini sangatlah tidaktepat. Kreativitas justru menuntut disiplin agar dapat diwujudkanmenjadi produk yang nyata dan bermakna. Displin disini terdiri daridisiplin dalam suatu bidang ilmu tertentu karena bagaimanapunkreativitas seseorang selalu terkait dengan bidang atau domaintertentu, dan kreativitas juga menuntut sikap disiplin internal untuktidak hanya mempunyai gagasan tetapi juga dapat sampai pada tahapmengembangkan dan memperinci suatu gagasan atau tanggungjawab sampaituntas.

Suatu yang tidak terbantahkan jika masa depan membutuhkan generasiyang memiliki kemampuan menghadapi tantangan dan perubahan yang terjadidalam era yang semakin mengglobal. Tetapi penyelenggaraan pendidikan diIndonesia saat ini belum mempersiapkan para peserta didik dengankemampuan berpikir dan sikap kreatif yang sangat menentukankeberhasilan mereka dalam memecahkan masalah.

Kebutuhan akan kreativitas dalam penyelenggaraan pendidikan dewasaini dirasakan merupakan kebutuhan setiap peserta didik. Dalam masapembangunan dan era yang semakin mengglobal dan penuh persaingan inisetiap individu dituntut untuk mempersiapkan mentalnya agar mampumenghadapi tantangan-tantangan masa depan. Oleh karena itu,pengembangan potensi kreatif yang pada dasarnya ada pada setiap manusiaterlebih pada mereka yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasaperlu dimulai sejak usia dini, Baik itu untuk perwujudan diri secarapribadi maupun untuk kelangsungan kemajuan bangsa.

Dalam pengembangan bakat dan kreativitas haruslah bertolak darikarakteristik keberbakatan dan juga kreativitas yang perlu dioptimalkanpada peserta didik yang meliputi ranah kognitif, afektif, danpsikomotor. Motivasi internal ditumbuhkan dengan memperhatikan bakatdan kreativitas individu serta menciptakan iklim yang menjaminkebebasan psikologis untuk ungkapan kreatif peserta didik di lingkunganrumah, sekolah, dan masyarakat.

Merupakan suatu tantangan bagi penyelenggaraan pendidikan diIndonesia untuk dapat membina serta mengembangkan secara optimal bakat,minat, dan kemampuan setiap peserta didik sehingga dapat mewujudkanpotensi diri sepenuhnya agar nantinya dapat memberikan sumbangan yangbermakna bagi pembangunan masyarakat dan negara. Teknik kreatif ataupuntaksonomi belajar pada saat ini haruslah berfokus pada pengembanganbakat dan kreativitas yang diterapkan secara terpadu danberkesinambungan pada semua mata pelajaran sesuai dengan konsepkurikulum berdiferensi untuk siswa berbakat. Dengan demikian diharapkannantinya akan dihasilkan produk-produk dari kreativitas itu sendiridalam bidang sains, teknologi, olahraga, seni dan budaya. Amin

Daftar Pustaka

_________ Depdikanas, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun2003 Tentang Pendidikan Nasional, Jakarta: Depdiknas, 2003.

Tilaar, Manajemen Pendidikan nasional ; Kajian Pendidikan Masa Depan, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1992.

Munandar, Utami, Kreativitas dan Keberbakatan; Strategi MewujudkanPotensi Kreatif dan Bakat, Jakarta : PT. Gramedia Pusataka Utama, 1999.

Husen dan Torsten, The Learning Society : Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada 1995.

Syah,Muhibbin, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Terbaru, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 1999.

Gordon Dryden dan Jeannette Voss, Revolusi Cara Belajar bag.1, Bandung : Kaifa 2000

 


Categories: Ulasan

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

7 Comments

Reply MichaelDug
4:09 AM on October 11, 2017 
http://levitrafromuzaz.com - nuclear chemical biological warfare specialist
, hello and buy!, hello and buy!
Reply MichaelDug
6:39 AM on October 12, 2017 
http://cialisnewpilles367.com - specialism courses
, hello and buy!, hello and buy!
Reply MichaelDug
2:46 AM on October 13, 2017 
http://onlinenewpharma365.com - alprazolam formula
, hello and buy!, hello and buy!
Reply MichaelDug
3:46 AM on October 13, 2017 
http://onlinenewpharma365.com - codeine online pharmacy s6nm
, hello and buy!, hello and buy!
Reply MichaelDug
6:04 AM on October 13, 2017 
http://onlinenewpharma365.com - dosage of amoxicillin for flu
, hello and buy!, hello and buy!
Reply MichaelDug
7:20 AM on October 13, 2017 
http://onlinenewpharma365.com - sweedon capitalism socialism
, hello and buy!, hello and buy!
Reply MichaelDug
7:46 AM on October 17, 2017 
http://verynicelevitratab.net - buy research proposal ghostwriting website for phd,best buy essay proofreading for hire uk,order persuasive essay writers services us